<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>An-Naba Online &#187; Mimbar Ilmu</title>
	<atom:link href="http://an-naba.com/category/mimbar-ilmu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://an-naba.com</link>
	<description>Penerbit Buku Islami &#124; Terdepan Dalam Kualitas</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 03:05:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menggapai Akhlak Mulia</title>
		<link>http://an-naba.com/menggapai-akhlak-mulia/</link>
		<comments>http://an-naba.com/menggapai-akhlak-mulia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 03:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daar an-naba']]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[terpuji]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2018</guid>
		<description><![CDATA[Asas akhlak mulia terhadap sesama manusia adalah engkau menyambung persahabatan terhadap orang yang memutusmu dengan memberi salam, memuliakan, mendoakan kebaikannya, memuji dan mengunjunginya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-full wp-image-2024" style="margin-left: 15px;margin-right: 15px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/08/images12.jpeg" alt="" width="209" height="334" /></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Akhlak secara bahasa (<em>lughah</em>/etimologi) adalah bentuk jamak dari kata <em>khuluq </em>yang berarti<em> </em>tabiat, pembawaan atau karakter (Kitab <em>An Nihayah</em>). Sedangkan secara istilah atau terminologi, akhlak memiliki beberapa definisi sebagai berikut :</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">≈ Imam Ibnul Mubarak mendefinisikan, &#8220;Akhlak yang mulia adalah berwajah ceria, memberikan kebaikan dan menahan diri dari gangguan&#8221; (Kitab <em>Jami&#8217;ul Ulum wal Hikam</em>)</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">≈  Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, &#8220;Akhlak mulia itu dengan bersabar atas gangguan manusia, tidak marah dan tidak berlaku kasar kepada mereka&#8221; (Kitab <em>Adab Syar&#8217;iyah</em>)</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">≈</span><span style="color: #008000"><span style="color: #008000"> Sy</span>aikh Abdurrahman As Sa&#8217;di berkata, &#8220;Akhlak yang mulia asasnya adalah sabar dan lembut, sehingga menghasilkan sifat pemaaf, berlapang dada, bermanfaat bagi manusia, sabar atas gangguan serta membalas kejelekan dengan kebaikan&#8221; (Kitab <em>Ar Riyadhun Nadhirah</em>)</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Pembicaraan tentang akhlak yang baik sangat luas dan banyak cabangnya. Namun dapat dibatasi pokok-pokoknya yang besar menjadi lima yakni kejururan, kesabaran, kasih sayang, tawadhu’ dan lemah lembut. Keimanan dalam diri seseorang tidaklah sama, artinya iman itu bertingkat dan berderajat. Manusia yang sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Ini merupakan anjuran yang sangat agung kepada akhlak yang baik, terhadap Allâh <em>Ta’ala</em> maupun terhadap sesama manusia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Akhlak yang baik, diwujudkan dengan menebar kebaikan kepada manusia, baik dengan harta ataupun kedudukan atau yang lainnya seperti menahan diri untuk mengganggu, membuat