<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>An-Naba Online &#187; Ibadah</title>
	<atom:link href="http://an-naba.com/category/ibadah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://an-naba.com</link>
	<description>Penerbit Buku Islami &#124; Terdepan Dalam Kualitas</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 03:05:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Optimization in Gaining the Reward (Bag. 2)</title>
		<link>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward-bag-2/</link>
		<comments>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 04:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daar an-naba']]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2000</guid>
		<description><![CDATA[Edisi yang lalu kita telah membahas lima cara-cara ideal untuk meningkatkan amalan kita. Pada edisi kali ini kita akan membahas lima langkah praktis berikutnya. Semoga pembahasan ini bisa meningkatkan amal ibadah kita terlebih di bulan Ramadhan yang insya Allah sebentar lagi akan hadir menyapa kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-medium wp-image-2001" style="margin: 2px 4px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/masjid-almuttaqin11-300x262.jpg" alt="" width="300" height="262" />→ <span style="color: #008000"><strong>Cara keenam: Berkeinginan untuk menunjukkan orang lain.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Berdakwah (mengajak manusia) kepada agama Allah me­rupakan ibadah paling agung yang mendekatkan manusia kepada Allah, karena ini adalah tugas para Nabi dan Rasul—sebab berdakwah dan memberi petunjuk kepada manusia adalah jalan yang mengantarkan untuk meraih pahala dan kebaikan yang besar—sebagaimana sabda Rasulullah:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #0000ff"><em>“Barangsiapa menyerukan kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya….” (HR. Muslim).</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Jika Anda menunjukkan seseorang kepada agama Allah kemudian ia beristiqamah, maka Anda mendapatkan seperti shalat, tasbih dan semua amal shalihnya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Kemudian, jika ia menyeru banyak orang lalu mereka bertaubat, maka Anda mendapatkan seperti pahala mereka walaupun Anda berada dalam kubur Anda. Begitulah, dituliskan untuk Anda pahala banyak orang. Seakan-akan Anda dikaruniai umur yang panjang. Dan, orang yang menunjukkan kepada kebajikan adalah seperti orang yang melakukannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"><span id="more-2000"></span>Letakkanlah seseorang di pelupuk mata Anda dan serulah ia kepada agama Allah. Jika Anda ikhlas dalam mendakwahinya dan Allah memberi taufik kepada Anda, maka Anda mendapatkan seperti pahala perbuatannya hingga hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Tidakkah Anda menyadari, saudaraku semuslim, bahwa lahan dakwah <em>ilallah</em> dan menunjukkan orang lain adalah lahan paling besar dan paling subur yang memungkinkan Anda meraih pahala dari Allah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><strong>→ Cara ketujuh: Memanfaatkan satu waktu untuk ibadah lebih dari satu.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Seni meraih pahala dalam satu waktu untuk melakukan lebih dari satu ibadah, tidak diketahui kecuali oleh orang yang memiliki kemauan akhirat dan menginginkan kebaikan yang disediakan Allah di surga. Teladan mereka di bidang ini adalah Rasulullah. Dari Ibnu Umar, ia mengatakan, “Sesungguhnya kami benar-benar menghitung Rasulullah dalam satu majelis membaca:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Mene­rima taubat lagi Maha Pengampun.” sebanyak seratus kali.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Perhatikanlah, saudaraku, bagaimana <em>al-Mushthafa</em> (Rasulullah) memanfaatkan satu waktu untuk dua ibadah, yaitu:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">-     Dzikrullah dan istighfar.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">-     Duduk bersama para sahabat dan mengajarkan kepada mereka tentang urusan agama mereka, dan mendengarkan permasalahan yang mereka hadapai.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Contoh praktis dari cara ini: Jika seseorang pergi ke masjid dengan berjalan kaki, maka pergi ini dan langkah-langkah itu adalah ibadah itu sendiri yang karenanya hamba diberi pahala. Tetapi ia bisa juga memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak dzikrullah atau membaca al-Qur`an dengan hafalan. Ketika itulah ia memanfaatkan satu waktu untuk lebih dari satu ibadah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><strong>→ Cara kedelapan: Memasukkan perasaan kepada orang-orang di sekeliling Anda bahwa Anda sangat berkeinginan untuk melakukan kebajikan.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Mengapa memasukkan perasaan ini?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">1.   Agar ia menjadi teladan yang baik bagi yang lainnya lalu ia melakukan sebagaimana yang dilakukannya. Dengan demikian, ia men­dapatkan pahala karenanya. Barangsiapa merintis dalam Islam sunnah yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">2.   Agar itu menjadi tanda kebaikan yang dengannya ia dikenal—jika ia orang yang berharta misalnya, dan ia senantiasa berderma di jalan kebajikan, maka ini adalah tanda bagi banyak manusia karena ia mengabarkan tentang proyek-proyek kebajikan.—sehingga ini sebagai ladang baginya untuk mengais pahala. Tetapi semua ini harus dilakukan secara ikhlas karena Allah dan mencari ridhaNya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><strong>→ Cara kesembilan: Amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Di antara cara untuk mendapat pahala sebanyak mungkin dalam waktu paling singkat, ialah mela­kukan amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda. Di antara amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda adalah:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">1.   Shalat di al-Haramain.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">2.   Memelihara shalat berjamaah di masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">3.   Melakukan adab-adab Jum’at, di antaranya:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Mandi</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Bersegera ke masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Berjalan ke masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Dekat dengan imam.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Mendengar khatib dan tidak berbuat sia-sia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Barangsiapa melakukan adab-adab ini, maka ia mendapatkan dengan tiap-tiap langkah amalan satu tahun: pahala puasa dan qiyamnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, dan ini hadits shahih.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">4.   Menghadiri pengajian dan ceramah di masjid</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Kehadiran Anda dalam setiap pengajian dan ceramah yang diadakan di masjid menye­babkan Anda mendapatkan pahala haji secara sempurna. Diriwa­yatkan dari Abu Umamah, dari Nabi, beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Barangsiapa pergi ke masjid, ia tidak meniatkan kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan seperti pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad la ba’sa bih [tidak mengapa]).</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">5.   Umrah di bulan Ramadhan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">6.   Shalat di masjid Quba’.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">7.   Memberi buka orang yang berpuasa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">8.   Melaksanakan Qiyamul Lail pada saat Lailatul Qadar.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">9.   Melakukan amal shalih di sepuluh hari Dzul Hijjah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">10. Dzikir mudha’af, yaitu:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةِ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Mahasuci Allah dan segala puji bagiNya seba­nyak jumlah makhlukNya, keridhaan diriNya, perhiasan ArsyNya, dan tinta kalimatNya.”</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">11. Memohonkan ampunan untuk kaum mukmin. Beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةٌ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Barangsiapa memohonkan ampunan untuk kaum mukmin laki-laki dan perempuan, maka Allah mencatat untuknya dengan tiap-tiap mukmin dan mukminah satu kebajikan.” (HR. Ath-Thabrani, dan dihasankan al-Albani).</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><strong>→ Cara kesepuluh: Memanfaatkan momentum-momentum utama dalam setiap pekan.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Di antara rahmat Allah kepada para hambaNya ialah Dia menjadikan untuk mereka dalam sepekan waktu-waktu utama yang memiliki keistimewaan yang tidak terdapat pada waktu-waktu lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Di antara momentum utama yang terpenting dalam setiap pekan adalah:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">1.   Puasa hari Senin dan Kamis.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">2.   Hari Jum’at—hari ini dimanfaatkan untuk perkara-perkara berikut:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> a. Membaca al-Qur`an.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> b. Memperbanyak shalawat pada Nabi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> c. Mandi pada hari Jum’at.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> d. Memakai minyak wangi dan bersiwak.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> e. Bersungguh-sungguh dalam berdoa agar bisa menepati waktu saat terkabulnya doa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> f.  Bersegera pergi dengan berjalan kaki ke tempat pelaksanaan shalat Jum’at.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Optimization in gaining the reward</title>
		<link>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/</link>
		<comments>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 01:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[fardhu]]></category>
		<category><![CDATA[harian]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[ideal]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[meraih]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[peluang]]></category>
		<category><![CDATA[peluang emas]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1958</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada Allah :

    "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Tujuan ibadah ini ialah mendapatkan ridha Allah kemudian surga, dan kedudukan surga itu berbeda-beda. Sejauh mana manusia meraih kebajikan dalam kehidupan ini, maka sejauh itu pulalah kedudukan yang akan diraihnya di sana.

