Kesabaran Abdullah bin Hudzafah

Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais radhiyallahu ‘anhu ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka kan melihat kedudukan yang mulia dan laki-laki yang agung.

Umar bin Khattab radhiayallahu ‘anhu memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata: “Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” Raja Romawi berkata: “Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?” Abdullah bin Hudzafah menjawab: “Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam sekejap mata pun.” Raja Romawi berkata: “Kalau begitu, aku akan membunuhmu.” Ia menjawab: “Silahkan saja!” More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 9.5/10 (15 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +19 (from 19 votes)

Hati yang Paling Jauh dari Allah

Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya di dalam hati terdapat ruang kosong dan kekurangan yang tak dapat diisi oleh suatupun kecuali Allah, terdapat sesuatu yang kusut yang tidak dapat diurai kecuali dengan pendekatan diri kepada Allah, terdapat penyakit yang tak dapat disembuhkan selain dengan sikap ikhlas dan beribadah hanya kepada-Nya. Tidaklah seorang hamba dihukum dengan sesuatu yang lebih berat dari kekerasan hati dan keterjauhan dari Allah. Sungguh api itu diciptakan untuk melunakkan hati yang kasar. Sesungguhnya hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras, dan sebagaimana  diketahui, bilamana hati telah mengeras, maka air mata sulit mengalir dan mata menjadi kering (Tidak mudah menangis). Ia terasa berat mengalirkan air mata baik di saat berdzikir, takut kepada Allah ataupun ketika tunduk bersimpuh di hadapan Allah. More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 8.9/10 (15 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +23 (from 25 votes)

Keutamaan Tauhid

Tauhid adalah tujuan diciptakannya alam semesta. Tauhid adalah ajaran keselamatan yang dibawa oleh para nabi. Tak seorang nabi pun melainkan menyeru umatnya kepada tauhid.

Tauhid merupakan kewajiban pertama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada umat manusia, dan sebaliknya larangan pertama yang Allah larang kepada mereka adalah syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 21-22)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 9.0/10 (12 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +9 (from 9 votes)

Keindahan Dienul Islam

Dienul Islam seluruhnya indah. Aqidahnya adalah aqidah yang paling benar, paling lurus dan paling bermanfaat. Etikanya adalah etika yang paling terpuji dan paling elok. Amal dan hukumnya adalah yang paling baik dan paling adil.

Islam adalah agama kebahagiaan dan kemenangan, dan bahwasanya Islam tidak membiarkan manusia dalam kesendiriannya, atau bersama keluarganya, atau bersama tetangganya, atau bersama saudara-saudara seagamanya, bahkan bersama manusia lainnya melainkan diajarkan kepadanya etika-etika secara detail, cara-cara bergaul yang dapat menjadikan kehidupannya damai dan meraih kebahagiaan.

Dengan pandangan yang agung dan tinjauan yang indah terhadap keindahan agama inilah, Allah akan meresapkan keimanan ke dalam hati seorang hamba dan menjadikan iman itu indah dalam hatinya. Sebagaimana karunia yang telah dilimpahkan-Nya untuk hamba-Nya yang terpilih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu”. (QS. Al-Hujuraat:7)

Sehingga iman dalam hati menjadi sesuatu yang paling disukai dan yang paling indah. Dengan inilah seorang hamba akan merasakan kelezatan iman, ia akan benar-benar merasakannya dalam hatinya. Batin menjadi indah dengan dasar keimanan dan hakikatnya. Dan lahiriyah juga menjadi indah dengan amal-amal keimanan.[1] More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 10.0/10 (7 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +7 (from 7 votes)

Kisah Seorang Ahli Ibadah yang Menyusuri Lautan

Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan,

Kami berada dalam sebuah perahu, lalu kami terlempar oleh angin hingga sampai di sebuah pulau. Kami mendapati seorang laki-laki yang menyembah berhala di pulau itu, maka kami bertanya kepadanya,

‘Kepada siapa kamu menyembah?’ Dia menunjuk kepada sebuah berhala. Kemudian kami berkata,

‘Sesungguhnya ada benda seperti ini dalam perahu kami. Benda (berhala) ini bukanlah tuhan yang patut disembah.’ laki-laki itu balik bertanya,

‘Lalu, kepada siapa kalian menyembah?’

