<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>An-Naba Online &#187; Mimbar Ilmu</title>
	<atom:link href="http://an-naba.com/category/mimbar-ilmu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://an-naba.com</link>
	<description>Penerbit Buku Islami &#124; Terdepan Dalam Kualitas</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 09:12:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Kesabaran Abdullah bin Hudzafah</title>
		<link>http://an-naba.com/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/</link>
		<comments>http://an-naba.com/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 06:46:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[abdulah bin hundzafah]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[indahnya kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[raja romawi]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[umar bin khathab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2726</guid>
		<description><![CDATA[Abdullah bin Hudzafah tetap teguh memegang agamanya dan tidak menerima agama selainnya walaupun ia diiming-imingi dengan kerajaan Kisra dan yang semisalnya untuk diberikan kepadanya dan seluruh kerajaan Arab. Kemudian ia tetap membenarkan atas Allah tidak takut terhadap para pemanah yang hendak memanahnya dalam keadaan tubuh sedang disalib. Ia juga tidak takut terhadap belanga yang berisi air yang mendidih ketika ia melihat salah seorang tawanan dilemparkan ke dalamnya hingga nampak tulang belulangnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;">Apabila manusia melihat keadaan Abdullah bin Hudzafah bin Qais <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ketika Raja Romawi hendak menghalanginya dari agamanya, niscaya mereka kan melihat kedudukan yang mulia dan laki-laki yang agung.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #333399;"><img class="alignleft size-full wp-image-2727" title="Colosseum_bird island_posting" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/05/Colosseum_bird-island_posting.jpg" alt="" width="336" height="347" />Umar bin Khattab <em>radhiayallahu ‘anhu</em> memberangkatkan tentaranya menuju Romawi. Kemudian tentara Romawi berhasil menawan Abdullah bin Hudzafah dan membawanya pulang ke negeri mereka. Kemudian mereka berkata:</span> <span style="color: #ff0000;">“Sesungguhnya ia adalah salah seorang sahabat Muhammad.” </span><span style="color: #333399;">Raja Romawi berkata:</span> <span style="color: #ff0000;">“Apakah kamu mau memeluk agama Nashrani dan aku hadiahkan kepadamu setengah dari kerajaanku?”</span> <span style="color: #333399;">Abdullah bin Hudzafah menjawab:</span> <span style="color: #008000;">“Seandainya engkau serahkan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab, aku tidak akan meninggalkan agama Muhammad <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> sekejap mata pun.”</span><span style="color: #333399;"> Raja Romawi berkata:</span> <span style="color: #ff0000;">“Kalau begitu, aku akan membunuhmu.”</span> <span style="color: #333399;">Ia menjawab: </span><span style="color: #008000;">“Silahkan saja!”<span id="more-2726"></span></span> <span style="color: #333399;"> </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #333399;">Maka Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyalibnya dan berseru kepada pasukan pemanah: </span><span style="color: #ff0000;">“Panahlah ia, arahkan sasarannya pada tempat-tempat yang terdekat dengan badannya.”</span><span style="color: #333399;"> Sementara dia tetap berpaling, enggan, dan tidak takut. Maka raja Romawi pun menurunkannya dari tiang salib. Dia perintahkan kepada pengawalnya untuk menyiapkan belanga (<em>kuali</em>) yang diisi dengan air dan direbus hingga mendidih. Kemudian ia perintahkan untuk memanggil tawanan-tawanan dari kaum muslimin. Kemudian ia lemparkan salah seorang dari mereka ke dalam belanga tadi hingga tinggal tulang belulangnya. Namun Abdullah bin Hudzafah tetap berpaling dan enggan untuk masuk agama Nashrani. Kemudian Raja memerintahkan pengawalnya untuk melemparkan Abdullah bin Hudzafah ke dalam belanga jika ia tidak mau memeluk agama Nashrani. Ketika mereka hendak melemparkannya beliau menangis. Kemudian mereka melapor kepada Raja: </span><span style="color: #ff0000;">“Sesungguhnya dia menangis.”</span> <span style="color: #333399;">Raja mengira bahwasanya beliau takut, maka ia berkata: </span><span style="color: #ff0000;">“Bawa dia kemari!”</span> <span style="color: #333399;">Lalu berkata: </span><span style="color: #ff0000;">“Mengapa engkau menangis?”</span> <span style="color: #333399;">Jawabnya :</span> <span style="color: #008000;">“Aku menangisi nyawaku yang hanya satu yang jika engkau lemparkan ke dalamnya maka akan segera pergi. Aku berharap seandainya nyawaku sebanyak rambut yang ada di kepalaku kemudian engkau lemparkan satu per satu ke dalam api karena Allah.”</span> <span style="color: #333399;">Maka Raja tersebut heran dengan jawabannya. Kemudian ia berkata :</span> <span style="color: #ff0000;">“Apakah engkau mau mencium keningku, kemudian akan kubebaskan engkau?”</span> <span style="color: #333399;">Abdullah menjawab :</span> <span style="color: #008000;">“Beserta seluruh tawanan kaum muslimin ?”</span> <span style="color: #333399;">Ia menjawab:</span> <span style="color: #ff0000;">“Ya.”</span> <span style="color: #333399;">Maka ia pun mencium kening raja tersebut dan bebaslah ia beserta seluruh tawanan kaum Muslimin. Para tawanan menceritakan kejadian ini kepada Umar bin Khattab. Maka berkatalah Umar:</span> <span style="color: #008000;">“Wajib bagi setiap muslim untuk mencium kening Abdullah bin Hudzafah. Aku yang akan memulainya.”</span> <span style="color: #333399;">Kemudian Umar mencium keningnya.</span></span><a href="#_ftn1"><span style="color: #333399;">1</span></a></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright" title="INDAHNYA KESABARAN" src="../wp-content/uploads/2011/05/INDAHNYA-KESABARAN.jpg" alt="" width="216" height="429" /><span style="color: #333399;">Ini adalah kedudukan yang agung lagi mulia karena Abdullah bin Hudzafah tetap teguh memegang agamanya dan tidak menerima agama selainnya walaupun ia diiming-imingi dengan kerajaan Kisra dan yang semisalnya untuk diberikan kepadanya dan seluruh kerajaan Arab. Kemudian ia tetap membenarkan atas Allah tidak takut terhadap para pemanah yang hendak memanahnya dalam keadaan tubuh sedang disalib. Ia juga tidak takut terhadap belanga yang berisi air yang mendidih ketika ia melihat salah seorang tawanan dilemparkan ke dalamnya hingga nampak tulang belulangnya. Bersamaan dengan itu ia berharap jika nyawanya sejumlah rambut di kepalanya yang disiksa di jalan Allah karena Allah semata. Maka ketika ia melihat kemashlahatan umum yaitu dibebaskannnya para tawanan, ia pun mau untuk mencium kening raja tersebut. Hal ini adalah merupakan suatu kebijakan yang amat agung. Maka Allah pun ridha terhadap Abdullah bin Hudzafah dan iapun ridha kepadaNya.</span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><span style="color: #333399;">Dikutip dari: &#8220;Indahnya Kesabaran&#8221; penulis: Said bin Ali Wahf al-Qahthany, Pustaka At-Tibyan, Solo</span><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<div style="text-align: justify;">
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ftnref1"><span style="color: #000000;">1</span></a><span style="color: #000000;"> Lihat: Siyaru A’lami An Nubalaa’, Adz Dzahabi, 2/14 ; dan Al Ishabah fi Tamyizi As Shahabah 2/269.</span></p>
</div>
</div>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Fkesabaran-abdullah-bin-hudzafah%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/kesabaran-abdullah-bin-hudzafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati yang Paling Jauh dari Allah</title>
		<link>http://an-naba.com/hati-yang-paling-jauh-dari-allah/</link>
		<comments>http://an-naba.com/hati-yang-paling-jauh-dari-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2011 09:13:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[airmata]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hati bersih]]></category>
		<category><![CDATA[hati keras]]></category>
		<category><![CDATA[hati lembut]]></category>
		<category><![CDATA[hati yang jauh]]></category>
		<category><![CDATA[ibnul qoyyim]]></category>
		<category><![CDATA[penyejuk hati]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2695</guid>
		<description><![CDATA[Barangsiapa menghendaki hatinya bersih hendaklah ia lebih mementingkan Allah Ta’ala daripada memenuhi tuntutan syahwatnya, sebab hati yang senantiasa berlumuran maksiat terhalang dari cahaya Allah sesuai kadar keterkaitanya dengan syahwat tersebut. Hati adalah bejana-bejana Allah di atas bumi-Nya, dan yang paling disukai-Nya adalah  hati yang paling jernih dan lembut." (Lihat kitab 'Al-Fawaid' hal. 128).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/hati-yang-paling-jauh-dari-allah/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-2697" title="Hati yang jauh dari Allah" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/03/Hati-yang-jauh-dari-Allah-copy.jpg" alt="" width="267" height="444" /> <span style="color: #000080;"> <span style="color: #0000ff;">Ibnul Qayyim berkata: &#8220;Sesungguhnya di dalam hati terdapat ruang kosong dan kekurangan yang tak dapat diisi oleh suatupun kecuali Allah, terdapat sesuatu yang kusut yang tidak dapat diurai kecuali dengan pendekatan diri kepada Allah, terdapat penyakit yang tak dapat disembuhkan selain dengan sikap ikhlas dan beribadah hanya kepada-Nya. Tidaklah seorang hamba dihukum dengan sesuatu yang lebih berat dari kekerasan hati dan keterjauhan dari Allah. Sungguh api itu diciptakan untuk melunakkan hati yang kasar. Sesungguhnya hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras, dan sebagaimana  diketahui, bilamana hati telah mengeras, maka air mata sulit mengalir dan mata menjadi kering (Tidak mudah menangis). Ia terasa berat mengalirkan air mata baik di saat berdzikir, takut kepada Allah ataupun ketika tunduk bersimpuh di hadapan Allah.</span><span id="more-2695"></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"> <span style="color: #ff0000;">Barangsiapa menghendaki hatinya bersih hendaklah ia lebih mementingkan Allah Ta’ala daripada memenuhi tuntutan syahwatnya, sebab hati yang senantiasa berlumuran maksiat terhalang dari cahaya Allah sesuai kadar keterkaitanya dengan syahwat tersebut. Hati adalah bejana-bejana Allah di atas bumi-Nya, dan yang paling disukai-Nya adalah  hati yang paling jernih dan lembut.&#8221; (Lihat kitab <strong>&#8216;Al-Fawaid&#8217;</strong> hal. 128).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"> <span style="color: #0000ff;">Betapa banyak telinga hati telah mendengar nasehat dan petuah, juga santapan ruhani dari para penasehat pagi dan petang, akan tetapi tidak juga ia mampu meresponnya bahkan kukuh dalam kekerasannya… ayat-ayat al-Qur&#8217;an yang sampai kepadanya hanya menambah kekerasan, keangkuhan dan kegersangannya… seakan pada pintunya dibentangkan pintu besi sehingga menghalangi kebenaran dan sejuknya dzikir  yang sampai pada pemilik.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"> Benarlah apa yang diucapkan seorang penyair:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"> <span style="color: #ff0000;">Dz<em>ikir menghidupkan hati</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><em> Laksana hujan yang menghidupkan bumi  kering</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><em> Dzikir, selamanya tiada berguna bagi hati-hati yang keras</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><em> Apakah batu bisa melunak kala mendengar ucapan penasehat</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em> </em><span style="color: #0000ff;">Sebagian manusia mampu merinding ketika mendengarkan nasehat dan dapat terpengaruhi jiwanya saat menyimak peringatan, akan tetapi, hal itu hanya sesaat. Perasaan itu sudah hilang ketika ia beranjak dari majlis nasehat dan waktu ia bangun dari mendengar peringatan itu. Akhirnya, ia seakan sama sekali tidak pernah mendengar nasehat apapun, dan peringatan yang baru saja ia dengar sama sekali tidak meninggalkan atau membekaskan pengaruh dan kesan… bagi orang demikian tepatlah ucapan Malik Bin Dinar: &#8220;Apabila fisik sakit, maka makanan, minuman dan bahkan sesungguhnya , istirahatnyapun tidak berguna.&#8221; Begitu pula, jika hati yang telah mabuk dunia, nasehat apapun tiada berguna baginya. Ia tertipu dan terpedaya dengan kesehatan fisik dan limpahan harta benda yang dimiliki. Ia mengira dirinya dalam kondisi baik baik saja, tak ada masalah, baik baik dan bahkan tak ada sanksi yang menghadangnya. Ia tidak mengetahui ketertipuan dan keterlenaannya, juga perubahan hatinya yang menjadi keras adalah sebesar besar bencana yang menimpanya, sedang ia tidak menyadari itu.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #003300;"><img class="alignleft size-full wp-image-2700" title="KIYAT MLEMBUTKAN ATI" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/03/KIYAT-MLEMBUTKAN-ATI.jpg" alt="" width="194" height="386" /></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Dikutip dari “Kiat Melembutkan Hati dan Menangis Karena Allah”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">penulis: Abdul Karim bin Abdul Majid ad-Diwaan, </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Pustaka at-Tibyan</span></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Fhati-yang-paling-jauh-dari-allah%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/hati-yang-paling-jauh-dari-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Tauhid</title>