Seorang muslim itu sangat mencintai kehidupan­nya, bukan karena kelezatannya, tetapi hanyalah karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin pahala dan kebajikan. Jika seorang muslim melihat bahwa kehidupannya di dunia sarat dengan kebajikan dan pendekatan diri kepada Allah, maka ia berdoa kepada Allah agar dipanjangkan usianya dan diperbaguskan amalnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;"><img class="alignleft size-full wp-image-1964" style="margin: 1px 3px;" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/Tangga-sukses1.jpg" alt="" width="300" height="260" />Tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada Allah :</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. Adz-Dzariyat: 56).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Tujuan ibadah ini ialah mendapatkan ridha Allah kemudian surga, dan kedudukan surga itu berbeda-beda. Sejauh mana manusia meraih kebajikan dalam kehidupan ini, maka sejauh itu pulalah kedudukan yang akan diraihnya di sana.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Seorang muslim itu sangat mencintai kehidupan­nya, bukan karena kelezatannya, tetapi hanyalah karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin pahala dan kebajikan. Jika seorang muslim melihat bahwa kehidupannya di dunia sarat dengan kebajikan dan pendekatan diri kepada Allah, maka ia berdoa kepada Allah agar dipanjangkan usianya dan diperbaguskan amalnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Dari titik tolak ini, kita harus mengingatkan tentang urgensi mengetahui cara-cara amaliah untuk meraih pahala dan kaidah-kaidah yang meng­antarkan untuk mendapatkan sebanyak mungkin kebajikan dalam syariat yang bijak ini guna memantapkan timbangan orang mukmin pada hari kiamat.</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Dan adapun orang-orang yang berat tim­bangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.&#8221;</em> (QS. Al-Qari&#8217;ah: 6-7).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berikut ini adalah sebagian dari cara-cara ideal untuk meraih tujuan yang besar ini bagi setiap muslim.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→	<span style="color: #008000;"><strong>Cara Pertama: Komitmen dengan kewajiban dan fardhu.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;"><span id="more-1958"></span>Tidak ada yang lebih dicintai Allah daripada orang mukmin komitmen dengan fardhu dan kewajiban. Sesungguhnya Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Allah berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #8b008b;">مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang Aku fardhukan kepadanya.”</em> (HR. al-Bukhari).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Jadi, istiqamah di atas amalan-amalan fardhu adalah jalan terbaik untuk meraih pahala, karena ini adalah amalan-amalan yang paling dicintai Allah, dan atas perkara inilah manusia akan dihisab di hadapan Allah pada hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→	<strong><span style="color: #008000;">Cara kedua: Memperbanyak niat baik dalam satu ketaatan.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Satu ketaatan bisa diniatkan dalam banyak keba­jikan, dan seseorang akan mendapatkan pahala dengan tiap-tiap niat itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Sebagai contoh, duduk di masjid. Ini satu ketaatan, tapi bisa diniatkan untuk banyak niat, di antaranya:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">a)	Berniat memasukinya untuk menunggu shalat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">b)	Berniat i’tikaf dan menahan anggota tubuh.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">c)	Mengusir berbagai kesibukan yang memalingkan dari menaati Allah dengan memutuskan diri menuju ke masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">d)	Dan untuk berdzikir kepada Allah di dalamnya, dan semisalnya..</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Ini adalah jalan memperbanyak niat dalam satu ke­taatan—dan analogikanlah semua ketaatan dengan hal itu. Sebab tidak ada satu ketaatan pun melainkan mengandung banyak niat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berdasarkan contoh ini—wahai saudaraku yang ter­cinta—semestinya Anda menganalogikan semua ketaatan, lalu Anda mengadakan untuk tiap-tiap ketaatan sejumlah niat baik lagi shalih sehingga satu ketaatan menjadi banyak ketaatan yang menyebabkan pahalanya berlipat ganda karenanya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Memperbanyak niat dalam satu ketaatan akan memenuhi hati dengan kebaikan, insya Allah.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→ <strong><span style="color: #008000;">Cara ketiga: masyarakat “jama’ah” adalah “mihrab untuk beribadah”.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Orang yang diberi Allah pemahaman dalam agama dan ditunjukkanNya kepada jalan yang lurus mengetahui bahwa masyarakat seluruhnya merupakan peluang emas, arena yang luas untuk melakukan amalan-amalan kebajikan, dan medan yang lapang untuk meraih pahala.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Hal ini masyarakat adalah lahan dakwah ilallah, mening­gikan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan menanamnya dalam jiwa secara baik yang kelak menghasilkan buahnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Di antara lahan beribadah di masyarakat ini, ialah sebagai berikut: Mengucapkan salam, Memberi nasihat, Kata-kata yang baik, Mencegah kemungkaran, Membuang gangguan dari jalan, Menjenguk orang sakit, Mencari orang yang tidak hadir, Turut serta dalam kegembiraan dan kesedihan, Memuliakan anak yatim… dan seterusnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Demikialah kita melihat masyarakat sebagai “mihrab” yang luas untuk ibadah terbaik dan amal terbaik yang dapat mendekatkan seorang muslim kepada Allah Ta’ala. Suatu hal yang tidak akan dijumpai seseorang manakala ia menyendiri lagi terpisah dari masyarakat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→<strong><span style="color: #008000;"> Cara keempat: Memanfaatkan waktu-waktu harian yang utama.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Melaksanakan ibadah-ibadah pada waktu-waktu­nya yang utama yang dianjurkan oleh Syari’ (Penetap syariat) yang bijaksana supaya dilakukan di dalamnya menyebabkan sesorang mendapatkan pahala yang besar—yang tidak akan diperolehnya sekiranya ia melakukan ibadah tersebut di luar waktu yang utama itu. Ini adalah karunia Allah dan rahmatNya. Di antara waktu-waktu utama dalam sehari:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">a)	Berdzikir pada Allah setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari setinggi satu tombak.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">b)	Menjawab seruan muadzin untuk shalat lima waktu</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">c)	Berdoa di antara adzan dan iqamah</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">d)	Memanfaatkan sepertiga malam yang terakhir dengan shalat, doa dan istighfar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">e)	Tasbih, tahlil, tahmid dan takbir sepanjang hari.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Memperhatikan waktu-waktu yang utama ini dengan melakukan ketaatan, di dalamnya berisi­kan usaha besar untuk meraih pahala dari Allah Ta’ala.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→ <strong><span style="color: #008000;">Cara kelima: Berkeinginan untuk melakukan amalan-amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga setelah kematian.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Di antara karunia Allah yang besar atas umat ini yang pendek usianya, ialah Dia menunjukkan mereka kepada amalan-amalan yang pahalanya terus berkesinambungan hingga setelah kematian. Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #8b008b;">إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #0000ff;">&#8220;Di antara amalan dan kebajikan yang terus sampa kepada orang mukmin setelah kematiannya, ialah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya semasa sehatnya dan semasa hidupnya, maka itu sampai kepada­nya setelah kematiannya.&#8221;</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Maka, saudaraku semuslim, hendaklah Anda meng­amalkan mana saja di antara amalan-amalan ini yang pahalanya akan mengalir setelah kematian, sehingga pahala Anda tidak terputus dengan terputus ajal Anda.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Syaikh as-Sa’di mengatakan—dikutip secara bebas—tentang firmanNya,</span> <span style="color: #0000ff;"><em>&#8220;dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggal­kan.&#8221;</em> (QS. Yasin: 12)</span><span style="color: #a52a2a;">:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">“Yaitu peninggalan-peninggalan kebaikan dan pening­galan-peninggalan keburukan yang mana mereka menjadi sebab peninggalan-peninggalan itu, baik semasa hidup maupun setelah kematian mereka….”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Semua kebaikan yang dilakukan seorang manusia karena sebab ilmu hamba, pengajarannya, nasihatnya, perintahnya kepada yang ma’ruf atau pencegahannya dari kemungkaran, ilmu yang ditinggalkannya di tengah kaum muslimin dalam buku-buku yang bermanfaat, baik semasa hidupnya maupun sesudah matinya, amal kebajikan berupa shalat, zakat atau sedekah, orang yang bisa diteladani orang lain, membangun masjid, atau salah satu tempat untuk pertemuan manusia, maka ini termasuk peninggalan-peninggalannya yang dituliskan untuknya. Demikian pula amalan kebajikan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berdirilah untuk mengunjungi salah satu kantor Lem­baga Bantuan Islam (<em>Hai’ah al-Ighatsah al-Islamiyyah</em>) atau Perhimpunan Pemuda Islam Internasional (<em>an-Nadwah al-Alamiyyah li asy-Syabab al-Islami</em>), atau organisasi-organisasi sosial terpercaya lainnya untuk melihat kegiatan mereka dalam berbagai proyek kerja yang mengalir paha­lanya hingga setelah kematian, seperti sedekah jariyah. Tujuannya, wahai saudaraku, ialah bagai­mana kita meraih kebajikan yang lebih banyak pada hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Bersambung, Insya Allah&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<pre style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Dikutip dari <span style="color: #a52a2a;">kitab </span></span><span style="color: #a52a2a;">Tsalatsuna Thariqah Mitsaliyyah likasb al-Ajr wa ats-Tsawab min Allah, karya Khalid bin Abdurrahman ad-Darwisy.</span></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PESAN-PESAN BERHARGA DALAM BERBAKTI KEPADA ORANG TUA</title>
		<link>http://an-naba.com/pesan-pesan-berharga-dalam-berbakti-kepada-orang-tua/</link>
		<comments>http://an-naba.com/pesan-pesan-berharga-dalam-berbakti-kepada-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 03:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an Allah]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[bakti]]></category>
		<category><![CDATA[berbakti]]></category>
		<category><![CDATA[durhaka]]></category>
		<category><![CDATA[hak]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[murka]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ridha]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[taat]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1502</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan orang tua dalam Islam sangatlah istimewa. Tingkatan ketaatan kepada mereka persis setelah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Banyak orang yang berlebihan dalam kelakuannya kepada mereka dan tidak sedikit pula orang yang kurang adabnya kepada keduanya. Berikut ini kami sampaikan renungan-renungan bagi kita dalam berbakti kepada kedua orang tua. Semoga kita bisa berbakti kepada orang tua secara maksimal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><img class="alignright size-medium wp-image-1504" style="margin: 2px 3px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/03/hutan1-300x225.jpg" alt="" width="270" height="203" />Marilah kita bertakwa kepada Allah. Kita laksanakan kewajiban yang telah diperintahkan Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yaitu berupa hak-hak-Nya dan hak para hamba-Nya. Dan ketahuilah, hak manusia yang paling besar atas diri kalian ialah hak kedua orang tua dan karib kerabat. Allah menyebutkan hak tersebut berada pada tingkatan setelah hak-Nya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman:</span></p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">وَٱعْبُدُواْ ٱللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِٱلْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً</span></h2>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa &#8230; “</em> (QS. An-Nisa’: 36)</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Begitu pula Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> telah berfirman:</span></p>
<h2 style="text-align: right"><span style="color: #0000ff">وَوَصَّيْنَا ٱلإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ</span></h2>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya.”</em> (QS. Luqman: 14).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span id="more-1502"></span>Wahai saudaraku, apabila kita ingin meraih kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat, renungi dan amalkanlah pesan-pesan berikut ini:</span></p>
<ul>
<li><span style="color: #0000ff">Berbicaralah kepada kedua orang tua dengan penuh santun, janganlah mengatakan kepada keduanya: Ah!, Jangan membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Taatilah kedua orang tua dalam perkara yang bukan berupa kemaksiatan kepada Allah, karena tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Lemah lembutlah terhadap kedua orang tua kita. Janganlah bermuka masam di hadapan keduanya. Jangan pula memandang keduanya dengan pandangan yang sinis dan marah.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Janganlah duduk di tempat yang lebih tinggi dari ke­duanya dan jangan pula berjalan di hadapannya.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Ajaklah keduanya bermusyawarah dalam seluruh urusan kita dan mintalah maaf bila kita terpaksa menyelisihi pendapat keduanya.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Janganlah berdusta terhadap keduanya, jangan pula mencela apabila keduanya melakukan perbuatan yang tidak kita sukai.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Sambutlah segera panggilan kedua orang tua kita dengan wajah penuh senyuman seraya berkata, “Labbaika wahai ayahanda, labbaika wahai ibunda.”</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Jagalah kehormatan kedua orang tua kita dan kemuliaannya serta harta bendanya. Janganlah kita mengambilnya tanpa izin keduanya.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Berbuatlah sesuatu yang menyenangkan keduanyi walaupun tanpa perintah, seperti berkhidmat dan membelikan barang-barang keperluan mereka.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Hormatilah teman-teman dan karib kerabatnya dan ja­nganlah kita berteman dengan orang yang memusuhi orang tua kita selama mereka masih hidup dan sesudah mereka wafat.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Bantulah ibu kita di rumah. Dan janganlah terlambat membantu ayah kita dalam pekerjaannya.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Janganlah kita pergi jika keduanya tidak mengizinkan. Walaupun kita pergi untuk sesuatu yang penting. Jika kita terpaksa pergi maka mintalah maaf kepada keduanya dan berilah kabar kepada keduanya.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Janganlah kita masuk menemui keduanya tanpa izin. Temtama pada waktu-waktu tidur atau istirahat.