‘Allah.’

‘Siapa Allah itu?’

‘Dzat Yang singgasana-Nya ada di langit, Dzat Yang kekuasaan-Nya ada di bumi, dan Dzat yang kehidupan serta kematian adalah menjadi ketentuan-Nya.’

‘Bagaimana kalian bisa mengetahui dan mengenal-Nya?’

‘Dzat Yang Mahadiraja ini mengirim seorang Rasul kepada kami, lalu Rasul itu mengabarkan kami akan hal itu.’ More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 9.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +8 (from 8 votes)

Cinta Allah dan RasulNya

Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan tugas utama seorang pendidik muslim. Dengannya, anak didik akan ringan melaksanakan ibadah dan mengikuti sunnah. Ringan dalam menerima dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupannya, karena yang dituju dan dicari sudah jelas, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya.

Satu pelajaran lagi dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang masalah iman mengenai tanda cinta pada Allah. Beliau, Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

Cinta pada Allah dan Rasul-Nya telah ada dalam hati setiap orang beriman. Tidak mungkin seseorang menghilangkan rasa cinta tersebut jika memang ia adalah orang yang beriman. Tanda cinta pada Allah dan Rasul-Nya begitu nampak jika ada seseorang yang mencela Rasul dan menjelek-jelekkannya, atau ada orang yang mencaci maki Allah atau menyebut tentang Allah dengan sesuatu yang tidak pantas. Maka orang beriman akan benci dengan hal-hal tadi. Kebenciannya tersebut lebih besar dari kebenciannya ketika ayah atau ibunya dicacimaki (Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah).

Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, beberapa orang Yahudi datang menemui beliau. Mereka berkata, “Kami mencintai Allah, akan tetapi kami tidak dapat mengikuti ajaranmu.” Kemudian Allah membantah dan membatilkan kecintaan mereka kepada-Nya dan menganggap pernyataan itu dusta. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

Ayat ini memberitahukan bahwa mencintai Allah ialah dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam, menaati apa yang diperintahkannya, dan meninggalkan segala larangannya yang termaktub dalam hadits-hadits shahih yang telah beliau jelaskan kepada umat manusia. Cinta itu tidak terjadi dengan sekedar untaian kata-kata, tanpa mengamalkan petunjuk, perintah dan sunnah-sunnahnya. More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 9.6/10 (5 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +8 (from 8 votes)

Ada Ujian Dibalik Rezeki

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Adapun manusia apabila Rabb-nya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Rabb-ku telah memuliakanku . Adapun bila Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Rabb-ku menghinakanku.”(QS. 89 : 15-16).

Ujian yang datang dari Allah terkadang dalam bentuk kebaikan ataupun keburukan, sebagaimana firman-Nya:

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (QS. 21 : 35).

Allah akan mengujinya dengan kebaikan dan limpahan karunia, apakah dia bersyukur ataukah kufur? Allah juga akan mengujinya dengan kejelekan dan perkara-perkara yang menyakitkan, apakah dia bersabar ataukah membangkang? Kondisi manusia selalu berada di antara kesenangan dan kesusahan. Terkadang dia mendapatkan kesenangan yang membuatnya bahagia dan terkadang mendapatkan kesusahan yang membuatnya sedih, seluruhnya adalah ujian dari Allah. Tabiat manusia yang selalu berbuat zhalim dan jahil, jika diuji Rabb-nya dengan nikmat dan kemuliaan biasanya akan berkata, “Rabb-ku telah memuliakanku, seolah-olah dia berkata, “Aku memang pantas mendapatkan karunia ini!” Ia tidak mengakui karunia Allah tersebut. Hal ini seperti firman Allah yang mengisahkan perkataan Qarun:

More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 7.3/10 (9 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +12 (from 12 votes)

Asma & Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi

Sesungguhnya mengetahui asma Allah yang husna dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan kemahasempurnaan Allah yang mutlak dari segala sisi, merupakan bab ilmu yang paling agung. Dengannya  keimanan akan bertambah. Memfokuskan diri mempelajari dan memahaminya serta membahasnya secara tuntas merangkum beberapa faidah yang sangat banyak dan agung, diantaranya:

1- Ilmu tauhid asma dan sifat merupakan ilmu yang sangat mulia dan sangat luhur. Memfokuskan diri untuk memahaminya dan membahasnya merupakan pekerjaan yang paling tinggi dan memperolehnya merupakan anugerah yang paling mulia.