		<link>http://an-naba.com/keutamaan-tauhid/</link>
		<comments>http://an-naba.com/keutamaan-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Feb 2011 07:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2684</guid>
		<description><![CDATA[Barangsiapa bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagiNya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya; serta bahwa Isa adalah hamba Allah, utusanNya, kalimatNya yang sampaikan kepada Maryam dan ruh dariNya, surga itu hak, dan neraka itu hak, maka Allah memasukkannya ke dalam surga atas amal yang telah dilakukannya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/keutamaan-tauhid/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-full wp-image-2685" style="margin-left: 10px;margin-right: 10px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/02/16a.jpg" alt="" width="324" height="243" /></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tauhid adalah tujuan diciptakannya alam semesta. Tauhid adalah ajaran keselamatan yang dibawa oleh para nabi. Tak seorang nabi pun melainkan menyeru umatnya kepada tauhid. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tauhid merupakan kewajiban pertama yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> wajibkan kepada umat manusia, dan sebaliknya larangan pertama yang Allah larang kepada mereka adalah syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">“<em>Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.</em>” (Q.S. Al Baqarah : 21-22)</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;<em>Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk</em>.&#8221; (QS. Al-An&#8217;am: 82).<span id="more-2684"></span><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud, ia mengatakan: &#8220;Ketika ayat ini turun, hal itu cukup memberatkan kaum muslimin. Mereka mengatakan, &#8216;Adakah di antara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri?&#8217; Maka Rasulullah <em>Shallallaahu ‘alaihi wa Salam</em> bersabda, <em>&#8216;Bukan demikian yang dimaksud, tetapi maksudnya adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada putranya, &#8220;Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar.&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;alaih).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ayat ini memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bertauhid yang tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kemusyrikan, bahkan mereka justru menjauhinya, maka mereka mendapatkan rasa aman yang sempurna dari adzab Allah di akhirat. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk di dunia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Rasulullah <em>Shallallaahu ‘alaihi wa Salam</em> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;<em>Iman itu ada lebih dari 60 cabang: yang tertinggi ialah pernyataan laa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari tengah jalan</em>.&#8221; (HR. Muslim).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Disebutkan <em>dalam</em> buku <em>Dalilul Muslim fil I`tiqad wat Tathhir </em>karya Fadhilatusy Syaikh Abdullah al-Khayyath sebagai berikut di bawah judul: <em>Tauhid Menyebabkan Kebahagiaan dan Menghapuskan dosa-dosa</em>:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, seseorang terkadang kakinya tergelincir dan jatuh dalam kemaksiatan. Jika ia termasuk ahli tauhid yang murni dari segala noda syirik, maka tauhidnya dan keikhlasannya dalam menyatakan <em>la ilaha illallah</em> akan menjadi faktor terbesar untuk kebahagiaannya, menghapuskan dosa-dosanya dan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Rasulullah <em>Shallallaahu ‘alaihi wa Salam</em>:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;<em>Barangsiapa bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagiNya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya; serta bahwa Isa adalah hamba Allah, utusanNya, kalimatNya yang sampaikan kepada Maryam dan ruh dariNya, surga itu hak, dan neraka itu hak, maka Allah memasukkannya ke dalam surga atas amal yang telah dilakukannya.</em>&#8220;</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Yakni sejumlah persaksian ini, yang dipersaksikan oleh setiap muslim lewat prinsip-prinsip ini, menyebabkan dirinya masuk ke dalam surga, negeri kenikmatan, meskipun pada sebagian amalnya terdapat kesalahan dan kelalaian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8216;<em>Wahai anak Adam, sekiranya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi, kemudian kamu berjumpa kepadaKu dengan tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya aku mem­berikan ampunan kepadamu hampir sepenuh bumi pula</em>.&#8221; (Hasan, riwayat at-Tirmidzi dan adh-Dhiya&#8217;).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Artinya, seandainya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa dan kemaksiatan hampir sepenuh bumi, asal kamu mati dalam keadaan bertauhid, niscaya Aku mengampuni dosa-dosamu.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Disebutkan dalam hadits:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;<em>Barangsiapa yang berjumpa Allah dengan tanpa mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, niscaya ia masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa Allah dengan mempersekutukannya pada sesuatu pun, niscaya ia masuk neraka</em>.&#8221; (HR. Muslim).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Semua hadits ini memperjelas keutamaan tauhid, dan bahwa tauhid adalah faktor terbesar kebahagiaan seorang hamba, serta sarana terbesar untuk menghapuskan dosa-dosanya dan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Tauhid merupakan tugas dan tanggung jawab setiap individu muslim selama hayat di kandung badan. Dia mengawali hidupnya dengan tauhid, dan meninggalkan alam dunia ini juga harus dengan tauhid. Demikian pula kewajibannya seumur hidup adalah menegakkan nilai-nilai tauhid, mendakwahkannya. Dan hanya tauhidlah yang bisa menyatukan kaum muslimin.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tauhid akan membebaskan manusia dari peribadahan kepada selain Allah. Karena segala sesuatu selain Allah tidak menciptakan ataupun menguasai kemanfaatan dan kemudharatan. Sehingga ia tidak layak untuk diibadahi. Maka dengan tauhid seorang manusia akan hanya tunduk beribadah kepada Rabb yang menciptakan dirinya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tauhid akan membentuk kepribadian yang unggul dan diperhitungkan. Karena dengan tauhid maka seorang manusia hanya memiliki satu sesembahan yang menjadi tujuan ibadah dan ketundukannya, baik ketika bersendirian ataupun bersama keramaian. Dia akan senantiasa berdoa kepada Allah di waktu lapang ataupun di waktu sempit. Berbeda dengan kondisi hati kaum musyrikin yang tercerai-berai demi mengabdi kepada sesembahan-sesembahan mereka. Hati mereka berserakan sebagaimana sesembahan mereka beraneka ragam. Seorang mukmin akan bisa merasakan ketenangan dan keteguhan karena hanya mengabdi kepada satu sesembahan yang benar. Adapun orang-orang musyrik, mereka harus menyeret hatinya kesana kemari menuruti kemauan sesembahan mereka yang beraneka ragam.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tauhid merupakan sumber keamanan bagi umat manusia. Karena orang yang bertauhid hanya akan merasa takut kepada siksaan Allah, sehingga dia tidak akan merasa takut kepada selain Allah. Dia tidak dicekam oleh rasa takut gara-gara masalah rezeki, keselamatan jiwa, ataupun sanak familinya. Adapun seorang muwahhid hanya menyimpan rasa takut kepada Allah. Sehingga dialah orang yang bisa merasa aman ketika orang lain dicekam oleh ketakutan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tauhid merupakan sumber kekuatan diri. Karena dengan tauhid akan melahirkan kekuatan pada diri manusia yang muncul karena rasa harapnya kepada Allah, tawakal kepada-Nya, ridha dengan takdir-Nya dan sabar dalam menghadapi musibah yang menimpanya, serta tidak bergantung kepada makhluk-Nya. Maka seorang muwahhid memiliki hati yang kokoh laksana gunung. Kalau musibah menimpa dirinya maka dia meminta kepada Allah untuk menyingkapkan darinya. Sehingga tidaklah ia meminta kepada orang-orang yang sudah mati.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tauhid merupakan asas persaudaraan yang hakiki dan persamaan. Karena ajaran tauhid tidak mengizinkan bagi siapapun untuk mengangkat sebagian makhluk untuk menjadi sesembahan tandingan selain-Nya. Maka uluhiyah adalah hak Allah semata dan sudah menjadi kewajiban bagi seluruh manusia untuk tunduk beribadah hanya kepada-Nya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan dan panutan bagi segenap umat manusia dalam menjalankan kewajiban yang agung ini.</span></p>
<p style="text-align: justify"><em><span style="color: #0000ff">Wallahu a’lam bish-shawab</span></em><span style="color: #0000ff">.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff"> <img class="aligncenter size-full wp-image-2686" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/02/12f.jpg" alt="" width="380" height="47" /><br />
</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Dikutip dari buku “<strong><span style="color: #ff6600">Meniti dan Meneladani Golongan yang  Selama</span></strong><strong><span style="color: #ff6600">t</span></strong>”</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Penulis : <span style="color: #008000">Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</span></span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Penerbit :<strong> <span style="color: #800080">Pustaka At-Tibyan</span></strong></span></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Fkeutamaan-tauhid%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/keutamaan-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keindahan Dienul Islam</title>
		<link>http://an-naba.com/keindahan-dienul-islam/</link>
		<comments>http://an-naba.com/keindahan-dienul-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 06:25:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[dienul]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[keindahan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2675</guid>