kesusahan menipu, berkhianat dan lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><span id="more-2018"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Ibnu Taimiyah berkata: “Intisari akhlak yang baik kepada manusia ialah menyambung hubungan terhadap orang yang memutuskannya dengan mengucapkan salam, memuliakan dan mendoakannya serta memohon ampunan baginya, memuji dan mengunjunginya. Memberi kepada orang yang menahan pemberian kepadanmu, berupa taklim, jasa dan harta. Memaafkan orang yang menzhalimimu, kaitannya dalam masalah darah, harta atau kehormatan. Sebagian darinya adalah wajib dan sebagian lainnya mustahab.”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Agama Islam, melalui Al Qur’an dan As Sunnah banyak menjelaskan tentang kedudukan akhlak. Di antaranya adalah penegasan bahwa Rasûlullâh <em>Shallallâhu &#8216;Alaihi Wasallam</em> diutus untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana sabda Beliau, “Aku tidak diutus oleh Allah kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Malik). Sesungguhnya realisasi akhlak yang mulia merupakan inti risalah Nabi Muhammad <em>Shallallâhu &#8216;Alaihi Wasallam</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Rasûlullâh <em>Shallallâhu &#8216;Alaihi Wasallam </em>adalah orang yang paling baik akhlaknya. Rasûlullâh bukanlah orang yang keji. Beliau bersabda kepada manusia : “Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik akhlaknya. (Muttafaqun ‘alaihi).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Bahkan Rasûlullâh <em>Shallallâhu &#8216;Alaihi Wasallam </em>menjelaskan, bahwa tidak ada yang lebih berat pada timbangan kebaikan seorang hamba mukmin di hari kiamat selain akhlak yang baik. Dalam kitab Sunan Abu Dawud disebutkan dari ‘Aisyah <em>Radhiyallâhu ‘Anha</em>, isa berkata: “ Aku mendengar Rasûlullâh <em>Shallallâhu &#8216;Alaihi Wasallam </em>bersabda “Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik bisa mencapai derajad orang yang berpuasa dan shalat malam.”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Panutan utama kaum muslimin, pemilik akhlak yang sempurna dan manhaj yang agung, beliau adalah Nabi kita Muhammad <em>Shallallâhu &#8216;Alaihi Wasallam</em>. Allâh  <em>Ta’ala</em> telah berfirman tentang beliau :</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri taudalan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh  dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh .” (<strong>QS. Al-Ahzab: 21</strong>).</span></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">&#8220;Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung&#8221; (<strong>QS. Al Qalam:4</strong>).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Begitu pula para sahabat, mereka adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya setelah Rasûlullâh. Dan di antara akhlak <em>Shalafus Shalih</em> yaitu: 1) Ikhlas dalam berilmu serta takut dari riya’; 2) Jujur dalam segala hal; 3)  Sungguh-sungguh dalam menjalankan amanah; 4) Menjunjung tinggi hak-hak Allâh dan Rasul-Nya; 5) Lembut hatinya; 6)Banyak berdzikir kepada Allâh Ta&#8217;ala. 7) Tawadhu’ (rendah hati); 8.) Banyak bertaubat; 9) Pemalu; 10) Senantiasa menjaga lisan mereka, tidak suka menggunjing; 11) Banyak memaafkan dan sabar; dan 12) Banyak bersedekah, dan masih banyak lagi akhlak mulia lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">&#8220;Ya Allâh , jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang selalu berada di atas petunjuk-Mu, arahkanlah kami kepada akhlak yang mulia, serta tetapkanlah hati kami di atas jalan-Mu.