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Janganlah kita mengambil makanan mendahului kedua­nya dan muliakanlah keduanya dengan mencukupi kebutuhan makanan, minuman dan pakaian mereka.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Janganlah kita utamakan istri dan anak-anak kita atas keduanya. Carilah keridhaannya sebelum yang lain. Karena ridha Allah bersama ridha kedua orang tua, dan kemurkaan Allah bersama kemurkaan keduanya.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Janganlah kita bakhil dalam mengeluarkan nafkah untuk kedua orang tua kita sehingga keduanya mengadukan masalahnya kepada Anda. Ini merupakan aib atas diri Anda. kita akan diperlakukan dengan hal yang sama oleh anak-anak kita kelak. Karena kita akan dibalas sebagaimana kita berbuat. Dan balasan yang sesuai dengan jenis amal.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Orang yang paling berhak kita muliakan adalah ibu Anda, kemudian ayah Anda. Sebagaimana Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk hormati dengan baik?” Beliau berkata, <em>“Ibumu.”</em> Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. <em>“Ibumu”</em>, jawab beliau, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. Beliau <span style="color: #0000ff">berkata, </span></span><span style="color: #0000ff"><em>“Ibumu.”</em> Kemudian siapa lagi? tanya laki-laki itu.</span><span style="color: #0000ff"><em><span style="color: #0000ff">“Kemudian </span>ayahmu”</em>, jawab beliau. (<strong>HR. Al-Bukhari </strong>no. 5971 dan <strong>Muslim </strong>no. 6447)</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Hindarilah perbuatan durhaka terhadap kedua orang tua dan membuat keduanya marah sehingga kita merugi di dunia dan akhirat. Dan anak-anak kita akan memperlakukan kita seperti kita memperlakukan kedua orang tua Anda.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Apabila kita memiliki kemampuan mencari rezeki sendiri, maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tua Anda, karena kita dan harta kita adalah milik ayah Anda.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Sesungguhnya kedua orang tua kita mempunyai hak atas diri Anda, dan istri kita punya hak atas diri An­da, anak-anak kita juga punya hak atas diri Anda, saudara-saudara kita juga punya hak atas diri Anda. Maka berikanlah setiap orang akan haknya. Dan berusahalah menggabungkan hak-hak tersebut walaupun terkadang berbenturan satu sama lain. Dan berikanlah hadiah-hadiah kepada keduanya baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Dengan Saling memberikan hadiah niscaya akan saling menyayangi dan menghilangkan rasa permusuhan.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Doa kedua orang tua mustajab. Maka, berusa­halah agar mendapat doa kebaikan dari kedua orang tua kita dan hindarilah doa keburukan dari keduanya atas diri Anda.</span></li>
<li><span style="color: #0000ff">Beradablah terhadap sesama manusia. Barangsiapa mencela orang lain maka mereka akan mencela dirinya. Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Termasuk dosa besar adalah seorang lelaki mencaci kedua orang tuanya. Yaitu seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang tersebut balas mencaci ayah dan ibunya.”</em> (Muttafaqun &#8216;alaihi)</span></p>
</blockquote>
<ul>
<li><span style="color: #0000ff">Kunjungilah kedua orang tua kita semasa mereka hidup dan setelah keduanya wafat. Bersedekahlah untuk keduanya dan perbanyaklah doa untuk keduanya. Seraya mengucapkan:</span></li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><em><span style="color: #0000ff">“Ya Rabbi, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, ya Rabbi kasihilah keduanya sebagaimana keduanya telah membimbingku semenjak kecil.”</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em> </em>Demikian renungan dan nasihat yang sangat berharga, semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berbakti kepada orang tua kita. Dan mendapatkan apa yang telah Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya karena berbaktinya kepada kedua orang tuanya yaitu surga. Amiin.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/pesan-pesan-berharga-dalam-berbakti-kepada-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AKANKAH TERLUPAKAN???</title>
		<link>http://an-naba.com/akankah-terlupakan/</link>
		<comments>http://an-naba.com/akankah-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 02:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[alas]]></category>
		<category><![CDATA[alas kaki]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[bersiwak]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dilupakan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kaki]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[madinah]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[pekuburan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[siwak]]></category>
		<category><![CDATA[slat]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[sutrah]]></category>
		<category><![CDATA[sutroh]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1153</guid>
		<description><![CDATA[Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau, memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena Allah Ta’ala menjadikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penjelas dan penjabar dari Al-Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber utama syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar.
Namun realita yang kita lihat saat ini adalah, banyak diantara kita yang jarang atau bahkan sama sekali tidak mau mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ironis memang, di saat banyak orang yang mengatakan bahwa ia mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia sendiri tidak mengetahui sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft" style="margin: 2px 4px" src="../wp-content/uploads/2010/03/SUNNAHSUNNAH-YANG-JARANG-DILAKUKAN1.png" alt="" width="223" height="388" />Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right">مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا</h2>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">“<em>Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun</em>.” (HR Ibnu Majah (no. 209), pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab Shahih Ibnu Majah, no. 173).</span></p>
<p style="text-align: justify">Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau, memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena Allah Ta’ala menjadikan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai penjelas dan penjabar dari Al-Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber utama syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar.<span id="more-1153"></span></p>
<p style="text-align: justify">Namun realita yang kita lihat saat ini adalah, banyak diantara kita yang jarang atau bahkan sama sekali tidak mau mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ironis memang, di saat banyak orang yang mengatakan bahwa ia mencintai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, namun ia sendiri tidak mengetahui sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align: justify">Abdul Malik Al-Qasim, penulis kitab <strong>Sunan Qalla Al-Amalu Bihaa</strong> yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh pustaka <a title="Pustaka At-Tibyan" href="http://at-tibyan.com/">At-Tibyan</a>, mengumpulkan beberapa sunnah-sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang terlihat asing atau sedikit yang mengamalkannya bahkan sudah ditinggalkan oleh umat Islam.</p>
<p style="text-align: justify">Beberapa diantara sunnah-sunnah yang beliau tulis dalam buku tersebut adalah:</p>
<p style="text-align: justify"><strong>1. Shalat Dengan Menghadap Sutrah</strong></p>