		<description><![CDATA[Dienul Islam seluruhnya indah. Aqidahnya adalah aqidah yang paling benar, paling lurus dan paling bermanfaat. Etikanya adalah etika yang paling terpuji dan paling elok. Amal dan hukumnya adalah yang paling baik dan paling adil.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/keindahan-dienul-islam/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-medium wp-image-2677" style="margin-left: 10px;margin-right: 10px;margin-top: 5px;margin-bottom: 5px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/02/WALLPAPER-15a-235x300.jpg" alt="" width="235" height="300" />Dienul Islam seluruhnya indah. Aqidahnya adalah aqidah yang paling benar, paling lurus dan paling bermanfaat. Etikanya adalah etika yang paling terpuji dan paling elok. Amal dan hukumnya adalah yang paling baik dan paling adil.</p>
<p style="text-align: justify">Islam adalah agama kebahagiaan dan kemenangan, dan bahwasanya Islam tidak membiarkan manusia dalam kesendiriannya, atau bersama keluarganya, atau bersama tetangganya, atau bersama saudara-saudara seagamanya, bahkan bersama manusia lainnya melainkan diajarkan kepadanya etika-etika secara detail, cara-cara bergaul yang dapat menjadikan kehidupannya damai dan meraih kebahagiaan.</p>
<p style="text-align: justify">Dengan pandangan yang agung dan tinjauan yang indah terhadap keindahan agama inilah, Allah akan meresapkan keimanan ke dalam hati seorang hamba dan menjadikan iman itu indah dalam hatinya. Sebagaimana karunia yang telah dilimpahkan-Nya untuk hamba-Nya yang terpilih. Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu”. </em>(QS. Al-Hujuraat:7)</p>
<p style="text-align: justify">Sehingga iman dalam hati menjadi sesuatu yang paling disukai dan yang paling indah. Dengan inilah seorang hamba akan merasakan kelezatan iman, ia akan benar-benar merasakannya dalam hatinya. Batin menjadi indah dengan dasar keimanan dan hakikatnya. Dan lahiriyah juga menjadi indah dengan amal-amal keimanan.<a href="#_ftn1">[1]</a><span id="more-2675"></span></p>
<p style="text-align: justify">Ibnu Qayyim Al-Jauziyah <em>rahimahullah</em> berkata: “Jika engkau perhatikan hikmah yang sangat agung pada agama yang lurus, millah yang hanif dan syariat yang dibawa Muhammad dengan segala kesempurnaannya, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, dan keindahannya tidak kuasa untuk disifatkan serta tidak dapat dibayangkan oleh orang-orang yang cemerlang akalnya, meskipun mereka berkumpul memikirkannya dan mereka semua memiliki akal lelaki yang paling sempurna menurut ukuran akal yang paling cemerlang untuk mengenali keindahannya dan menyaksikan keutamaannya. Tidak pernah ada di alam semesta syariat yang lebih sempurna, lebih mulia dan lebih agung daripadanya. Syariat itu sendiri menjadi saksi dan yang disaksikan, menjadi hujjah dan yang didukung oleh hujjah, menjadi dakwa dan keterangan, seandainya rasul tidak datang membawa bukti keterangan niscaya sudah cukup syariat ini menjadi bukti, ayat dan saksi bahwa ia diturunkan dari sisi Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: justify">Oleh karena itu, memperhatikan keindahan agama ini, meneliti isinya berupa perintah dan larangan, syariat dan hukum, akhlak dan adab, merupakan motivator dan pendukung yang paling kuat untuk masuk ke dalamnya bagi yang belum beriman, dan untuk menambah keimanan bagi yang sudah beriman. Bahkan, semakin kuat perhatiannya terhadap keindahan agama ini, semakin kokoh tapak kakinya dalam mengenal agama ini dan mengenal keindahan dan kesempurnaannya serta keburukan apa saja yang menyelisihinya, niscaya ia akan menjadi orang yang paling kuat keimanannya, yang paling bagus keistiqamahannya dan komitmennya terhadap agama ini.</p>
<p style="text-align: justify">Oleh karena itu Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: “Maksudnya, kalangan khusus umat ini dan orang-orang pilihannya, setelah akal mereka menyaksikan keindahan agama ini, keagungan dan kesempurnaannya, serta menyaksikan keburukan, kekurangan dan kejelekan apa saja yang menyelisihinya maka keimanan dan kecintaannya terhadap agama ini akan merasuk ke dalam hati. Kalaulah diberi pilihan antara dilemparkan ke dalam api atau memilih agama selain Islam niscaya ia akan memilih dilemparkan ke dalam api dan dipotong-potong anggota tubuhnya daripada harus memilih agama selainnya. Manusia seperti ini merupakan manusia yang telah kokoh tapak kakinya di atas keimanan. Mereka adalah manusia yang paling jauh dari kemurtadan dan manusia yang paling berhak mendapat keteguhan di atasnya sampai hari mereka bertemu Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: justify">Aku katakan: “Dalil yang mendukung perkataan Ibnul Qayyim di atas adalah hadits Anas <em>Radhiyallah &#8216;anhu</em> ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Ada tiga perkara, siapa saja memiliki ketiga perkara tersebut niscaya ia akan merasakan manisnya iman. Yakni apabila Allah dan rasul-Nya menjadi yang paling ia cintai daripada selain keduanya, tidak mencintai seseorang melainkan karena Allah semata, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan ke dalam api</em>.&#8221;<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: justify">Inilah hamba yang merasakan kelezatan iman dan telah merasuk keimanan dalam hati sanubarinya yang paling dalam, lalu hatinya memancarkan cahaya iman dan ia memperoleh ketenangan yang luar biasa. Sehingga tidak mungkin lagi ia kembali pada kekufuran, kesesatan, mengikuti hawa nafsu dan persangkaan dusta. Bahkan ia akan menjadi manusia yang paling dalam keimanannya, paling kuat komitmen dan keteguhannya, paling kuat ikatannya dengan Rabb dan pencipta-Nya. Karena ia masuk ke dalam Islam atas dasar ilmu, <em>qana’ah</em> dan <em>ma’rifah</em>. Sehingga ia mengenal keindahan Islam dan keagungannya, keelokan dan kebersihannya serta keistimewaannya di atas agama-agama yang lain. Maka iapun meridhai Islam menjadi agamanya, ia merasa damai tiada tara dengan Islam. Lalu bagaimana mungkin ia mencari pengganti selainnya? Atau mencari alternatif lain atau mencari tempat pindah atau tempat lainnya?</p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/02/12-e.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2676" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/02/12-e.jpg" alt="" width="281" height="54" /></a></p>
<p>Dikutip daru buku “<strong>Pasang Surut Keimanan</strong>”</p>
<p>Penulis: Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr</p>
<p>Penerbit Pustaka At Tibyan</p>
<hr size="1" />
<address><a href="#_ftnref1"><span style="color: #000000">[1]</span></a> Silakan lihat At-Taudhih wal Bayaan tulisan Ibnu Sa’di halaman 32 dan 33.</address>
<address><a href="#_ftnref2"><span style="color: #000000">[2]</span></a> Miftaah Daarus Sa’adah halaman 324, silakan lihat juga halaman 328 dan sesudahnya.</address>
<address><a href="#_ftnref3"><span style="color: #000000">[3]</span></a> Miftaah Daarus Sa’adah halaman 340-341.</address>
<address><a href="#_ftnref4"><span style="color: #000000">[4]</span></a> Hadits riwayat Al-Bukhaari (I/60) dan Muslim (I/66).</address>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Fkeindahan-dienul-islam%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/keindahan-dienul-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Allah dan RasulNya</title>
		<link>http://an-naba.com/cinta-allah-dan-rasulnya/</link>
		<comments>http://an-naba.com/cinta-allah-dan-rasulnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Feb 2011 07:25:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daar an-naba']]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2653</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya para kekasih Allah pasti akan bersegera menggapai kecintaan Allah. Dia akan mengutamakannya atas yang lain. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam pernah mengabarkan bahwa Allah tersenyum pada tiga jenis manusia. Salah satunya adalah seorang laki-laki yang memiliki rasa cinta. Ia melakukan perjalanan bersama rombongan kafilah. Di tengah perjalanan mereka merasakan kelelahan. Ketika sahabatnya yang lain berhenti, mereka merebahkan tubuh mereka di atas tanah hingga tertidur. Adapun orang tadi, ia sama sekali tidak tidur. Ia bergegas mencari air dan mengambil wudlu. Ia lalu menghadap kiblat untuk shalat dan menangis. Ia berdoa dan bermunajat kepada Dzat yang Mahaesa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/cinta-allah-dan-rasulnya/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-full wp-image-2656" style="margin-top: 5px;margin-bottom: 5px;margin-left: 10px;margin-right: 10px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/02/15-a.jpg" alt="" width="300" height="279" /><span style="color: #0000ff">Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan tugas utama seorang pendidik muslim. Dengannya, anak didik akan ringan melaksanakan ibadah dan mengikuti sunnah. Ringan dalam menerima dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupannya, karena yang dituju dan dicari sudah jelas, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Satu pelajaran lagi dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang masalah iman mengenai tanda cinta pada Allah. Beliau, Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Cinta pada Allah dan Rasul-Nya telah ada dalam hati setiap orang beriman. Tidak mungkin seseorang menghilangkan rasa cinta tersebut jika memang ia adalah orang yang beriman. Tanda cinta pada Allah dan Rasul-Nya begitu nampak jika ada seseorang yang mencela Rasul dan menjelek-jelekkannya, atau ada orang yang mencaci maki Allah atau menyebut tentang Allah dengan sesuatu yang tidak pantas. Maka orang beriman akan benci dengan hal-hal tadi. Kebenciannya tersebut lebih besar dari kebenciannya ketika ayah atau ibunya dicacimaki (Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ketika Rasulullah <em>shallallaahu &#8216;alaihi wasallam</em> tiba di Madinah, beberapa orang Yahudi datang menemui beliau. Mereka berkata, “Kami mencintai Allah, akan tetapi kami tidak dapat mengikuti ajaranmu.” Kemudian Allah membantah dan membatilkan kecintaan mereka kepada-Nya dan menganggap pernyataan itu dusta. Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;<em>Katakanlah, &#8216;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.&#8217; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</em>&#8221; (QS. Ali Imran: 31).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ayat ini memberitahukan bahwa mencintai Allah ialah dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em>, menaati apa yang diperintahkannya, dan meninggalkan segala larangannya yang termaktub dalam hadits-hadits shahih yang telah beliau jelaskan kepada umat manusia. Cinta itu tidak terjadi dengan sekedar untaian kata-kata, tanpa mengamalkan petunjuk, perintah dan sunnah-sunnahnya.<span id="more-2653"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Nabi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;<em>Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.</em>&#8221; (HR. al-Bukhari).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Hadits shahih di atas memberitahukan kepada kita bahwa iman seorang muslim tidak sempurna hingga mencintai Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em> melebihi kecintaan kepada anak, orang tua dan manusia seluruhnya, serta bahkan melebihi cintanya kepada dirinya sendiri—sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits yang lain. Pengaruh cinta tersebut akan nampak ketika perintah-perintah dan larangan-larangan Rasul <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em> berseberangan dengan keinginan nafsu, keinginan istri dan anak-anak serta orang-orang uang berada di sekitarnya. Jika ia benar-benar mencintai Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em>, niscaya ia mendahulukan perintah-perintahnya dan menyelisihi nafsunya, keluarganya, keinginannya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Jika ia dusta, berarti ia telah durhaka kepada Allah dan RasulNya serta menyelarasi setan dan hawa nafsunya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Jika Anda bertanya kepada seorang muslim, &#8220;Apakah Anda mencintai Rasul Anda?&#8221; Maka ia menjawab kepada Anda, &#8220;Ya, tebusannya adalah jiwa dan hartaku.