&#8221; </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000">Semoga dengan usaha yang sungguh-sungguh dan jihad ini, kita terbimbing menjadi manusia yang ber-<em>akhlaqul karimah</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-full wp-image-2019" style="margin-left: 10px;margin-right: 10px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/08/tjatjatan-mukmin-sedjati.jpg" alt="" width="140" height="213" /></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800080">Dikutip dari buku</span> “<span style="color: #0000ff"><strong>Catatan Harian Mukmin Sejati</strong></span>”</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800080">Penulis</span> “<span style="color: #008000"><strong>Abdul Ilahbin Sulaiman Ath-Thayyar</strong></span>”</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800080">Penerbit</span><span style="color: #0000ff">:</span> <strong><span style="color: #ff6600">An-Naba Solo</span></strong></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><span style="color: #ffffff">.</span></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/menggapai-akhlak-mulia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detik-detik penentuan</title>
		<link>http://an-naba.com/detik-detik-penentuan/</link>
		<comments>http://an-naba.com/detik-detik-penentuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 08:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kubur]]></category>
		<category><![CDATA[naar]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[siksa]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2038</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Al-Barra' bin Azib bahwa Rasulullah bersabda," Kami pernah bersama Rasulullah mengiringi jenazah seorang lelaki Al-Anshar. Sampailah kami di kuburannya.  Ketika digali liang lahatnya, Rasulullah duduk dan kamipun duduk mengelilingi beliau, seolah-olah ada burung hinggap di atas kepala kami, sementara di tangan belaiau terdapat kayu yang beliau ketuk-ketukan di atas. Lalu beliau mengangkat kepala sambil bersabda:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-2039" title="sakaratul mau" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/08/sakaratul-mau.jpg" alt="" width="259" height="194" /><span style="color: #0000ff;">Diriwayatkan dari Al-Barra&#8217; bin Azib bahwa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa sallam- bersabda,&#8221; Kami pernah bersama Rasulullah mengiringi jenazah seorang lelaki Al-Anshar. Sampailah kami di kuburannya.  Ketika digali liang lahatnya, Rasulullah -Shalallahu alaihi wa sallam- duduk dan kamipun duduk mengelilingi beliau, seolah-olah ada burung hinggap di atas kepala kami, sementara di tangan belaiau terdapat kayu yang beliau ketuk-ketukan di atas. Lalu beliau mengangkat kepala sambil bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8221; Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.