<p style="text-align: justify">Diriwayatkan dari Abu Shalih As-Samman ia berkata: “Aku melihat Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiyallah ‘anhu</em> pada hari Jum’at shalat dengan menghadap kepada sesuatu yang melindungi dirinya dari orang-orang yang lalu lalang. Lalu ada seorang pemuda dari Bani Mu’aith hendak lewat di hadapannya. Abu Sa’id menolak dadanya. Pemuda itu melihat tidak ada jalan kecuali lewat di hadapan Abu Sa’id. Sekali lagi ia berusaha untuk lewat, Abu Sa’id kembali menolaknya lebih keras dari yang pertama. Iapun mencerca Abu Sa’id lalu mendatangi Marwan dan melaporkan perlakuan Abu Sa’id terhadapnya tadi. Abu Sa’id menyusul di belakangnya datang menemui Marwan. Maka Marwanpun berkata: “Ada apa antara kamu dengan saudaramu itu wahai Abu Sa’id?” Abu Sa’id berkata: “Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right">إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ</h2>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Apabila salah seorang dari kamu mengerjakan shalat dengan menghadap sesuatu yang melindunginya dari manusia lalu ada seorang yang ingin melintas di hadapannya maka hendaklah ia menolaknya. Apabila orang itu bersikeras maka lawanlah, sesungguhnya orang itu adalah setan.” </em>(Shahih Al-Bukhari dalam kitab Ash-Shalat (905) dan Shahih Muslim dalam kitab Ash-Shalat (505).)</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><strong>2. Senantiasa Bersiwak</strong></p>
<p style="text-align: justify">Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallah ‘anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right">لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ</h2>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Kalaulah aku tidak ingin memberatkan umatku atau memberatkan manusia, niscaya aku perintahkan agar mereka bersiwak setiap kali hendak shalat.”</em> (Shahih Al-Bukhari dalam kitab Al-Jum’ah (887) dan shahih Muslim dalam kitab Ath-Thaharah (252).)</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><strong>3. Melepas Alas Kaki Ketika Memasuki Perkuburan</strong></p>
<p style="text-align: justify">Diriwayatkan dari Basyir Maula Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> –pada masa jahiliyah dahulu namanya Zahm bin Ma’bad lalu ia pergi hijrah ke Madinah. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepadanya, <em>“Siapakah namamu?”</em> Ia menjawab, “Zahm!” Rasul bersabda, <em>“Tidak, namun namamu adalah Basyir.”</em>- Ia berkata, “Ketika aku berjalan bersama Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melewati perkuburan kaum musyrikin beliau bersabda, <em>“Sungguh mereka telah terluput dari kebaikan yang banyak.”</em> Beliau katakan sebanyak tiga kali. Kemudian beliau melewati perkuburan kaum muslimin. Beliau bersabda, <em>“Sungguh mereka telah memperoleh kebaikan yang banyak.”</em></p>
<p style="text-align: justify">Lalu pandangan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tertuju kepada seorang lelaki yang sedang berjalan di sela-sela kuburan dengan mengenakan sandal. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Wahai pemilik sandal Sibtiyyah, celaka engkau! Lepaslah sandalmu itu.”</em></p>
<p style="text-align: justify">Lelaki itu menoleh, demi mengetahui bahwa itu adalah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ia segera melepas sandalnya dan membuangnya.” (Sunan Abu Dawud dalam kitab Al-Janaiz (3230), Sunan An-Nasa’i dalam kitab Al-Janaiz (2048) dan Sunan Ibnu Majah dalam kitab Al-Janaiz (1566).</p>
<p style="text-align: justify">Dan masih banyak lagi sunnah-sunnah yang penulis paparkan dalam buku <strong>Sunnah-sunnah yang Jarang Diamalkan</strong>. Semoga dengan membaca buku tersebut, mampu membangkitkan semangat kita untuk mengamalkan sunnah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang sudah mulai tampak asing dalam kehidupan keseharian kita. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk mampu mengamalkan dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Amiin. <em>Wallahu a’lam bish shawab.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/akankah-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Layanan Baru www.An-Naba.com</title>
		<link>http://an-naba.com/layanan-baru-www-an-naba-com/</link>
		<comments>http://an-naba.com/layanan-baru-www-an-naba-com/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 16:01:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[penyejuk hati]]></category>
		<category><![CDATA[sms]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=967</guid>
		<description><![CDATA[
Alhamdulillah, kini An-Naba.com tampil baru dengan sebuah program layanan baru yang lebih fresh dan lain daripada yang lain. Layanan ini kami kemas dalam sebuah nama indah &#8220;SMS Mutiara Hikmah Penyejuk Hati&#8220;. Masih dalam suatu kemasan utama untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita.

Ini adalah salah satu program layanan terbaik kami untuk memberikan manfaat kepada pengunjung dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="SMS Mutiara Hikmah Penyejuk Hati" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/02/mutiara-hikmah_flat_hpw.jpg" alt="" width="426" height="296" /></p>
<p>Alhamdulillah, kini <a href="http://an-naba.com">An-Naba.com</a> tampil baru dengan sebuah program layanan baru yang lebih fresh dan lain daripada yang lain. Layanan ini kami kemas dalam sebuah nama indah &#8220;<em>SMS Mutiara Hikmah Penyejuk Hati</em>&#8220;. Masih dalam suatu kemasan utama untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita.</p>
<p><span id="more-967"></span></p>
<p>Ini adalah salah satu program layanan terbaik kami untuk memberikan manfaat kepada pengunjung dan member setia kami.</p>
<p>Program ini kami berikan kepada Anda dengan cuma-cuma tanpa mengharapkan biyaya apapun dari Anda, baik berupa uang maupun pulsa handphone Anda.</p>
<p>Dengan <em>SMS MUTIARA HIKMAH PENYEJUK HATI </em>ini, Insya Allah akan memberikan manfaat kepada Anda, keluarga, dan teman-teman Anda. Adapun materi sms kami adalah:</p>
<ol>
<li> Hadits-hadits  Rasulullah yang shahih.</li>
<li>Taushiyah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)</li>
<li>Nasehat-nasehat kebaikan.</li>
<li>Info-info berkualitas dan bermutu.</li>
</ol>
<p><a href="http://an-naba.com/sms/">Daftarkan segera</a> diri Anda, keluarga, dan teman-teman Anda sekarang juga untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari program ini serta sebagai sarana beramal shalih buat Anda. Siapa yang paling cepat merespon program untuk kebaikan ini maka dia akan mendapatkan kesempatan amal kebaikan yang paling banyak.</p>
<p>Layanan ini 100% Gratis, tidak ada biaya kaget di tengah jalan, tidak ada <em>hidden charge</em>, tidak ada pencurian pulsa, tidak ada penipuan, hanya memberikan 100% manfaat, dan 0% madharat.</p>
<blockquote><p>“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (H.R. Bukhari).</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/layanan-baru-www-an-naba-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibalik Keheningan Malam</title>
		<link>http://an-naba.com/dibalik-keheningan-malam/</link>
		<comments>http://an-naba.com/dibalik-keheningan-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 03:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yasirsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[derajat]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[qiyamul lail]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tahajjud]]></category>
		<category><![CDATA[tathawwu']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[
Shalat Tahajjud atau Shalat Malam atau yang biasa disebut juga Qiyamul Lail adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia, yang disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ibadah ibadah sunnah. Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan, maka ia memiliki banyak keutamaan. Berat memang, karena memang tidak setiap muslim sanggup melakukannya.