&#8221; Jika Anda bertanya kepadanya, &#8220;Mengapa Anda mencukur jenggot Anda dan menyelisihi perintahnya mengenai demikian dan demikian…serta Anda tidak menirunya dalam penampilan, akhlak dan tauhidnya?&#8221; Ia menjawab kepada Anda dengan ucapannya, &#8220;Cinta itu dalam hati, dan hatiku bersih. <em>Alhamdulillah</em>.&#8221; Kita katakan kepadanya: Seandainya hati Anda bersih, niscaya hal itu tampak pada tubuh Anda; berdasarkan sabda Nabi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em>:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;<em>Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging; jika baik, maka semua tubuh menjadi baik dan jika rusak, menjadi semua tubuh menjadi rusak, yaitu jantung</em>.&#8221; (HR. al-Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Suatu kali, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu bersilaturrahim kepada seorang dokter muslim, dan beliau  melihat foto-foto beberapa orang pria dan wanita tergantung di dinding. Ketika beliau menyebutkan kepadanya tentang larangan Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em> mengantung gambar-gambar, ia menolaknya dengan mengatakan, &#8220;Mereka adalah kawan-kawan priaku dan teman wanitaku di kampus.&#8221; Mengingat bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kafir, terutama kaum wanita yang memperlihatkan rambut dan perhiasan mereka di foto tersebut. Mereka semua berasal dari negeri-negeri komunis. Sementara dokter ini mencukur jenggotnya. Ketika beliau menasihatinya, ia malah bangga dengan dosa seraya mengatakan bahwa ia akan mati dalam keadaan mencukur jenggotnya. Anehnya dokter yang menyelisihi ajaran-ajaran Rasul ini mengklaim &#8220;cinta palsu&#8221;nya kepada Rasul <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em>, seraya mengatakan kepadaku, &#8220;Katakanlah, wahai Rasulullah, aku berada dalam perlindunganmu!&#8221; Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata dalam hati, &#8220;Anda menyelisihi perintahnya kemudian Anda masuk dalam perlindungannya. Apakah Rasul ridha dengan kesyirikan tersebut? Kita dan Rasul berada dalam perlindungan Allah semata.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Mencintai Rasul <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em> tidak dengan upacara-upacara seremonial, membuat hiasan-hiasan, menyenandungkan lagu-lagu yang tidak sunyi dari kemungkaran, bid&#8217;ah-bid&#8217;ah lainnya yang tiada asalnya dalam agama. Tetapi cinta ialah dengan mengikuti petunjuknya, berpegang dengan sunnahnya, dan menerapkan ajaran-ajarannya. Betapa indahnya ucapan seorang penyair:</span></p>
<p style="text-align: justify;padding-left: 30px"><span style="color: #008000">Jika cintamu memang benar, niscaya kamu menaatinya</span></p>
<p style="text-align: justify;padding-left: 30px"><span style="color: #008000">Sesungguhnya orang yang mencintai itu menaati siapa yang dicintainya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sesungguhnya para kekasih Allah pasti akan bersegera menggapai kecintaan Allah. Dia akan mengutamakannya atas yang lain. Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Salam</em> pernah mengabarkan bahwa Allah tersenyum pada tiga jenis manusia. Salah satunya adalah seorang laki-laki yang memiliki rasa cinta. Ia melakukan perjalanan bersama rombongan kafilah. Di tengah perjalanan mereka merasakan kelelahan. Ketika sahabatnya yang lain berhenti, mereka merebahkan tubuh mereka di atas tanah hingga tertidur. Adapun orang tadi, ia sama sekali tidak tidur. Ia bergegas mencari air dan mengambil wudlu. Ia lalu menghadap kiblat untuk shalat dan menangis. Ia berdoa dan bermunajat kepada Dzat yang Mahaesa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ini merupakan cerminan dari adanya rasa cinta. Kecintaan yang mendorong pemiliknya untuk melakukan apa saja agar mendapat keridlaan orang yang dicintainya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/02/12-d.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2654" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/02/12-d.jpg" alt="" width="260" height="49" /></a></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Dikutip dari buku “<strong><span style="color: #800080">Meniti dan Meneladani Golongan yang  Selamat</span></strong>”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Penulis : <span style="color: #993300">S</span><span style="color: #993300"><span style="color: #993300">y</span>aikh Muhammad bin Jamil Zainu</span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #000000">Penerbit : <span style="color: #339966">Pustaka At-Tibyan</span></span></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Fcinta-allah-dan-rasulnya%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/cinta-allah-dan-rasulnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Ujian Dibalik Rezeki</title>
		<link>http://an-naba.com/ada-ujian-dibalik-rezeki/</link>
		<comments>http://an-naba.com/ada-ujian-dibalik-rezeki/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Jan 2011 06:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[daar an-naba']]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kufur]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[rezeki]]></category>
		<category><![CDATA[rizki]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2610</guid>
		<description><![CDATA[Allah akan menguji manusia dengan kebaikan dan limpahan karunia, apakah dia bersyukur ataukah kufur? Allah juga akan mengujinya dengan kejelekan dan perkara-perkara yang menyakitkan, apakah dia bersabar ataukah membangkang? Kondisi manusia selalu berada di antara kesenangan dan kesusahan. Terkadang dia mendapatkan kesenangan yang membuatnya bahagia dan terkadang mendapatkan kesusahan yang membuatnya sedih, seluruhnya adalah ujian dari Allah. Tabiat manusia yang selalu berbuat zhalim dan jahil, jika diuji Rabb-nya dengan nikmat dan kemuliaan biasanya akan berkata, “Rabb-ku telah memuliakanku”, seolah-olah dia berkata, “Aku memang pantas mendapatkan karunia ini!” Ia tidak mengakui karunia Allah tersebut. Hal ini seperti firman Allah yang mengisahkan perkataan Qarun:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/ada-ujian-dibalik-rezeki/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><img class="alignleft size-medium wp-image-2622" style="margin: 2px 5px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/gold-bars-300x225.jpg" alt="" width="286" height="215" />Firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #993366"><em>“Adapun manusia apabila Rabb-nya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Rabb-ku telah memuliakanku</em><em> </em><em>.</em><em>”</em><em> Adapun bila Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Rabb-ku menghinakanku.”</em><strong>(QS. 89 : 15-16)</strong>.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ujian yang datang dari Allah terkadang dalam bentuk kebaikan ataupun keburukan, sebagaimana firman-Nya:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #993366"><em>“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).”</em> <strong>(QS. 21 : 35)</strong>.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Allah akan mengujinya dengan kebaikan dan limpahan karunia, apakah dia bersyukur ataukah kufur? Allah juga akan mengujinya dengan kejelekan dan perkara-perkara yang menyakitkan, apakah dia bersabar ataukah membangkang? Kondisi manusia selalu berada di antara kesenangan dan kesusahan. Terkadang dia mendapatkan kesenangan yang membuatnya bahagia dan terkadang mendapatkan kesusahan yang membuatnya sedih, seluruhnya adalah ujian dari Allah. Tabiat manusia yang selalu berbuat zhalim dan jahil, jika diuji Rabb-nya dengan nikmat dan kemuliaan biasanya akan berkata, <span style="color: #993366"><em>“Rabb-ku telah memuliakanku</em>”</span>, seolah-olah dia berkata, “Aku memang pantas mendapatkan karunia ini!” Ia tidak mengakui karunia Allah tersebut. Hal ini seperti firman Allah yang mengisahkan perkataan Qarun:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #993366"><em><span id="more-2610"></span>“Ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”</em> <strong>(QS. 28 : 78)</strong>.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Bahkan ketika diingatkan terhadap nikmat Allah, ia berkata:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #993366"><em>“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”</em> <strong>(QS. 28 : 78)</strong>.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dia tidak mengakui dan bahkan melupakan karunia Allah kepadanya. Inilah yang terjadi pada kebanyakan manusia, jika Allah memuliakan dan mengaruniakan nikmat kepadanya, dengan enteng mereka berkata, <em>“Ini adalah kemuliaan yang diberikan Allah kepada kami karena kami memang pantas menerimanya!”</em> Andai saja dia berkata, “Sesungguhnya Allah memberikan karunia ini kepada kami sekaligus mengakui bahwa nikmat itu semata didapatnya karena kemurahan Allah lalu menyebut-nyebut nikmat Allah, tentunya hal ini tidaklah mengapa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #993366"><em>“Adapun bila Rabb-nya mengujinya lalu membatasi rezekinya&#8230;”</em> <strong>(QS. 89 : 16)</strong>.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Yakni disempitkan rezekinya.</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #993366"><em>“…maka dia berkata, “Rabb-ku menghinakanku.”</em> <strong>(QS. 89 : 16)</strong>.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Seolah-olah dia berkata, “Allah telah menzhalimiku dan menghinakanku sehingga tidak memberiku rezeki seperti yang diberikan kepada si fulan, tidak memuliakanku seperti Dia memuliakan si fulan.” Dia pun menjadi manusia yang tidak pernah bersyukur ketika senang, selalu bangga dengan dirinya dan selalu berkata, “Ini adalah hakku!”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sebaliknya jika ditimpa kesusahan, maka dialah orang yang paling tidak sabar dan akan selalu menentang ketentuan Allah dan selalu berkata, <span style="color: #993366"><em>“Rabb-ku menghinakanku.”</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Inilah tabiat umumnya manusia. Adapun orang mukmin tidak akan berbuat seperti itu. Seorang mukmin jika diberi kemuliaan dan kenikmatan dari Rabb-nya akan segera bersyukur dan menganggap bahwa semua ini diberikan karena rahmat dan kebaikan-Nya semata, bukan beranggapan bahwa semua itu didapat karena memang merupakan hak dan kemuliaan dirinya. Dan jika mendapat ujian dari Rabb-nya dengan menyempitkan rezekinya dia akan selalu bersabar sambil mengharapkan balasan pahala, dan segera introspeksi diri sambil berkata, “Ini semua karena dosa-dosaku, Allah tidak akan menghinakan dan menzhalimi diriku.” Ia pun menjadi orang yang paling bersabar ketika diuji dengan derita dan bencana dan paling bersyukur ketika diuji dengan kelapangan dan kenikmatan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Pada kedua ayat ini menganjurkan agar manusia selalu berusaha untuk sabar dan menyabarkan diri. Hendaknya selalu bertanya, “Apa hikmahnya Allah memberiku harta ini? Apa yang Dia kehendaki dariku? Allah ingin agar aku bersyukur.” Atau bertanya, “Apa hikmahnya Allah mengujiku dengan kefakiran, dengan penyakit ini dan itu? Dia inginkan agar aku bersabar.”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Hendaklah dia selalu introspeksi diri agar tidak seperti karakter manusia lainnya yang selalu berbuat jahil dan zhalim. Karena itulah Allah berfirman, <span style="color: #993366"><em>“Sekali-kali tidak (demikian)”</em></span>. Maksudnya bahwa sebenarnya karunia yang diberikan Allah kepadamu bukan karena kemuliaan dirimu ataupun hakmu, namun semuanya karena kemurahan-Nya semata. Sebaliknya ketika Dia membatasi rezekimu bukan berarti Dia menghinakanmu, tetapi karena hikmah tertentu dan keadilan-Nya semata.</span></p>
<pre style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sumber: Kitab Tafsir Juz 'Amma karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Tafsir Surat Al-Fajr ayat 15-16, hal. 406-409. Terbitan Pustaka At-Tibyan.