&#8221; Demikian beliau sabdakan dua atau tiga kali kemudian  beliau bersabda,&#8221; Sesungguhnya seorang mukmin yang meninggal dunia dan mengahadap alam akhirat, akan ditemui oleh beberapa malaikat dari langit dengan wajah putih bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dari Jannah hingga duduk dihadapan selebar mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut dan duduk di sisinya seraya berkata, &#8220;Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan Rabbmu dan keridhaan-Nya.&#8221; Kemudian keluarlah ruh itu seperti air yang mengalir dari wadahnya. Sang malaikat menyambutnya. Para malaikat itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu sedikitpun.<span id="more-2038"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mereka segera mengambilnya dari dari tangan malaikat maut dan meletakkannya dalam kafan yang sudah dibubuhi wewangian, sehingga keluarlah ruh itu dengan bau harum semerbak seperti kesturi terbaik yang ada di muka bumi.&#8221; Selanjutnya: Naiklah para malaikat itu membawa membawa ruh tersebut. Setiap kali melewati sekelompok malaikat, mereka ditanya:&#8221; Siapakah ruh yang baik ini?&#8221;  Mereka menjawab,&#8221; Fulan bin Fulan,&#8221;  disebutkan nama terbaik yang digunakannya di langit dunia. Mereka meminta ijin, lalu dibukakan pintu untuk mereka. Disetiap langit mereka dielu-elukan oleh para pengantar mereka ke langit berikutnya hingga mereka sampai kelangit ketujuh. Allah berfirman,&#8221; Tulislah catatan amal hambaku ini dalam <em>illiyyin</em> dan kembalikanlah ia ke bumi ke dalam jasadnya.&#8221; Lalu datanglah malaikat yang duduk di sisinya sambil bertanya,&#8221; Siapakah Rabb-mu?&#8221; orang itu menjawab,&#8221; Rabb-ku adalah Allah.&#8221; Kedua malaikat itu bertanya lagi,&#8221; Apa agamamu ?&#8221; Orang itu menjawab,&#8221; Agamaku adalah Islam.&#8221; Kedua malaikat itu bertanya lagi,&#8221; Siapa lelaki yang diutus kepadamu ini?&#8221; Orang itu menjawab,&#8221; Dia adalah Rasulullah.&#8221; Kedua malaikat itu bertanya lagi,&#8221; Dari mana engkau mengetahuinya?&#8221; Lelaki itu menjawab,&#8221; Saya membaca kitabullah, mengimani dan membenarkannya.&#8221; Lalu datanglah suara berkumandang,&#8221; Sungguh benar apa yang telah dikatakan oleh hamba-Ku ini Bentangkanlah tilam dari jannah dan bukakanlah pintu menuju jannah itu .&#8221;  Selanjutnya datanglah tilam itu dengan bau yang harum, lalu diluaskan kuburnya hingga selebar mata memandang. Lalu datanglah lelaki dengan wajah rupawan dan pakaian yang indah juga berbau wangi. Orang itu bertanya,&#8221; Siapkah engkau? wajahmu yang medatangkan kebaikan?&#8221; Lelaki itu menjawab,&#8221; Saya adalah amal shalihmu.&#8221; Orang itu berkata,&#8221; Ya Rabbi, tegakanlah hari kiamat, sehingga aku kembali kepada keluargaku dan hartaku ( di Jannah)</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-2040" title="ww" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/08/ww.jpg" alt="" width="262" height="193" />Sesungguhnya hamba yang kafir, hendak meninggal dunia dan menghadap alam akhirat, ia didatangi malaikat berwajah hitam dengan membawa <em>masuh</em> ( pakaian dari bulu). Lalu duduklah para malaikat itu di sisinya selebar mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk disisinya sambil