Seandaikan kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-848" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/02/qiyamul-lail.jpg" alt="" width="328" height="246" /></p>
<p><strong>Shalat Tahajjud</strong> atau Shalat Malam atau yang biasa disebut juga <em>Qiyamul Lail</em> adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia, yang disyari’atkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> sebagai ibadah ibadah sunnah. Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan, maka ia memiliki banyak keutamaan. Berat memang, karena memang tidak setiap muslim sanggup melakukannya.</p>
<p>Seandaikan kita tahu keutamaan dan kenikmatannya, tentu kita akan bersegera untuk menggapainya.<span id="more-839"></span></p>
<p>Begitu banyak keterangan yang ada dalam Al-Qura&#8217;n dan As-Sunnah tentang keutamaan ibadah ini, di antaranya:</p>
<p>1. Barang siapa menunaikan ibadah <em>qiyamul lail</em>, maka ia telah menaati perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p><em>“Dan pada sebagian malam hari, sholat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah (tambahan) bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”</em> (Al-Isra’:79)</p>
<p><em>&#8220;Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.&#8221;</em> (QS. As-Sajdah: 16-17)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda: <em>“Shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu adalah qiyamul lail (shalat di tengah malam).”</em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>2. <em>Qiyamul lail</em> itu adalah kebiasaan orang-orang shalih dan calon penghuni surga. Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman:</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”</em> (Adz-Dzariyat: 15-18).</p>
<p>3. Siapa yang menunaikan <em>qiyamul lail</em> itu, dia akan terpelihara dari gangguan setan, dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan <em>qiyamul lail</em>, ia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal shalih.</p>
<p>4. Ketahuilah, di malam hari itu ada satu waktu dimana Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan mengabulkan doa orang yang berdoa, Allah akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila ia memohon ampunan kepada-Nya.</p>
<p>Hal itu sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sabda beliau: “<em>Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap malam.”</em> (HR Muslim No. 757). Dalam riwayat lain juga disebutkan oleh beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: <em>“Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?”</em> (HR Bukhari 3/25-26). Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>juga berfirman: <em>“Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya, siapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya, dan siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” Hal ini terus terjadi sampai terbitnya fajar.</em> (Tafsir Ibnu Katsir 3/54)</p>
<p>Pembaca yang budiman, itulah beberapa keutamaan dan kenikmatan bermunajat kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> di kehingan malam, <em>qiyamul lail</em>. Sungguh, hanya orang yang hatinya memang diberi taufiq oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang dapat merasakannya keindahannya dan tidak akan merasakan bagi siapa pun yang dijauhkan dari taufik-Nya. Mudah-mudahan, kita semua termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang diberi keutamaan menunaikan <em>qiyamul lail</em> secara istiqamah. <em>Wallahua&#8217;lam bisshawab.</em></p>
<p>Bukankah janji Allah dan Rasul-Nya adalah benar adanya? Tidakkah kita ingin dosa-dosa kita dihapus dan derajat kita diangkat oleh Allah di akhirat kelak? Lantas bagaimanakah tata cara dan adab <em>qiyamul lail</em> yang sesuai dangan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>? Dapatkan keterangan yang gamblang dalam buku:</p>
<h3><span style="color: #000000;">&#8220;Rahasia Shalat Malam&#8221; </span></h3>
<p>Penulis: Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthaani</p>
<p>Penerbit: Daar An-Naba, Solo</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-843 aligncenter" style="border: 0pt none; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/02/3D-Book-rahasia-sholatmalam-2.jpg" alt="" width="400" height="701" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/dibalik-keheningan-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Shalat Sunnah</title>
		<link>http://an-naba.com/keutamaan-shalat-sunnah/</link>
		<comments>http://an-naba.com/keutamaan-shalat-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 04:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[cara]]></category>
		<category><![CDATA[derajat]]></category>
		<category><![CDATA[dihisab]]></category>
		<category><![CDATA[hari kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[hisab]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sunah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<category><![CDATA[tata]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara]]></category>
		<category><![CDATA[tathawwu']]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=792</guid>
		<description><![CDATA[1.    Menyempurnakan shalat wajib dan menutupi kekurangannya.
Berdasarkan hadits marfu’ riwayat Tamim Ad-Daari -Radhiyallahu &#8216;anhu-:
“Amal yang kali pertama dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat nanti adalah shalatnya. Bila shalatnya sempurna, maka akan dituliskan pahalanya dengan sempurna. Bila belum sempurna, maka Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Lihatlah apakah kalian mendapatkan hamba-Ku itu mengerjakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/02/solat.jpg" target="_blank"><img class="alignleft size-medium wp-image-793" style="border: 0pt none;margin: 3px 5px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/02/solat-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><span style="color: #800000"><strong>1.    Menyempurnakan shalat wajib dan menutupi kekurangannya.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan hadits marfu’ riwayat Tamim Ad-Daari -Radhiyallahu &#8216;anhu-:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Amal yang kali pertama dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat nanti adalah shalatnya. Bila shalatnya sempurna, maka akan dituliskan pahalanya dengan sempurna. Bila belum sempurna, maka Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Lihatlah apakah kalian mendapatkan hamba-Ku itu mengerjakan shalat tathawwu’ sehingga dengannya kalian menyempurnakan shalat wajibnya?’ Demikian juga dengan zakatnya, kemudian baru amal perbuatan lain dihisab menurut ukuran tersebut.”</em></span> (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)<span id="more-792"></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800000"><strong>2.    Mengangkat derajat seseorang dan menghapuskan kesalahannya.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan hadits Tsauban maula Rasulullah -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam-, dari Nabi bahwa beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Hendaknya kalian banyak-banyak bersujud. Sesungguhnya apabila kalian bersujud kepada Allah sekali saja, akan Allah angkat satu derajat kalian dan akan Allah hapuskan satu kesa­lahan kalian.”</em></span> (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800000"><strong>3.    Memperbanyak shalat sunnah merupakan sebab terbesar masuknya seorang hamba ke dalam Surga, untuk menemani Rasulullah -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam-</strong><strong>.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan hadits Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami -Radhiyallahu &#8216;anhu- bahwa ia bercerita, “Aku pernah menginap di rumah Rasulullah -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam-. Aku membawakan air wudhu dan keperluan beliau. Beliau berkata, &#8216;Mintalah sesuatu.&#8217; Aku menjawab, &#8216;Aku ingin menjadi orang yang menemanimu di Surga.&#8217; &#8216;Atau ada permintaan lain?&#8217; Tanya beliau. &#8216;Itu saja.&#8217; Jawabku. Beliau -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam- bersabda:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud..”</em></span> (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800000"><strong>4.    Shalat sunnah adalah amalan sunnah lahiriyah yang paling utama setelah jihad dan ilmu, baik mempelajari maupun mengajarkannya.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan hadits Tsauban -Radhiyallahu &#8216;anhu- bahwa Rasulullah -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam- bersabda:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Istiqamahlah kalian, dan kalian tidak akan pernah sempurna. Ketahuilah, sebaik-baik amalan kalian adalah shalat. Tidak ada yang selalu menjaga wudhu selain orang beriman.”