</span><span style="color: #0000ff"> </span></pre>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2615" style="margin-left: 5px;margin-right: 5px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/Juz-Amma1-196x300.jpg" alt="" width="170" height="261" /></p>
<p><span style="color: #ff0000">Judul buku : Tafsir Juz &#8216;Amma </span></p>
<p><span style="color: #ff0000">Penulis : Syaikh Muhammad bin Shalih al-&#8217;Utsaimin</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">Uk. Buku : 24 x 16,5 (HC)<br />
</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">Jml. Hal : xii + 676</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">Penerbit : Pustaka At-Tibyan</span></p>
<p><span style="color: #ff0000">Harga : Rp. 140.000,-</span></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Fada-ujian-dibalik-rezeki%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/ada-ujian-dibalik-rezeki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asma &amp; Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi</title>
		<link>http://an-naba.com/asma-allah-dan-sifat-sifat-nya-yang-maha-tinggi/</link>
		<comments>http://an-naba.com/asma-allah-dan-sifat-sifat-nya-yang-maha-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 02:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daar an-naba']]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2592</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya mengetahui asma Allah yang husna dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan kemahasempurnaan Allah yang mutlak dari segala sisi, merupakan bab ilmu yang paling agung. Dengannya  keimanan akan bertambah. Memfokuskan diri mempelajari dan memahaminya serta membahasnya secara tuntas merangkum beberapa faidah yang sangat banyak dan agung.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/asma-allah-dan-sifat-sifat-nya-yang-maha-tinggi/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify"><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/14a.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2593" style="margin-top: 10px;margin-bottom: 10px;margin-left: 15px;margin-right: 15px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/14a.jpg" alt="" width="648" height="438" /></a><span style="color: #0000ff">Sesungguhnya mengetahui asma Allah yang husna dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan kemahasempurnaan Allah yang mutlak dari segala sisi, merupakan bab ilmu yang paling agung. Dengannya  keimanan akan bertambah. Memfokuskan diri mempelajari dan memahaminya serta membahasnya secara tuntas merangkum beberapa faidah yang sangat banyak dan agung, diantaranya:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">1- Ilmu tauhid asma dan sifat merupakan ilmu yang sangat mulia dan sangat luhur. Memfokuskan diri untuk memahaminya dan membahasnya merupakan pekerjaan yang paling tinggi dan memperolehnya merupakan anugerah yang paling mulia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">2- Mengenal Allah akan mendorong seseorang untuk mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya dan mengikhlaskan amal untuk-Nya. Dan ini merupakan hakikat kebahagiaan seorang hamba. Dan tidak ada jalan untuk mengenal Allah kecuali dengan mengenal asma dan sifat-Nya serta tafaqquh untuk memahami makna-maknanya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">3- Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk agar mereka mengenali-Nya dan beribadah kepada-Nya. Itulah tujuan yang diinginkan dari mereka. Memfokuskan diri kepadanya berarti telah memfokuskan diri kepada tujuan diciptakannya manusia. Sebaliknya, mengabaikan dan melalaikannya berarti mengabaikan tujuan diciptakannya manusia. Dan sungguh sangat buruk bagi seorang hamba yang terus mendapat kucuran nikmat dan karunia Allah dari berbagai sisi lalu ia jahil terhadap-Nya dan tidak mau mengenali-Nya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">4- Sesungguhnya salah satu rukun iman, bahkan rukun yang paling utama dan paling dasar adalah iman kepada Allah. Iman yang dimaksud bukanlah sekedar mengucapkan ‘aku beriman kepada Allah’ tanpa mengenali-Nya. Namun hakikat iman kepada-Nya adalah dengan mengenali Rabb yang diimaninya dan mengerahkan segala upaya untuk mengenali asma dan sifat-Nya sehingga ia mencapai derajat yakin. Derajat keimanannya bergantung kepada kadar ma’rifatnya terhadap Rabbnya. Semakin bertambah kadar ma’rifatnya maka semakin bertambah pula keimanannya. Semakin berkurang kadar ma’rifatnya maka semakin berkurang pula keimanannya. Jalan paling pintas yang menyampaikannya kepada hal itu adalah menghayati sifat-sifat-Nya dan asma’-asma’-Nya <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">5- Pengetahuan tentang Allah adalah inti segala sesuatu. Bahkan orang yang tahu tentang Allah dengan sebenar-benar pengetahuan, akan mengambil petunjuk dari sifat dan perbuatan Allah yang diketahuinya atas apa yang dilakukan-Nya dan hukum-hukum yang disyariatkan-Nya. Karena Dia pasti berbuat sesuai dengan tuntutan asma’ dan sifat-Nya. Perbuatan-Nya pasti berkaitan dengan keadilan, karunia dan hikmah. Oleh karena itu hukum-hukum yang disyariatkan-Nya pasti sejalan dengan konsekuensi pujian, hikmah, karunia dan keadilan-Nya. Khabar-khabar dari-Nya seluruhnya adalah haq dan benar. Perintah dan larangan-Nya pastilah adil dan mengandung hikmah.<a href="#_ftn1">[1]</a></span><span id="more-2592"></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Di antara faidah yang lain, mengenal asma Allah yang husna dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi menuntut adanya pengaruh ubudiyah dan ketundukan. Setiap sifat ubudiyah khusus merupakan konsekuensi atas pengetahuan dan ilmu terhadap asma dan sifat-Nya, serta konsekuensi dari realisasi ma’rifatnya. Dan ini berlaku pada seluruh jenis-jenis ubudiyah yang dilakukan oleh hati dan anggota badan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Penjelasannya, apabila seorang hamba mengilmui tentang keesaan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dalam hal menolak mudharat dan mendatangkan manfaat, dalam hal memberi dan menahan, dalam hal menciptakan dan memberi rezeki, dalam hal menghidupkan dan mematikan, maka itu akan membuahkan ubudiyah tawakkal kepada-Nya semata secara batin, dan konsekuensi tawakkal dan buahnya secara lahiriyah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Apabila ia telah mengilmui bahwa Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, tiada satupun yang tersembunyi atas-Nya walau sebesar biji dzarrah di langit maupun di bumi, bahwa Dialah yang mengetahui yang tampak dan yang rahasia. Dialah yang mengetahui pandangan mata yang khianat dan rahasia yang tersembunyi di dalam hati. Maka semua itu akan membuahkan penjagaan lisan dan anggota badan serta bisikan hati dari segala perkara yang tidak diridhai Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Dan mengaitkan seluruh aktifitas anggota tubuh tersebut kepada apa-apa yang disukai dan diridhai Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Apabila ia mengetahui bahwa Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> Maha Kaya lagi Maha Mulia, Maha santun lagi Maha Penyayang, Maha luas kebaikan-Nya, maka hal itu akan menguatkan harapannya, dan pengharapan ini akan membuahkan berbagai jenis ubudiyah yang lahir maupun yang batin sesuai kadar ma’rifat dan ilmunya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Apabila ia telah mengenali kesempurnaan Allah dan keindahan-Nya, maka itu akan menumbuhkan cinta khusus dan kerinduan yang sangat besar untuk bertemu dengan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Selanjutnya hal itu akan membuahkan berbagai jenis ibadah-ibadah lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dengan itu, ia mengetahui bahwa semua bentuk-bentuk ubudiyah kembali kepada kandungan asma dan sifat-Nya.<a href="#_ftn2">[2]</a></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Apabila seorang hamba mengenal Rabbnya dengan sebenar-benar pengenalan, seperti yang dituntut dan diinginkan, selamat dari tata cara ahli bid’ah dalam masalah ma’rifatullah ini, yang dibangun atas penyelewengan makna asma dan sifat atau penafiannya atau penetapan kaifiyatnya atau penyamaannya dengan sifat-sifat makhluk. Barangsiapa selamat dari metodologi filsafat batil seperti ini –yang pada hakikatnya adalah sebab terbesar yang menghalangi seorang hamba dari mengenali Rabbnya dan sebab terbesar yang dapat mengurangi keimanan dan melemahkannya- dan mengenal Rabbnya melalui Asma-Nya yang husna dan sifat-Nya yang Maha Tinggi yang melalui asma dan sifat itulah Dia memperkenalkan diri kepada makhluk-makhluk-Nya yang telah Dia sebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, lalu memahaminya menurut manhaj Salafus Shalih, berarti ia telah diberi taufik kepada faktor utama yang dapat menambah keimanan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Telah diriwayatkan sebuah khabar yang shahih dari Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwa Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memiliki 99 asma. Barangsiapa menghitungnya maka bisa menjadi sebab masuknya ia ke dalam jannah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dalam kitab <strong><em>Shahihain</em></strong> diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah <em>Radhiyallah ‘anhu</em> ia berkata: Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</span></p>
<h1 style="text-align: right"><span style="color: #008000">إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدةً مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ</span></h1>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">“Sesungguhnya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memiliki 99 asma, seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya niscaya ia masuk jannah.”<a href="#_ftn3">[3]</a></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Maksud menghitungnya bukanlah sekadar menyebutnya satu persatu saja, sebab orang fajir juga bisa melakukannya. Namun maksudnya adalah mengamalkan konsekuensinya.<a href="#_ftn4">[4]</a></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Jadi, harus dengan memahami Asma dan Sifat serta memahami kandungan maknanya, sehingga kita bisa mengambil faidah yang sempurna darinya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><img class="aligncenter size-full wp-image-2597" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/12-b.jpg" alt="" width="160" height="40" /></p>
<p style="text-align: justify">
<hr size="1" />