berkata,&#8221; Wahai jiwa yang jahat! Keluarlah engkau dengan kemarahan dari Allah dan kemurkaan-Nya. Maka berpisahlah ruh dari jasadnya dan malaikat maut mencabut ruhnya seperti <em>saffud</em> dicabut dari bulu wol yang basah. Lalu malaikat maut memegangi ruhnya. Setelah dia memeganginya, maka malaikat azab itu tidak menyiakan kesempatan. Mereka langsung mengambilnya dan meletakkannya didalam <em>masuh</em> tersebut, lalu keluarlah ruh itu dengan berbau bangkai yang terbusuk dimuka bumi. Malaikat itu naik membawa ruh itu. Setiap kali mereka melewati sekelompok malaikat, mereka ditanya,&#8221; Siapakah ruh yang busuk ini?&#8221; Mereka menjawab,&#8221; Ia adalah Fulan bin Fulan.&#8221; disebutkan nama terjelek yang disandangnya selama di dunia.&#8221; Kemudian Sampailah mereka ke langit dunia. Mereka meminta dibukakan pintu, namun tidak dibukakan untuk mereka. Kemudian Rasulullah membaca firman Allah,</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;">&#8221; </span><em><span style="color: #0000ff;">Tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk kedalam jannah sampai unta masuk kedalam lubang  jarum</span></em><span style="color: #0000ff;">.&#8221; </span>( Al-A&#8217;raaf: 40)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah <em>Azza wa jalla</em> berfirman,&#8221; <em>Tulislah amalnya dalam sijjin dibumi yang terendah</em>.&#8221; Kemudian Rasulullah membaca ayat,&#8221; <em>Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah maka seoalah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ditempat yang jauh.</em>&#8221; ( Al-Hajj:31)</p>
<p style="text-align: justify;">Ruh itupun dikembalikan ke jasadnya, lalu ia didatangi oleh dua malaikat yang langsung bertanya,&#8221; Siapakah Rabb-mu?&#8221; Orang itu menjawab,&#8221; Haah, haah, saya tidak tahu.&#8221; Kedua malaikat bertanya lagi,&#8221; Apa agamamu?&#8221; Orang itu menjawab,&#8221; Hah, saya tidak tahu.&#8221; Kemudian malaikat itu bertanya lagi,&#8221; Siapa lelaki yang di utus kepadamu ini?&#8221; Orang itu menjawab lagi,&#8221; Haah, saya tidak tahu.&#8221; Lalu terdengar suara dari langit,&#8221; Ia dusta&#8221;. Bentangkanlah tilam dari Naar dan bukakanlah pintu menuju kepadanya. Datanglah tilam itu dengan bau yang busuk dan panasnya yang dahsyat, lalu kuburnya menyempit hingga tulang-tulang rusuknya remuk. Datanglah kepadanya seorang lelaki yang buruk rupa dengan pakaian jelek dan berbau busuk. Lelaki itu berkata,&#8221; Terimalah kabar yang jelek bagimu pada hari ini, hari yang telah dijanjikan kepadamu.&#8221; Orang  bertanya,&#8221; Siapakah engkau?&#8221; Aku adalah perbuatan jahatmu.&#8221; Orang itu berkata,&#8221; Ya Rabbi! Janganlah Engkau tegakkan hari kiamat.&#8221; Diriwayatkan oleh Ahmad ( Al-Musnad IV: 287), Abu Dawud As-Sunan II: 540 serta Al-Hakim. al-Hakim berkata, Hadits ini shahih, memenuhi persyaratan Al-Bukhari dan Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800080;">Dikutib dari buku Huru-Hara Di Hari Kiamat. Terbitan Pustaka At-Tibyan. Baca perjalanan manusia selanjutnya di buku tersebut. Semoga bermanfaat.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/detik-detik-penentuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uwais Al-Qarni</title>
		<link>http://an-naba.com/uwais-al-qarni-2/</link>