</em></span> (HR. Ibnu Majah dan Imam Ahmad)</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800000"><strong>5.    Shalat sunnah di rumah akan membawa keberkahan.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah -Radhiyallahu &#8216;anhu- bahwa Rasulullah -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam- bersabda:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Apabila salah seorang di antaramu usai shalat di masjid, hendaknya ia menyisakan shalat untuk dikerjakan di rumahnya. Karena Allah menjadikan kebaikan di rumahnya dengan shalatnya tersebut.”</em></span> (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify">Juga berdasarkan hadits marfu’ dari Zaid bin Tsabit -Radhiyallahu &#8216;anhu- yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah kalian, karena seutama-utama shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.”</em></span> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align: justify">Dalam lafazh hadits Muslim:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Hendaklah kalian mengerjakan shalat di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib.”</em></span> (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify">Juga berdasarkan hadits Ibnu Umar -Radhiyallahu &#8216;Anhuma- dari Rasulullah -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam-, beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Jadikanlah sebagian dari shalat kalian untuk dilakukan di rumah kalian, dan jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan.”</em></span> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800000"><strong>6.    Shalat sunnah dapat membuahkan kecintaan Allah kepada seorang hamba.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan hadits Abu Hurairah -Radhiyallahu &#8216;anhu- bahwa Rasulullah -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam- bersabda, Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000080"><em>“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan peperangan kepadanya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang lebih Aku sukai daripada amalan yang telah Aku wajibkan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Bila ia meminta, pasti akan Aku berikan. Bila ia meminta perlindungan, pasti Aku beri perlindungan. Tidak pernah Aku merasa bimbang sebagaimana ketika Aku mencabut nyawa seorang mukmin yang tidak menyukai kematian, sementara Aku tidak ingin menyakitinya.”</em></span> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify">Secara tekstual hadits di atas, kecintaan Allah kepada seorang hamba akan muncul bila seorang hamba istiqamah mengerjakan kewajibannya dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah-ibadah sunnah setelah melak­sanakan yang wajib, baik berupa shalat, puasa, zakat, haji atau ibadah lainnya.</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800000"><strong>7.    Meningkatkan rasa syukur seorang hamba kepada Allah -&#8217;Azza wa Jalla-.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan hadits Aisyah -Radhiyallahu &#8216;Anha- bahwa Nabi -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam- biasa melakukan shalat malam hingga telapak kaki beliau bengkak. Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau lakukan itu, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, <span style="color: #000080"><em>“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang banyak bersyukur?”</em></span> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align: justify">Al-Mughirah bin Syu’bah -Radhiyallahu &#8216;anhu- juga meriwayatkan bahwa ia bercerita, Rasulullah biasa melakukan shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak-bengkak. Ada orang bertanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, <span style="color: #000080"><em>“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang banyak bersyukur?”</em></span></p>
<p>(Dikutip dari buku Himpunan Dan Tata Cara Shalat Sunnah Sesuai Tuntunan Rasulullah -Shalallahu &#8216;alaihi wa Sallam- karya Dr. Sa&#8217;id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani. Diterbitkan oleh <a href="http://www.at-tibyan.com" target="_blank">Pustaka At-Tibyan</a> &#8211; Solo)</p>
<p style="text-align: right">Bersambung Insya Allah dengan pembahasan &#8220;Keutamaan Shalat Rawatib&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/keutamaan-shalat-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WANITA MUSLIMAH DI BULAN RAMADHAN (2)</title>
		<link>http://an-naba.com/wanita-muslimah-di-bulan-ramadhan-2/</link>
		<comments>http://an-naba.com/wanita-muslimah-di-bulan-ramadhan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 09:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Alquran]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[haidh]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[marhaban]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[shahih]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.an-naba.com/?p=657</guid>
		<description><![CDATA[
Wanita haidh pada bulan Ramadhan 
Puasa yang sedang dikerjakan oleh wanita tidak akan batal kecuali jika darah haidh keluar yaitu sejak dimulainya haidh ketika keluarnya darah maka batallah puasa yang sedang ia lakukan dan ia wajib untuk berbuka. Tidak ada perselisihan pendapat diantara para ulama bahwa wanita haidh harus mengqadha’ (mengganti) puasanya. Ibnu Taimiyah Rahimahullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://pustakanaba.wordpress.com/files/2009/07/muslimahberdoa.jpg" alt="" width="332" height="307" /></p>
<p><strong>Wanita haidh pada bulan Ramadhan </strong></p>
<p>Puasa yang sedang dikerjakan oleh wanita tidak akan batal kecuali jika darah haidh keluar yaitu sejak dimulainya haidh ketika keluarnya darah maka batallah puasa yang sedang ia lakukan dan ia wajib untuk berbuka. Tidak ada perselisihan pendapat diantara para ulama bahwa wanita haidh harus mengqadha’ (mengganti) puasanya. Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata “Wanita haidh tidak boleh shiyam, tetapi ia harus mengganti shiyam yang ia tinggalkan, sebab keluarnya darah haidh dapat membatalkan shiyam.”</p>
<p>Apabila wanita haidh tetap melaksanakan puasa, maka puasanya tidak sah dan wajib mengqadha’nya (mengganti) ketika ia sudah suci. Bahkan haram hukumnya bagi wanita tersebut melaksanakan puasa. Sebab mereka melakukajn ibadah yang tidak sah yang pada asalnya terlarang mereka lakukan.</p>
<p>Wanita haidh disunnahkan untuk tetap makan dan minum pada sisa waktu bukan dengan niat puasa namun demi menghormati perasaan orang lain yang sedang menjalankan ibadah puasa. Namun hal itu tidak wajib karena mereka tidak puasa karena suatu alasan tertentu yang dapat ditetapkan sesuai syariat. Hanya saja mereka wajib mengganti puasa yang telah ditinggalkan pada hari tersebut.</p>
<p>Sekarang timbul pertanyaan bagaimana jika matahari terbenam lalu keluar darah haidh apakah puasanya sah? bagaimana pula jika wanita baru pertama kali mengalami haidh atau memiliki jadwal haidh tetap atau wanita yang bingung menentukan jadwal haidhnya?</p>
<p>Seorang wanita wajib melaksanakan puasa Ramadhan dengan sempurna dengan cara mengqadha’ puasa yang pernah ia tinggalkan di bulan Ramadhan. Sebab hal itu termasuk hutang yang wajib ia tunaikan dan jangan sampai di tunda. Bagi wanita yang tidak puasa karena udzur (berhalangan) tidak diwajibkan tetapi dianjurkan untuk mengqadha puasa secara berturut-turut, akan tetapi tidak mengapa mengqadha’nya dengan terpisah-pisah, jika memang waktu mengqadha’ masih panjang. Hal tersebut berdasarkan firman Allah SWT “..<em>maka (wajiblah baginya puasa)sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain</em>.”(QS. Al-Baqarah:184).</p>
<p>Tidak boleh menunda qadha puasa bagi wanita yang haidh tersebut hingga Ramadhan berikutnya. Jika sengaja menundanya maka ia berdosa. Hanya saja jika ia terlambat mengqadha’ puasanya, maka ia wajib membayar kafarah yang berupa fidyah dengan memberi makan seorang miskin setiap harinya akibat keterlambatannya mengqadha’ puasa.</p>
<p>Membaca Al-Quran merupakan ibadah yang utama bagi seorang wanita ketika bulan Ramadhan karena dengan memperbanyak membaca Al-Quran akan mendapatkan pahala yang besar. Akan tetapi ada perkara-perkara yang menyebabkan wanita tidak boleh menyentuh Al-Quran.</p>
<p>(BERSAMBUNG&#8230;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/wanita-muslimah-di-bulan-ramadhan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WANITA MUSLIMAH DI BULAN RAMADHAN</title>
		<link>http://an-naba.com/wanita-muslimah-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://an-naba.com/wanita-muslimah-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 04:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[marhaban]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[rekaat]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[shalihah]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.an-naba.com/?p=607</guid>