<address><a href="#_ftnref1"><span style="color: #000000">[1]</span></a> <span style="font-style: normal">Silakan lihat </span><span style="font-style: normal"><em>Tafsir As-Sa’di</em></span> I/24-26, Khulashah Tafsir <span style="font-style: normal">halaman 15.</span></address>
<address><a href="#_ftnref2"><span style="color: #000000">[2]</span></a> <span style="font-style: normal">Silakan lihat kitab </span><span style="font-style: normal"><em>Miftaah Daaris Sa’adah</em></span> <span style="font-style: normal">tulisan </span>Ibnu Qayyim Al-Jauziyah <span style="font-style: normal">halaman 424 dan 425, silakan lihat pembahasan sejenis yang lebih luas dalam kitab </span><span style="font-style: normal"><em>Al-Fawaaid</em></span> <span style="font-style: normal">halaman 128-131.</span></address>
<address><a href="#_ftnref3"><span style="color: #000000">[3]</span></a><span style="font-style: normal"> Hadits riwayat</span> Al-Bukhaari <span style="font-style: normal">(V/354, XI/214 dan XII/277, silakan lihat </span><span style="font-style: normal"><em>Fathul Baari</em></span>) <span style="font-style: normal">dan</span> Muslim <span style="font-style: normal">(IV/2063).</span></address>
<address><a href="#_ftnref4"><span style="color: #000000">[4]</span></a> <span style="font-style: normal">Silakan liha</span>t <span style="font-style: normal"><em>Fathul Baari</em></span> XI/226, <span style="font-style: normal">ini adalah ucapan </span>Al-Ushaili.</address>
<address></address>
<address>
<pre><strong>Dikutip dari buku</strong> “<span style="color: #0000ff">Pasang Surut Keimanan</span>” yang ditulis oleh : Beliau <span style="color: #ff6600">Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Balad Al Badr</span>.Diterbitkan oleh <span style="color: #ff0000">Pustaka At Tibyan</span> Solo.</pre>
</address>
<address></address>
<address></address>
<address></address>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Fasma-allah-dan-sifat-sifat-nya-yang-maha-tinggi%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/asma-allah-dan-sifat-sifat-nya-yang-maha-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawassul yang Dilarang</title>
		<link>http://an-naba.com/tawassul-yang-dilarang/</link>
		<comments>http://an-naba.com/tawassul-yang-dilarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 02:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tawassul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2570</guid>
		<description><![CDATA[Kemusyrikan sebagian orang pada masa sekarang ini bahkan sudah melampaui kemusyrikan orang-orang terdahulu di jaman jahiliyyah. Karena mereka memalingkan berbagai bentuk ibadah kepada selain Allah seperti doa, meminta keselamatan dan sejenisnya hingga pada saat terjepit sekalipun. Kita memohon keselamatan dan keberuntungan kepada Allah. Dengan demikian hendaklah orang yang berdo’a mengambil perantara agar dikabulkan do’anya dengan perkara-perkara yang dicintai dan disukai oleh Allah, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah. Bukan dengan kebid’ahan yang membuat Allah benci, bukan pula dengan kesyirikan yang membuat Allah murka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/tawassul-yang-dilarang/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify"><em><img class="size-full wp-image-2585 alignleft" style="margin-left: 10px;margin-right: 10px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/NormalMasjidDQ2copy-03b.jpg" alt="" width="503" height="455" /></em></p>
<p style="text-align: left"><em>Tawassul</em><em> </em>yang terlarang adalah menggunakan sarana untuk mendekat-kan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syari’at. Di antaranya tawassul dengan berdoa kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir, memohon keselamatan dengan perantaraan mereka, dan sejenisnya. Semua perbuatan itu adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan bertentangan dengan tauhid.</p>
<p style="text-align: justify">Berdoa kepada Allah <em> Subhanahu wa Ta’ala</em>, baik dalam bentuk doa permohonan seperti meminta sesuatu dan meminta diselamatkan dari bahaya: atau doa ibadah seperti rasa tunduk dan pasrah di hadapan Allah, kesemuanya itu tidak boleh dialamatkan kepada selain Allah. Memalingkannya dari Allah adalah syirik dalam berdoa. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:<br />
<em>&#8220;Dan Rabbmu berfirman:&#8221;Berdo&#8217;alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina…&#8221;</em> (QS. Al-Mukmin : 60)</p>
<p style="text-align: justify">Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menjelaskan dalam ayat di atas ganjaran bagi orang yang enggan berdoa kepada-Nya, bisa jadi dengan berdoa kepada selain-Nya atau dengan tidak mau berdoa kepada-Nya secara global dan rinci, karena takkbur atau sikap ujub, meski tak sampai berdoa kepada selain-Nya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em><em> </em> juga berfirman:<br />
<em>&#8220;Berdoalah kepada Allah dengan rasa tunduk dan suara perlahan..&#8221;</em><br />
Dalam ayat ini Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memerintahkan berdoa kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.</p>
<p style="text-align: justify">Segala bentuk penyamaan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah dan ketaatan, maka itu adalah perbuatan syirik terhadap-Nya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:<br />
<em>&#8220;Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do&#8217;anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do&#8217;a mereka. &#8220;</em><em> </em>(QS. Al-Ahqaaf : 5)<br />
<em>&#8220;Barangsiapa yang menyeru bersama Allah Ta&#8217;ala sesembahan yang lain  padahal tidak ada bukti baginya, maka sesungguhnya perhitungannya di  sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada akan beruntung.”</em> (QS. al-Mukminun : 117).</p>
<p style="text-align: justify">Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menganggap orang yang berdoa kepada selain-Nya, berarti telah mengambil sesembahan selain-Nya pula. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:<br />
<em>&#8220;Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.</em>(QS. Faatir : 13-14)<br />
Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> menjelaskan dalam ayat ini, bahwa Dia-lah yang Maha Berkuasa dan Mampu mengurus segala sesuatu, bukan selain-Nya. Bahwasanya para sesembahan itu tidak dapat mendengar doa, apalagi untuk mengabulkan doa tersebut. Kalaupun dimisalkan mereka dapat mendengar, merekapun tidak akan mampu mengabulkannya, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau memberi mudharrat, dan tidak memiliki kemampuan atas hal itu.</p>
<p style="text-align: justify">Sesungguhnya kaum musyrikin Arab di mana Rasulullah <em>Shallallahu‘</em><em>a</em><em>laihi </em><em>w</em><em>a</em><em> S</em><em>allam</em> diutus, mereka menjadi orang-orang kafir karena kemusyrikan mereka dalam berdoa. Karena mereka juga berdoa kepada Allah dengan tulus ketika mendapatkan kesulitan. Kemudian mereka menjadi kafir kepada Allah di kala senang dan mendapatkan kenikmatan dengan cara berdoa kepada selain-Nya. Allah berfirman:<br />
<em>&#8220;Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.</em>&#8221; (QS. Al Isra&#8217; : 67)</p>
<p style="text-align: justify">Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em><em> </em> juga berfirman:<br />
<em>&#8220;Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta&#8217;atannya&#8221;.</em> (QS.Yunus : 22)</p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-2570"></span> Tawassul yang terlarang dapat dikelompokkan menjadi:</p>
<p style="text-align: justify">1.   Tawassul kepada orang-orang yang sudah mati, meminta berbagai hajat dari mereka, dan meminta pertolongan kepada mereka sebagaimana realitas hari ini. Mereka menyebutnya sebagai tawassul, padahal bukan demikian. Karena tawassul ialah meminta kepada Allah dengan perantara yang disyariatkan, seperti iman, amal shalih dan <em>Asma&#8217;ullah al-Husna</em>. Sementara berdoa kepada orang-orang yang sudah mati adalah berpaling dari Allah, dan itu termasuk syirik besar; berdasarkan firmanNya:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa&#8217;at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.</em>&#8221; (QS. Yunus: 106).</p>
<p style="text-align: justify">2.   Adapun tawassul dengan <em>jaah</em> (kedudukan) Rasul, seperti ucapan Anda: Wahai Rabb, dengan <em>jaah</em> Muhammad berilah pertolongan kepadaku.&#8221; Ini adalah bid&#8217;ah, karena para sahabat tidak pernah melakukannya, dan karena Khalifah Umar bertawassul dengan al-Abbas semasa hidupnya dengan doanya. Umar tidak bertawassul dengan Rasul setelah kematiannya, ketika meminta turun hujan. Sedangkan hadits: &#8220;Bertawassullah dengan<em> jaah</em> (kedudukan)ku&#8221; adalah hadits yang tidak punya asal (la ashla lahu), sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.</p>
<p style="text-align: justify">Tawassul bid&#8217;ah bisa membawa kepada syirik. Yaitu jika ia meyakini bahwa Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> membutuhkan perantara, seperti halnya seorang amir dan hakim. Karena ini sama halnya menye­rupakan Khaliq dengan makhlukNya. Abu Hanifah berkata, &#8220;Aku tidak suka memohon kepada Allah dengan (perantara) selain Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify">3.   Adapun meminta doa kepada Rasul setelah kematiannya, seperti ucapan Anda: &#8220;Wahai Rasulullah, berdoalah untukku!&#8221; maka ini tidak boleh. Karena para sahabat tidak pernah melakukannya. Dan juga berdasarkan sabda beliau:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya</em>.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify">Namun bila bertawassul dengan orang shalih yang masih hidup, dengan doa mereka kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan cara meminta agar dia mendoakan dirimu kepadaNya, maka hal ini diperbolehkan di dalam syariat dan telah dilakukan oleh para shahabat Rasulullah kepada beliau dan telah dilakukan pula oleh Umar bin Khaththab kepada paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muththalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p style="text-align: justify">Kemusyrikan sebagian orang pada masa sekarang ini bahkan sudah melampaui kemusyrikan orang-orang terdahulu di jaman jahiliyyah. Karena mereka memalingkan berbagai bentuk ibadah kepada selain Allah seperti doa, meminta keselamatan dan sejenisnya hingga pada saat terjepit sekalipun. Kita memohon keselamatan dan keberuntungan kepada Allah. Dengan demikian hendaklah orang yang berdo’a mengambil perantara agar dikabulkan do’anya dengan perkara-perkara yang dicintai dan disukai oleh Allah, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah. Bukan dengan kebid’ahan yang membuat Allah benci, bukan pula dengan kesyirikan yang membuat Allah murka.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Wallahu A&#8217;lam.</em></p>