		<comments>http://an-naba.com/uwais-al-qarni-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 07:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2008</guid>
		<description><![CDATA[Dia adalah Uwais bin Amir bin Juz bin Muraad, berasal dari wilayah Qarn di Yaman. Ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia memiliki seorang ibu dan ia sangat berbakti kepadanya.  Karena baktinya itulah yang menghalanginya untuk meninggalkannya ibunya dan menemui Rasulullah Shalallahu 'alahi wassalam. Ia memilih tetap berada di samping ibunya dan mengurus keperluannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/08/doa-ibu.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2011" title="doa ibu" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/08/doa-ibu.jpg" alt="" width="254" height="199" /></a>Dia adalah Uwais bin Amir bin Juz bin Muraad, berasal dari wilayah Qarn di Yaman. Ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia memiliki seorang ibu dan ia sangat berbakti kepadanya.  Karena baktinya itulah yang menghalanginya untuk meninggalkannya ibunya dan menemui Rasulullah Shalallahu &#8216;alahi wassalam. Ia memilih tetap berada di samping ibunya dan mengurus keperluannya.</p>
<p>Pada masa kekhalifahan Umar Al-Faruq datanglah sebuah rombongan dari Qarn, Yaman. Umar menemui mereka dan bertanya kepada mereka,&#8221; Adakah diantara kalian yang bernama Uwais bin Amir?&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;ada!&#8221;</p>
<p>Umar meminta agar dapat bertemu dengannya. Umar mendapatinya seorang yang faqir. Umar bertanya kepadanya,&#8221; Benarkah engkau Uwais bin Amir?&#8221;; Ia menjawab, &#8221; Benar.&#8221;</p>
<p>Umar bertanya,&#8221; Benarkah engkau pernah terkena penyakit sopak lalu engkau sembuh dan hanya tersisa dari bekas penyakit itu sebesar uang dirham pada tubuhmu?&#8221;</p>
<p>Ia menjawab,&#8221; Benar. Aku mempunyai seorang ibu.&#8221;</p>
<p>Maka Umar berkata,&#8221; Aku mendengar Rasulullah bersabda,&#8221;Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir dari kabilah murad di Qarn. Ia terkena penyakit sopak lalu dia sembuh darinya kecuali tersisa bekasnya sebesar uang dirham. Ia punya ibu dan berbakti kepadanya. Kalau ia meminta kepada Allah pasti dikabulkan. Jika engkau bisa memintanya memohonkan ampunan bagi kalian maka lakukanlah.&#8221;</p>
<p>&#8221; Mintakanlah ampunan untukku hai Uwais! &#8221; Pinta Umar. Maka Uwaispun memohonkan ampunan untuk Umar. Kemudian Umar bertanya kepadanya,&#8221; Kemana engkau hendak pergi? &#8221;</p>
<p>Ia menjawab,&#8221; Ke Kuffah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maukah aku tuliskan surat untuk gubernur di sana agar menyambutmu?&#8221; Tanya Umar. Uwais menjawab,&#8221; tidak perlu, biarlah aku menjadi rakyat biasa, itu lebih aku sukai.&#8221;</p>
<p>Wahai Saudaraku, itulah kisah Uwais Al Qarni. Seorang hamba biasa yang mendapatkan kedudukan yang mulia dihadapan Allah dan Rasul-Nya bahkan sang khalifahpun meminta untuk didoakan oleh beliau. Marilah kita senantiasa berbakti orang tua, karena ridha Allah didalam ridha orang tua. wallahu a&#8217;lam bishawab..</p>