		<description><![CDATA[WANITA MUSLIMAH DI BULAN RAMADHAN(1)

Wanita dan Shalat Tarawih
Shalat adalah ibadah yang telah Allah SWT tetapkan atas bani Adam baik laki-laki maupun perempuan karena banyak sekali keutamaan yang besar bagi kaum wanita, maka Rasulullah SAW senantiasa menganjurkan kepada para sahabiyah agar mengerjakannya dan melaksanakannya. Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa shalat malam bulan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>WANITA MUSLIMAH DI BULAN RAMADHAN(1)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Wanita Muslimah di Bulan Ramadhan" src="http://pustakanaba.wordpress.com/files/2009/07/muslimah.jpg" alt="" width="350" height="278" /></p>
<p><strong>Wanita dan Shalat Tarawih</strong></p>
<p>Shalat adalah ibadah yang telah Allah SWT tetapkan atas bani Adam baik laki-laki maupun perempuan karena banyak sekali keutamaan yang besar bagi kaum wanita, maka Rasulullah SAW senantiasa menganjurkan kepada para sahabiyah agar mengerjakannya dan melaksanakannya. Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah SAW bersabda <em>“Barangsiapa shalat malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.</em>”(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Kaum wanita boleh mengerjakan shalat, termasuk di dalamnya Qiyamul lail atau shalat tarawih di masjid. Dasarnya adalah berdasarkan sabda Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda “<em>Jika istri salah seorang dari kamu meminta izin ke masjid, maka janganlah ia melarangnya.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim). Hendaklah kaum wanita mengetahui bahwa izin yang disebutkan dalam nash-nash bukanlah suatu hal yang wajib (yakni wajib di beri izin) akan tetapi dengan syarat-syarat yang telah disebutkan oleh para ulama yang diambil dari beberapa hadist. Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata “<em>Bab keluarnya wanita ke masjid jika tidak menimbulkan fitnah dan keluar tanpa mengenakan parfum.</em>” Lantas bagaimana dengan sebagian kaum wanita yang melaksanakan shalat tarawih di rumah?</p>
<p>Shalat seorang wanita di rumahnya lebih afdhal daripada shalat di masjid. Karena yang terbaik bagi wanita adalah berdiam di rumahnya. Dasrnya adalah hadist riwayat dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu ia berkata, Rasulullah SAW bersabda “<em>Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid. Dan rumah mereka lebih baik bagi mereka.</em>”(HR. Abu Dawud). Lalu bagaimanapula dengan wanita muslimah saat ini yang keluar mengenakan perhiasan dan parfum, mengenakan pakaian yang paling indah, sementara Aisyah Radhiyallahu’anha telah mengatakan “Kalaulah Rasulullah SAW mengetahui apa yang dilakukan oleh para wanita sepeninggal beliau, niscaya beliau akan melarang mereka keluar ke masjid.”</p>
<p>Hendaklah kaum wanita memperhatikan bimbingan dan menjauhi segala bentuk pelanggaran dalam pelaksanaan shalat tarawih. Sunnah bagi kaum wanita agar melaksanakan shalat tarawih tidak lebih dari sebelas rekaat berdasarkan riwayat Aisyah Radhiallahu’anha bahwa ia pernah di tanya tentang kaifiyat shalat tarawih dibulan Ramadhan. Ia menjawab “<em>Beliau Rasulullah SAW tidak pernah mengerjakannya lebih dari sebelas rekaat pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.</em>” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi). Sunnah bagi kaum wanita membaca Al-Quran dalam shalatnya melalui hafalan. Hendaklah para wanita menempati shaf yang paling belakang karena itulah yang utama dan diperintahkan oleh syariat.</p>
<p>Pelanggaran yang harus dihindari oleh kaum wanita dalam shalat tarawih adalah larangan duduk di masjid sebelum melakukan shalat tahiyyatul masjid. Termasuk pelanggaran adalah pergi ke masjid dengan memakai parfum. Ini merupakan perbuatan yang dilarang sebagaimana yang sering dijumpai wanita di banyak masjid. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW “<em>Siapa saja wanita yang memakai parfum kemudian keluar ke masjid, maka tidak diterima shalatnya hingga mandi</em>.” (HR. Ibnu Majah)</p>
<p>Perkara yang berkaitan dengan haidh merupakan masalah yang penting bagi wanita terutama pada bulan Ramadhan. Dan sekilas kita akan singgung masalah yang sangat penting berkaitan dengan haidh yang banyak dialami oleh wanita.</p>
<p><strong>(BERSAMBUNG&#8230;)</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.an-naba.com/?page_id=580"><span style="color: #ff0000;">PROMO RAMADHAN (NEW&#8230;..!!!!!)</span></a><br />
</strong></p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://www.an-naba.com/?p=601"><span style="color: #ff0000;"><strong>Ke Artikel Sebelumnya</strong></span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/wanita-muslimah-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RENUNGAN RAMADHAN (TAMAT)</title>
		<link>http://an-naba.com/601/</link>
		<comments>http://an-naba.com/601/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 09:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[amal sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[shahih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.an-naba.com/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[RENUNGAN RAMADHAN(TAMAT)

Saudaraku muslim renungilah..
Ramadhan sebentar lagi akan sampai di hadapan kita. Begitu banyak keistimewaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Allah SWT menjanjikan pahala yang besar bagi kita yang senantiasa memanfaatkan, mengisi dan menghiasi bulan Ramadhan ini dengan ibadah dan amal sholeh.
Sungguh merugi diri ini, jikalau Ramadhan berlalu tanpa memperoleh ampunan. Suatu saat malaikat Jibril datang menemui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>RENUNGAN RAMADHAN(TAMAT)</strong></p>
<p><img class="alignleft" title="ramadhan" src="http://pustakanaba.wordpress.com/files/2009/07/ramadhan4.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Saudaraku muslim renungilah..</p>
<p>Ramadhan sebentar lagi akan sampai di hadapan kita. Begitu banyak keistimewaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Allah SWT menjanjikan pahala yang besar bagi kita yang senantiasa memanfaatkan, mengisi dan menghiasi bulan Ramadhan ini dengan ibadah dan amal sholeh.</p>
<p>Sungguh merugi diri ini, jikalau Ramadhan berlalu tanpa memperoleh ampunan. Suatu saat malaikat Jibril datang menemui Rasulullah SAW dan berkata kepada beliau “<em>Barangsiapa mendapati bulan ramadhan namun tidak memperoleh ampunan sehingga masuk neraka maka semoga Allah SWT menjauhkan dirinya</em><em>!</em>” kemudian Rasulullah mengamininya.</p>
<p>Wahai saudaraku, jangan lewatkan kesempatan emas yang sangat bergharga ini, jangan biarkan bulan Ramadhan berlalu tanpa bekas dan persiapkan diri sebaik-baiknya menyambut bulan suci. Maghfirah (ampunan) Illahi siap menyambut hamba yang bersungguh-sungguh mengejarnya. Semua insan pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan dan sebaik orang-orang yang bersalah adalah bertaubat. Betapa ruginya kita jika bulan Ramadhan berlalu tanpa secuil kebaikanpun yang kita peroleh.</p>
<p>Betapa meruginya bila kita hanya memperoleh lapar dan dahaga dari ibadah shaum yang kita lakukan. Pada hakekatnya puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja akan tetapi menjaga ibadah puasa kita dari perkara-perkara yang merusak nilai puasa dan membuatnya sia-sia.</p>
<p>Seorang muslim sudah sepantasnya ingin meraih manisnya ketaatan ibadah bukan hanya selama Ramadhan akan tetapi juga ketika meninggalkan Ramadhan sehingga diharapkan setelah Ramadhan berlalu, menjadikan kita seorang pribadi muslim yang semakin meningkat kadar keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.</p>
<p>Oleh karena itu akhi muslim kita harus senantiasa thalabul ilmi terkait segala sesuatu di bulan Ramadhan, mulai dari persiapan menyambut Bulan Ramadhan yang agung, ibadah, amalan dan sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, perkara pembatal puasa dan perkara yang boleh dilakukan selama bulan Ramadhan, seputar iktikaf, lailatul qadar dan penempatan waktunya serta masih banyak lagi agar kita dapat meraih kemuliaan Ramadhan. Semuanya dibahas secara tegas, lugas, lengkap, terperinci, mudah dipahami dan sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.</p>
<p>Barangsiapa menjadi lebih baik daripada sebelumnya maka itu merupakan buah kesuksesan di bulan ramadhan dan barangsiapa yang tidak mendapat kebaikan pada bulan itu, niscaya sangat merugi. Tunggu Apa lagi persiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang saudaraku.</p>
<p>Dikutip dari :</p>
<p><strong>Judul buku           : “Renungan Ramadhan”</strong></p>
<p><strong>Pengarang           :   Abu Ihsan Al Atsari</strong></p>
<p><strong>Penerbit                :   Pustaka At-tibyan<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/601/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