2- Mengenal Allah akan mendorong seseorang untuk mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya dan mengikhlaskan amal untuk-Nya. Dan ini merupakan hakikat kebahagiaan seorang hamba. Dan tidak ada jalan untuk mengenal Allah kecuali dengan mengenal asma dan sifat-Nya serta tafaqquh untuk memahami makna-maknanya.

3- Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk agar mereka mengenali-Nya dan beribadah kepada-Nya. Itulah tujuan yang diinginkan dari mereka. Memfokuskan diri kepadanya berarti telah memfokuskan diri kepada tujuan diciptakannya manusia. Sebaliknya, mengabaikan dan melalaikannya berarti mengabaikan tujuan diciptakannya manusia. Dan sungguh sangat buruk bagi seorang hamba yang terus mendapat kucuran nikmat dan karunia Allah dari berbagai sisi lalu ia jahil terhadap-Nya dan tidak mau mengenali-Nya.

4- Sesungguhnya salah satu rukun iman, bahkan rukun yang paling utama dan paling dasar adalah iman kepada Allah. Iman yang dimaksud bukanlah sekedar mengucapkan ‘aku beriman kepada Allah’ tanpa mengenali-Nya. Namun hakikat iman kepada-Nya adalah dengan mengenali Rabb yang diimaninya dan mengerahkan segala upaya untuk mengenali asma dan sifat-Nya sehingga ia mencapai derajat yakin. Derajat keimanannya bergantung kepada kadar ma’rifatnya terhadap Rabbnya. Semakin bertambah kadar ma’rifatnya maka semakin bertambah pula keimanannya. Semakin berkurang kadar ma’rifatnya maka semakin berkurang pula keimanannya. Jalan paling pintas yang menyampaikannya kepada hal itu adalah menghayati sifat-sifat-Nya dan asma’-asma’-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

5- Pengetahuan tentang Allah adalah inti segala sesuatu. Bahkan orang yang tahu tentang Allah dengan sebenar-benar pengetahuan, akan mengambil petunjuk dari sifat dan perbuatan Allah yang diketahuinya atas apa yang dilakukan-Nya dan hukum-hukum yang disyariatkan-Nya. Karena Dia pasti berbuat sesuai dengan tuntutan asma’ dan sifat-Nya. Perbuatan-Nya pasti berkaitan dengan keadilan, karunia dan hikmah. Oleh karena itu hukum-hukum yang disyariatkan-Nya pasti sejalan dengan konsekuensi pujian, hikmah, karunia dan keadilan-Nya. Khabar-khabar dari-Nya seluruhnya adalah haq dan benar. Perintah dan larangan-Nya pastilah adil dan mengandung hikmah.[1] More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 9.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +7 (from 7 votes)

Tawassul yang Dilarang

Tawassul yang terlarang adalah menggunakan sarana untuk mendekat-kan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syari’at. Di antaranya tawassul dengan berdoa kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir, memohon keselamatan dengan perantaraan mereka, dan sejenisnya. Semua perbuatan itu adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan bertentangan dengan tauhid.

Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam bentuk doa permohonan seperti meminta sesuatu dan meminta diselamatkan dari bahaya: atau doa ibadah seperti rasa tunduk dan pasrah di hadapan Allah, kesemuanya itu tidak boleh dialamatkan kepada selain Allah. Memalingkannya dari Allah adalah syirik dalam berdoa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Rabbmu berfirman:”Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina…” (QS. Al-Mukmin : 60)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat di atas ganjaran bagi orang yang enggan berdoa kepada-Nya, bisa jadi dengan berdoa kepada selain-Nya atau dengan tidak mau berdoa kepada-Nya secara global dan rinci, karena takkbur atau sikap ujub, meski tak sampai berdoa kepada selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Berdoalah kepada Allah dengan rasa tunduk dan suara perlahan..”
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan berdoa kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.