<pre>Dikutip dari kitab Qishash Muatstsirah fii Birru wa 'Uquuqu Al-Waalidain dan telah diterjemahkan dengan judul Andai Kau Tahu Wahai Anakkku, diterbitkan oleh <a href="http://promo.at-tibyan.com/" target="_self">Pustaka At-Tibyan</a></pre>
<div id="greasedLightboxOverlay">
<div id="greasedLightbox"><img id="greasedLightboxImage" alt="" /></div>
</div>
<div id="greasedLightboxMenu"><a id="greasedLightboxTitleLink" href="http://shiftingpixel.com/lightbox/">Greased Lightbox</a></p>
<div id="greasedLightboxButtons"><a id="greasedLightboxButtonRight" title="Next image (right arrow key)">→</a><a id="greasedLightboxButtonLeft" title="Previous image (left arrow key)">←</a><a id="greasedLightboxButtonPlus" title="Magnify image (+ key)">+</a><a id="greasedLightboxButtonMinus" title="Shrink image (- key)">-</a><a id="greasedLightboxButtonSlide" title="Start/stop slideshow">↻</a></div>
</div>
<div id="greasedLightboxLoading"><img style="border: medium none;" src="data:image/gif,GIF89a%80%00%80%00%A2%00%00%FF%FF%FF%DD%DD%DD%BB%BB%BB%99%99%99%00%00%FF%00%00%00%00%00%00%00%00%00!%FF%0BNETSCAPE2.0%03%01%00%00%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%02%00%02%00%7C%00%7C%00%00%03%FFH%BA%DC%FE0%CA%06*%988%EB%CD%BB_%96%F5%8Ddibax%AEl%AB%A5%A2%2B%CF.%5C%D1x%3E%DA%97%EE%FF%12%1EpHT%08%8B%C8G%60%190%1DI%83%E8%20%F9a2K%CF%8FTJ%E5X%AD%A4lg%BB%EDj%BE%D7%9D%0DJ%8E%9A3%E8%B4G%BCis%DF%93%B8%9CC%CF%D8%EFx%12zMsk%1E%7FS%81%18%83%850%87%7F%8Apz%8D)%8Fv%91%92q%1D%7D%12%88%98%99%9A%1B%9C%10%88%89%9Fy%93%A2%86%1A%9E%A7%8B%8C%2F%AB%18%A5%AE%A0_%AA%8E%AC%90%B5%B6%60%19%A3%0D%AD%BC%AF%A1(%B2%9D%BB%C3%C4h%BF%C7%A4%C9%CA%A8%A9A%CE%0E%B4%D1%BD%7B%10%C0%0A%C2%D8%D2%C5%DB%D5%0C%D7%DF%CB%B7%13%B9%C8%97x%02%EE%02%2B%B0%D47%13%DEln%1E%EF%EF'%F2%2B%F6Zd%3A%E8%1Bhb%9A%3Fv%F7%DAp%18%C8%90%84%C1%13%D0%C6%94%CB%C0%B0%E2%08f2%14%02%2Ce%8A%FFb%C5%86U%B4%B5(%B3%91%A3%C0%8F%20%CD%CD%E2%08h!%CA%94*%AD%B1l%99%EF%25%C1%98%0Bf%D2%1Ca%F3fL%9D%F8X%F4%D4g%0EhG%17C%F7%0D3%EA%23%A9%3B%5EL%818u%054%C9P%AA%2C%DF%D8%C4%FA%8F%CAK%AE%08%15Y%AC%15%F6%13%D1%A5%3Bq%AA%5D%CB%B6%AD%DB%B7p%E3%CA%9DK%B7%AE%DD%BBx%F3B4%DA%F5%1B_a%7F'%16%0D%0C%89%B0%E0h%86%13%F3%FD%A9%B8qV%95%8E%23%F7%85*%D9Me%B5%97%BB9f%1BY%AF%E7%CF%A0C%8B%1EM%BA%B4%E9%D3%A8S%AB%C6A%92r%D0Se1%C5~s8P%ED%24%26a%DF%1E2%13%EC%E4%1CUu%F7%06%12%D5wn%E0%C1%5D%0F%9FQ%1Cq%F2%83%3A1%3FO%F8Xzt%EA%C7%DB6%AFs%5D%EE%F4%95%D5%25%BEv%D1Z%7Cv%F0%BB%EB%05%CC%B8%DERz%99%BF%D5kd%11%91%C3y%F9%F3G%D4%2F%B1%DF~%FF%08%BC%F9%E9%F7_I%EDaW%12t%01%3EP%DE3%B3%B9g%DB%80%9A-%A8%20%84%8CAha%7C%90Q%A8!%85~a%B8!%87%CE5%18%8C%88%E4%80%88%16%89%25%26%C8%A0%8A%19%A2%98%93%8B%11%B2%D8!%8C1J%08%A0%89%9F%BC%97b%81%F8%C9x%A2%8F%F0%F1%D8%A3%8D%CA%E8%B8%23%91%2B%02)%9C%92%232y%24%92%C6%A55%E4x~%E0H%9B%95%04%60%89%A1%22%5B%06%09%E5%8D4%9Aa%A4%97RNY%26%97X%D6x%E6%3ANv%91%A6%9ATr%D7%26%15of%19%26%99q%E6(%A4%7Fs%929%E3Q%EE%7D%89%1Eiu%AAVhj%87%A2%96%E8i%8B%9A%D6%A8%A3%7B%AE%C6'%A0%AE%24%00%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%0A%00%02%00W%000%00%00%03%FFH%BA%DC%FE0%BE%40%83%BC8%EB%3D%2B%E5%60(J%9E7%9E(WVi%EBv%EB%2B%BF%EB7%DFgm%E1%3C%A8%F7%23%81P%90%FA%A1%00H%40k8D%19G%C9%24%8A%C9%CC%D5N%D1%E8%89%DA%1C%3DCYi%90%2B%F4%5EEa%B1%88%DC%F5%9DAi%F5%9A-%FAn%E2%CA%14%9B%E8%8E%C1%E3.