<p><em><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/12b.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2574" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/12b.jpg" alt="" width="376" height="52" /></a><br />
</em></p>
<p><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/MENITI-jalan-gol-selamat2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2573" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/MENITI-jalan-gol-selamat2.jpg" alt="" width="140" height="214" /></a></p>
<p>Dikutip dari buku “<strong><span style="color: #0000ff">Meniti dan Meneladani Golongan yang  Selama</span>t</strong>”</p>
<p>Penulis : <span style="color: #ff6600">Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</span></p>
<p>Penerbit : <span style="color: #800080">Pustaka At-Tibyan</span><br />
<span style="color: #ffffff"> </span></p>
<p><span style="color: #ffffff"><span style="color: #ffffff">.</span>.</span></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Ftawassul-yang-dilarang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/tawassul-yang-dilarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawassul yang Disyariatkan</title>
		<link>http://an-naba.com/tawassul-yang-disyariatkan/</link>
		<comments>http://an-naba.com/tawassul-yang-disyariatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 03:44:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[daar an-naba']]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[payer]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[pray]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tawassul]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2546</guid>
		<description><![CDATA[Tawassul yang disyari’atkan adalah tawassul sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Qur ’an, dituntunkan oleh Rasulullah dan dipraktekkan oleh para sahabat. Pada dasarnya setiap ketaatan dan sikap merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat dijadikan sebagai bentuk tawassul. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/tawassul-yang-disyariatkan/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-large wp-image-2568" style="margin-top: 10px;margin-bottom: 10px;margin-left: 15px;margin-right: 15px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/Mosque-Wallpaper-112-1024x640.jpg" alt="" width="465" height="290" />Setiap kali ada musibah dan ujian yang menghantui kehidupan manusia seorang Muslim, ia harus kembalikan semuanya  kepada  Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Karena ia meyakini bahwa Allah-lah, Rabb yang mampu menyingkap hijab-hijab kesulitan, kefakiran dan kepayahan para hambaNya. Dan ia juga meyakini bahwa Dialah yang mampu memberikan pertolongan, kemudahan dan petunjuk. Tidak ada kekuatan lain yang mampu melakukan hal ini selain Dia, Allah <em>Ta&#8217;alaa</em>. Terkadang dalam memohon dan berdo’a, manusia sering menggunakan perantara (atau yang disebut dengan tawassul dalam terminology aqidah) antara dirinya dan Allah Ta&#8217;alaa. Karena mereka merasa tidak mampu, lemah dan tidak memiliki apa-apa dihadapan Rabbnya. Hal ini mereka lakukan agar do’a dan permohonannya terkabulkan dengan segera.</p>
<p style="text-align: justify">Namun sebagai manusia muslim, ia harus selalu memperhatikan rambu-rambu Islam dalam masalah tawassul, karena tidak semua bentuk tawassul atau perantaraan yang berkembang dalam masyarakat ini diperbolehkan dalam ajaran Islam. Boleh jadi seorang muslim dalam berdo’a, ia bertawassul dengan kuburan-kuburan, batu-batuan dan pepohonan yang dikramatkan. Bahkan ada yang meyakini adanya kekuatan lain atau penguasa lain selain Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> yang memiliki kekuasaan atas sebagian wilayah yang ada di bumi ini.</p>
<p style="text-align: justify">Tawassul menurut etimologi bahasa Arab artinya: “Sesuatu yang bisa mendekatkan kepada yang lain.” (<em>Mukhtar Ash-Shihah</em>)</p>
<p style="text-align: justify">Ibnu Atsir di dalam <em>An-Nihayah</em> mengatakan: “(Tawassul adalah) sesuatu yang akan menyampaikan kepada yang lain dan mendekatkan diri dengannya.”</p>
<p style="text-align: justify">Adapun menurut terminologi syariat, tawassul adalah: “Mendekatkan diri kepada Allah dengan segala bentuk ketaatan dan peribadatan, dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dan segala bentuk amalan yang dicintai Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan diridhai-Nya.” (<em>At-Tawassul Ila Haqiqati Tawassul</em>).<span id="more-2546"></span></p>
<p style="text-align: justify">Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman bertakwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya</em>.&#8221; (QS. Al-Maa&#8217;idah: 35).</p>
<p style="text-align: justify">Qatadah berkata, &#8220;Bertaqarrublah kepadaNya dengan ketaatan kepadaNya dan mengamalkan segala yang diridhaiNya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify">Tawassul yang disyari’atkan adalah tawassul sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Qur ’an, dituntunkan oleh Rasulullah dan dipraktekkan oleh para sahabat. Pada dasarnya setiap ketaatan dan sikap merendahkan diri di hadapan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dapat dijadikan sebagai bentuk tawassul. Ada beberapa macam tawassul yang disyari’atkan dan dicontohkan oleh Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify">1.   Tawassul dengan iman. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman, menceritakan tawassul para hambaNya dengan iman:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu),&#8217;Berimanlah kamu kepada Rabbmu&#8217;, maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti</em>.&#8221; (QS. Ali Imraan: 193).</p>
<p style="text-align: justify">2.   Tawassul dengan tauhid, seperti dosa Nabi Yunus <em>Alaihis Salam</em> ketika ditelan oleh ikan besar:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap: &#8216;Bahwa tak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.&#8217; Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman</em>.&#8221; (QS. Al-Anbiyaa&#8217;: 87-88).</p>
<p style="text-align: justify">3.   Tawassul dengan nama-nama Allah. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada­Nya dengan menyebut asma-ul husna itu.&#8221; (QS. Al-A&#8217;raaf: 180).</p>
<p style="text-align: justify">Di antara doa Rasul <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> dengan nama-namaNya ialah ucapan beliau:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Aku memohon kepadaMu dengan semua nama yang Engkau miliki</em>.&#8221; (HR. At-Tirmidzi, dan ia menilai hasan shahih).</p>
<p style="text-align: justify">4.   Tawassul dengan sifat-sifat Allah, seperti ucapan Rasul <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Wahai Yang Mahahidup lagi Yang Mengatur urusan makhlukNya, dengan rahmatMu aku memohon bantuan</em>.&#8221; (Hasan, riwayat at-Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify">Syaikh ar-Rifa&#8217;i mengatakan, &#8220;Mohonlah segala hajat kalian kepada Allah dengan kecintaanNya kepada auliya&#8217;Nya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify">5.   Tawassul dengan amal-amal shalih, seperti shalat, berbakti kepa­da kedua orang tua, memelihara hak-hak, amanah dan sedekah, dzikir, membaca al-Qur`an, shalawat atas Nabi <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>, kecintaan kita kepadanya dan para sahabatnya, serta amal-amal shalih lainnya. Disebutkan dalam Shahih Muslim tentang tiga orang yang tertahan di dalam gua, lalu mereka bertawassul kepada Allah, yang pertama dengan amal shalih berupa memelihara hak buruh, yang kedua dengan baktinya kepada kedua orang tuanya dan yang ketiga dengan rasa takutnya terhadap Allah, maka Allahpun membebaskan mereka dari gua tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">6.   Tawassul kepada Allah dengan meninggalkan kemak­siatan, seperti khamar, zina dan yang diharamkan lainnya. Salah seorang yang terperangkap dalam gua tersebut bertawassul dengan perbuatan zina yang yang ditinggalkannya, lalu Allah membebaskannya dari gua tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">Sebagian kaum muslimin tidak mengerjakan amal shalih dan bertawassul dengannya. Mereka justru bertawassul dengan amalan-amalan orang lain yang sudah mati, dengan menyelisihi petunjuk Rasul <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> dan para sahabatnya.</p>
<p style="text-align: justify">7.   Tawassul dengan meminta doa dari para Nabi dan orang-orang shalih semasa hidupnya. Diriwayatkan bahwa seorang yang buta matanya datang kepada Nabi <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> seraya mengatakan, &#8220;Berdoalah kepada Allah agar Dia memberi kesembuhan kepadaku.&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Jika kamu suka, aku berdoa untukmu dan jika kamu suka, kamu bersabar saja; dan itu lebih baik bagimu.&#8221; Ia mengatakan, &#8220;Berdoalah!&#8221; Kemudian beliau memerintahkannya supaya berwudhu dengan sempurna, lalu shalat dua rekaat, dan berdoa dengan doa ini:</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;<em>Ya Allah, aku memohon kepadaMu dan menghadap kepadaMu dengan nabiMu, nabi rahmat. Wahai Muhammad aku menghadap denganmu kepada Rabbku dalam hajatku ini agar hajatku ini diselesaikan. Ya Allah, terimalah syafaatnya untukku, dan berilah aku syafaat melalui (doa)nya.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>Orang itu pun melakukannya sehingga terbebas dari kebutaannya</em>. (Shahih, riwayat Ahmad).</p>
<p style="text-align: justify">Hadits ini mengandung arti bahwa Rasul <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> berdoa untuk orang buta semasa hidupnya, lalu Allah mengabulkan doanya. Beliau memerintahkan kepadanya agar berdoa untuk dirinya sendiri, dan menghadap kepada Allah dengan doa Nabinya, maka Allah menerima doanya. Doa ini khusus semasa hayat beliau <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> dan tidak boleh berdoa dengannya sepeninggalnya. Karena para sahabat tidak melakukannya, dan orang-orang yang buta tidak bisa mengambil manfaat dari doa itu setelah peristiwa ini.</p>