Segala bentuk penyamaan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah dan ketaatan, maka itu adalah perbuatan syirik terhadap-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka. “ (QS. Al-Ahqaaf : 5)
“Barangsiapa yang menyeru bersama Allah Ta’ala sesembahan yang lain padahal tidak ada bukti baginya, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada akan beruntung.” (QS. al-Mukminun : 117).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menganggap orang yang berdoa kepada selain-Nya, berarti telah mengambil sesembahan selain-Nya pula. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.(QS. Faatir : 13-14)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat ini, bahwa Dia-lah yang Maha Berkuasa dan Mampu mengurus segala sesuatu, bukan selain-Nya. Bahwasanya para sesembahan itu tidak dapat mendengar doa, apalagi untuk mengabulkan doa tersebut. Kalaupun dimisalkan mereka dapat mendengar, merekapun tidak akan mampu mengabulkannya, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau memberi mudharrat, dan tidak memiliki kemampuan atas hal itu.

Sesungguhnya kaum musyrikin Arab di mana Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam diutus, mereka menjadi orang-orang kafir karena kemusyrikan mereka dalam berdoa. Karena mereka juga berdoa kepada Allah dengan tulus ketika mendapatkan kesulitan. Kemudian mereka menjadi kafir kepada Allah di kala senang dan mendapatkan kenikmatan dengan cara berdoa kepada selain-Nya. Allah berfirman:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al Isra’ : 67)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atannya”. (QS.Yunus : 22)

More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 9.6/10 (10 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +8 (from 10 votes)

Tawassul yang Disyariatkan

Setiap kali ada musibah dan ujian yang menghantui kehidupan manusia seorang Muslim, ia harus kembalikan semuanya  kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ia meyakini bahwa Allah-lah, Rabb yang mampu menyingkap hijab-hijab kesulitan, kefakiran dan kepayahan para hambaNya. Dan ia juga meyakini bahwa Dialah yang mampu memberikan pertolongan, kemudahan dan petunjuk. Tidak ada kekuatan lain yang mampu melakukan hal ini selain Dia, Allah Ta’alaa. Terkadang dalam memohon dan berdo’a, manusia sering menggunakan perantara (atau yang disebut dengan tawassul dalam terminology aqidah) antara dirinya dan Allah Ta’alaa. Karena mereka merasa tidak mampu, lemah dan tidak memiliki apa-apa dihadapan Rabbnya. Hal ini mereka lakukan agar do’a dan permohonannya terkabulkan dengan segera.

Namun sebagai manusia muslim, ia harus selalu memperhatikan rambu-rambu Islam dalam masalah tawassul, karena tidak semua bentuk tawassul atau perantaraan yang berkembang dalam masyarakat ini diperbolehkan dalam ajaran Islam. Boleh jadi seorang muslim dalam berdo’a, ia bertawassul dengan kuburan-kuburan, batu-batuan dan pepohonan yang dikramatkan. Bahkan ada yang meyakini adanya kekuatan lain atau penguasa lain selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki kekuasaan atas sebagian wilayah yang ada di bumi ini.

Tawassul menurut etimologi bahasa Arab artinya: “Sesuatu yang bisa mendekatkan kepada yang lain.” (Mukhtar Ash-Shihah)

Ibnu Atsir di dalam An-Nihayah mengatakan: “(Tawassul adalah) sesuatu yang akan menyampaikan kepada yang lain dan mendekatkan diri dengannya.”

Adapun menurut terminologi syariat, tawassul adalah: “Mendekatkan diri kepada Allah dengan segala bentuk ketaatan dan peribadatan, dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan segala bentuk amalan yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diridhai-Nya.” (At-Tawassul Ila Haqiqati Tawassul). More »

VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 8.3/10 (11 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +12 (from 12 votes)