<p style="text-align: justify">Untuk menjaga tauhid dan kesempuranannya, setiap mukmin harus berupaya dan berusaha menjauhkan dirinya dari bentuk tawassul yang mengandung bid’ah dan dilarang oleh Islam. Karena tawassul yang mengandung nilai kemungkaran ini akan berpengaruh pada terkabulnya do’a itu sendiri. Dan seharusnya setiap mukmin memperhatikan do’a-do’a yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Wallahu a’lam bish-shawab</em>.</p>
<p style="text-align: center"><img class="size-full wp-image-2550 aligncenter" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/12-a.jpg" alt="" width="380" height="57" /></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-2557" style="margin-left: 5px;margin-right: 5px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/MENITI-jalan-gol-selamat1.jpg" alt="" width="140" height="214" /></p>
<p>Dikutip dari buku “<strong>Meniti dan Meneladani Golongan yang  Selamat</strong>”</p>
<p>Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</p>
<p>Penerbit : Pustaka At-Tibyan</p>
<p><span style="color: #ffffff">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff"><br />
</span></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Ftawassul-yang-disyariatkan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/tawassul-yang-disyariatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dahsyat Urwah Bin Zubair  Bagian (2)</title>
		<link>http://an-naba.com/kisah-dahsyat-urwah-bin-zubair-bagian-2/</link>
		<comments>http://an-naba.com/kisah-dahsyat-urwah-bin-zubair-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Jan 2011 09:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[tabi'in]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2534</guid>
		<description><![CDATA[Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diutarakan di sisi Ka‘bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menim­ba­nya dari sisa-sisa para sahabat Rasulullah  Shalallahu’alaihi wa Sallam yang masih hidup.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div><!-- Wordbooker created FB tags --> <fb:like layout="standard" show_faces="true" action="recommend" font="arial" colorscheme="light"  href="http://an-naba.com/kisah-dahsyat-urwah-bin-zubair-bagian-2/" width="250"></fb:like>
<div style="float:right;"></div>
</div>
<p>Bagian (1) klik <span style="color: #ff0000;"><a href="http://an-naba.com/kisah-dahsyat-urwah-bin-zubair-bagian-1/"><strong><span style="color: #ff0000;">di sini</span></strong></a></span></p>
<p>Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diutarakan di sisi Ka‘bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menim­ba­nya dari sisa-sisa para sahabat Rasulullah  Shalallahu’alaihi wa Sallam yang masih hidup.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2535" title="masjid-nabawi" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2011/01/masjid-nabawi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /> Beliau mendatangi rumah demi rumah mereka, shalat di belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Beliau meriwayatkan ha­dits dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub Al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa‘id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu‘man bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya Aisyah Ummul Mukminin. Pada gilirannya nanti, beliau berhasil menjadi satu di antara <em>fuqaha’ sab’ah</em> (tujuh ahli fikih) Madi­nah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama.</p>
<p>Para pemimpin yang shalih banyak meminta pertimbangan ke­pa­da beliau baik tentang urusan ibadah maupun negara karena kele­bihan yang Allah berikan kepada beliau. Sebagai contohnya adalah Umar bin Abdul Aziz. Ketika beliau diangkat sebagai gubernur di Madinah pada masa Al-Walid bin Abdul Malik, orang-orangpun berdatangan untuk memberikan ucapan selamat kepada beliau.<span id="more-2534"></span></p>
<p>Usai shalat Zhuhur, Umar bin Abdul Aziz memanggil sepuluh fu­qaha Madinah yang dipimpin oleh Urwah bin Zubair. Ketika sepuluh ulama tersebut telah berada di sisinya, maka beliau melapang­kan majlis bagi mereka serta memuliakannya. Setelah ber­tahmid kepada yang berhak dipuji beliau berkata: &#8220;Saya mengun­dang Anda semua untuk suatu amal yang banyak pahalanya, yang mana saya mengharapkan Anda semua agar sudi membantu dalam kebenaran, saya tidak ingin memutuskan suatu masalah kecuali sete­lah mendengarkan pendapat Anda semua atau seorang yang hadir di antara kalian. Bila kalian melihat seseorang mengganggu orang lain atau pejabat yang melakukan kezha­liman, maka saya mohon dengan tulus agar Anda sudi melaporkannya kepada saya.” Kemu­di­an Urwah mendoakan baginya keberuntungan dan memohon ke­pada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa menjadikan beliau te­tap lurus dan tidak menyimpang.</p>
<p>Sungguh, telah terkumpul pada diri Urwah bin Zubair antara ilmu dan amal. Beliau membiasakan shaum di musim panas dan shalat di waktu malam yang sangat dingin. Lidahnya senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, senantiasa bersanding dengan Kitabullah dan tekun membacanya. Beliau mengkhatamkan seperempat Al-Qur’an setiap siang dengan membuka mushhaf, lalu shalat malam membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan hafalan. Tak pernah beliau meninggalkan hal itu sejak menginjak remaja hingga wafatnya melainkan sekali saja. Yakni ketika peristiwa mengharukan yang sebentar lagi akan kami beritakan kepada Anda.</p>
<blockquote><p>“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu,” Masya Allah, laa quwwata illa billah”[sesungguhnya atas kehendak Allah semua itu terwujud. Tiada kekuatan kecuali dengan per­tolongan Allah]…” <strong>(Al-Kahfi: 39)</strong></p></blockquote>
<p>Suatu masa di zaman khilafah Al-Walid bin Abdul Malik, Allah berkehendak menguji Urwah dengan suatu cobaan yang tak se­orangpun mampu bertahan dan tegar selain orang yang hatinya subur dengan keimanan dan penuh dengan keyakinan. Tatkala Amirul mukminin mengundang Urwah untuk berziarah ke Damaskus. Beliau mengabulkan undangan tersebut dan mengajak putra sulungnya. Amirul Mukminin menyambutnya dengan gembira, memperlakukannya dengan penuh hormat dan melayaninya dengan ramah.</p>
<p>Kemudian datanglah ketetapan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, laksana angin kencang yang tak dikehendaki penumpang perahu. Putera Urwah masuk ke kandang kuda untuk melihat kuda-kuda piaraan pilihan. Tiba-tiba saja seekor kuda menyepaknya dengan keras hingga menyebabkan kematiannya.</p>
<p>Belum lagi tangan seorang ayah ini bersih dari tanah penguburan puteranya, salah satu telapak kakinya terluka. Betisnya tiba-tiba mem­bengkak, penyakit semakin menjalar dengan cepatnya.</p>
<p>Kemudian bergegaslah Amirul Mukminin mendatangkan para ta­bib dari seluruh negeri untuk mengobati tamunya dan me­me­rin­tah­kan mereka untuk mengobati Urwah dengan cara apapun.</p>
<p>Namun para tabib itu sepakat untuk me­ngam­putasi kaki Urwah sampai betis sebelum penyakit menjalar ke seluruh tubuh yang dapat merenggut nyawanya.</p>
<p>Jalan itu harus ditempuh. Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk menyayat daging dan gergaji untuk memotong tulangnya, tabib berkata kepada Urwah: &#8220;Sebaiknya kami mem­be­rikan minuman yang memabukkan agar Anda tidak merasakan sakit­nya diamputasi.” Akan tetapi Urwah menolak: &#8220;Tidak perlu, aku ti­dak akan menggunakan yang haram demi mendapat <em>afiat</em> [kese­ha­tan]. Tabib berkata: &#8220;Kalau begitu kami akan membius Anda!” Beliau menjawab: &#8220;Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”</p>
<p>Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendekati Urwah, lalu beliau bertanya: &#8220;Apa yang hendak mereka lakukan?” Lalu di­jawab: &#8220;Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti me­­rasa kesakitan lalu menggerakkan kaki dan itu bisa memba­haya­kan Anda.” Beliau berkata: &#8220;Cegahlah mereka, aku tidak membutuh­kan­nya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih.”</p>
<p>Mulailah tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala mencapai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan: <em>&#8220;Laa ilaaha Illallah Allahu Akbar</em> “, sang tabib terus melakukan tugasnya dan Urwah juga terus bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.</p>
<p>Setelah itu dituangkanlah minyak yang telah dipanaskan mendidih dan dioleskan di betis Urwah bin Zubair untuk menghen­tikan perdarahan dan menutup lukanya. Urwah pingsan untuk bebe­rapa lama dan terhenti membaca ayat-ayat Al Qur‘an di hari itu. Ini­lah satu-satunya hari di mana beliau tidak bisa melakukan kebia­saan yang beliau jaga semenjak remajanya.</p>
<p>Ketika Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongan kakinya. Dibolak-baliknya sambil berkata: &#8220;Dia (Allah) yang mem­bimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tak pernah menggunakannya untuk hal-hal yang haram.”</p>
<p>Kemudian dibacanya syair Ma‘an bin Aus :</p>
<blockquote><p>Tak pernah kuingin tanganku menyentuh yang meragukan</p>
<p>Tidak juga kakiku membawaku kepada kejahatan</p>
<p>Telinga dan pandangan matakupun demikian</p>
<p>Tidak pula menuntun ke arahnya pandangan dan pikiran</p>
<p>Aku tahu, tiadalah aku ditimpa musibah dalam kehidupan</p>
<p>Melainkan telah menimpa orang lain sebelumku.</p></blockquote>
<p>Kejadian tersebut membuat Amirul Mukminin, Al-Walid bin Abdul Malik sangat terharu. Urwah telah kehilangan puteranya, lalu sebelah kakinya. Maka dia berusaha menghibur dan menyabarkan hati tamunya atas musibah yang menimpanya tersebut.</p>
<p>To Be Continue…</p>
<p><strong>Kisah selengkapnya dan kisah dahsyat tabi’in yang lain dapat dibaca di buku,” Mereka Adalah Para Tabi’in”</strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><img class="alignleft size-medium wp-image-2371" title="MEREKA-ADALAH-TABIIN" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/12/MEREKA-ADALAH-TABIIN-194x300.jpg" alt="" width="155" height="240" /> </span><strong><span style="color: #000080;">Judul                     : Mereka Adalah Para Tabi’in</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #000080;"> Pengarang             : Dr. Abdurrahman Ra&#8217;fat Basya</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #000080;"> Penerbit                 : Pustaka At-Tibyan</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #000080;"> Harga                     : Rp. 82.500,-</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #000080;"> Cover                      : Hard Cover</span></strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fan-naba.com%2Fkisah-dahsyat-urwah-bin-zubair-bagian-2%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/kisah-dahsyat-urwah-bin-zubair-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