%7B!v%19x%2F%82*o%1A%86%87%88%1A%84%12xy%8Dd%89~%8B%803%7B%7C%19%90%10%928%8E%18%9E%0F%8C%A1t%9D%8A%91%99%3C%A2%24%AA%11%A6%AD%A8%17%A4%0C%B2%B3%B4%11%B6%0A%A0%40%0A%AE0%25%18%B8%3D%9B%B5%B0%0D%BE%BF%C0%BA%10%97%B1%AC%10%03%D4%03%81%CE%C2%C4%D2%0F%D5%D5K%D8G%DB%0D%DD%E4z%952%E2%E3%E4%E5c%5C3%E9%0C%EB%F2%EDm%E8Y%18%F2%F3se%3CZ%19%F9%FA%98%09%04%18P%E0%2F%82%EB%0C2C%C8N!%10%86%DD%1C%1E%84HMb%0F%8A%15-%F2%C0%A8%F1%13%22%C3%8E%0F%09%82%0C%99o%E4%C4%86%26IZK%A9!%01%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%1F%00%02%00W%000%00%00%03%FFH%BA%DC%FEKH%01%AB%BD8%EB6%E7%FE%60%A8u%9Dh%9E%22%E9%A1l%5B%A9%92%2B%CF%04L%D1%F8i%E7%7C%B8%F7%A2%81p%C0%FA%9D%02%C8%40k8D%19E%C9%24%8A%C9%D4%C1%8EQ%A9%89%DA4%3DAYm%90%2B%F4%5E%A1a%E4%89%DC%05%7D5i%F1%98%9C%3A%83%E3K%B6%CF%BE%89%2B%F3tn%7Cpx.lD%1Fo%17~3%87%88%23%83%8B%8C%8Dz%1B%8A%15%93%94%95%19%97%0F~%7F4%87%96%91%98%859%A2%9C%A4%9E%A6%A7%9B%17%9D%0D%99%3C%A8%AF%AA%B1%AC%B3%B4%2F%B6%0B%9F%40%0B%BA%10%B0%0A%B2%40%8E%B5*%92%B8%C6%AE%C2%24%18%C5%BF%04%C1%0F%25%CAa.%00%DA%00%18%D4(%D1!%DB%DB%DD%812%CB%20%E2%E9%17%CD%2C%E7%1A%E9%F0%E4U8%D8%22%F0%F7%19%F39Q%26%F7%F8%D2%D2%FC%FD%03%D8C%E0%40%828%0C%C6C%C8C%A1%3A%86%09%1D%8E%83HC%E2D%8A3%2Cj%C3X%D1%14%22%C7%88%0A%3F%E6%08)r%A4%C0%92%05%17%A2L%B9%D1D%02%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%3C%00%02%00B%00B%00%00%03%FEH4%3C%FA0%CAI%AB%9D%AD%DD%CD%7B%CD%99'%8E%16%A8%91hj2i%3B%AE%8E%2Bo%F0l%7F%EB%ADG%B5%2B%FC%82%DD%A3%97%02%02%85%8B%5C%D1x%DC%11I%CC%A6%EE)%8AJo%D4%8E%F5j%CBr%B6A%A1%F7%02F%26M%D0%ADy%5C)%AF%95Z7%92%3D%91%CF%E1%1Bp%F8%8D%8E%5B%CDCx%16v%7C%20~Q%80%81%7Ddj%89%0At%0Az%8E%8F%82u%8D%93%90%92%93%94!%8C%7F%9B%8A1%83%97.%01%A6%01%3B%84(%A7%A7%3A%A4%AB%AC%AC7%AF%22%B1%B6%AEL)%B6%BB%A9%5C%1E%BB%BC%A0%1B%C0%C1%C2%15%C4%C5%C6%12%C8%B7%CA%14%CC%B1%CE%13%D0%B2%D2%11%D4%AD%D6%D7%D8%A8%DA%10%DC%DE%CB%D0%E1%D3%C8%E4%CF%C4%E7%C7%CD%EA%EB%A6%ED%F0%F1%F2%F3%F4%F5%F6%F7%F8%F9%FA%FA%00%FD%FE%FF%00%03%024%26%B0%A0%C1%7F%A0%0E*4%B8i%A1%C3%81%93%1EJ%04%D0p%A2%C3%84%16%0F%12%CC(%03PA%02%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2CN%00%0A%000%00W%00%00%03%ECH%BA%BC%F3%A3%C9I%2B%85%D0%EA%7Dq%E6%E0%E6%7Da)%8D%A4%A9%A2%A9Z%B2%91%BB%B2%B2%0B%D7%E6%8D%87p%BCs%BA%9F((%B4%10%8B%1D%14r%A8%5CV%8ENF%2F%9A%1CQ'%D3k%03z%E5%AA%04%60%81%91%B6%0B%87%9F%CD%9Ay%5D%C5%A8%D7%EC%B6%CF%04%AF%8F%1F%B2%BA%9D%AA%DF%3B%FB~H%80p%7C%83fQ%86%87%7F%89%60%85%8C%8E%86Z%89Z%0A%83%94%0B%80%97%0C%81%9A%95g%9D%A0%A1%A2%A3%A4%A5%A6%A7%A8%A9%AA*%01%AD%AE%AF%B0%B1%B05%B2%B5%B6%AF.%B7%BA%B6%AC%BB%BE%B8%26%BF%C2%01%BD%C3%BB%B9%C6%B7%B4%C9%B2%AB%CE%CF%D0%D1%D2%D3%D4%D52%00%D8%00%A5%D9%DC%A2%DC%DF%DA%9D%E0%DF%E2%E3%E4%94%E6%E3%E8%E9%E0Z%EC%ED%EE%EF%DD%F1%F2%D8%F4%F5%EB%F5%E1W%FA%FB%FC%F8%F9%D8%95K%17%8A%A0%B7s%A3%E6QH%00%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2CN%00%1F%000%00W%00%00%03%E9H%BA%DC%FEn%C8%01%AB%BDmN%CC%3B%D1%A0'F%608%8Eez%8A%A9%BAb%AD%FBV%B1%3C%93%B5v%D3%B9%BE%E3%3D%CA%2F%13%94%0C%81%BD%231%A8D%B6%9A%8F%1C%14R%9B%F2L%D6%AB0%CB%EDz%BF%E0%B0xL.%9B%CF%5C%81z%CDn%BB%DB%B3%B7%7C%CE%5E%D1%EF%F3%13~%0F%1F%F1%FF%02z%80%7Bv%83tq%86oh%8B%8C%8D%8E%8F%90%91%92%93%0A%01%96%01f%97%9Ac%9A%9D%98%60%9E%9D%A0%A1%A2%5D%A4%A1%A6%A7%9E%5C%AA%AB%AC%AD%9B%AF%B0%96%B2%B3%A9%B3%9FY%B8%B9%10%00%BE%00%2F%B8%15%BF%BF%C1%B0%BD%C4%C5%C6%A7%C8%C9%C07%CC%0F%CE%CA%D0%A5%D2%D3%CF%3B%B1%C3%D8b%D8%BE%DE%DDa%DF%D9_%DFc%E7%E3%E2%EA%D3%E1%EB%E6%EF%5E%E4%EE%CE%E8%F1%5D%E9%EC%F5%FA%FB%60%F9%FE%ED%E8%11%23%D3%CF%1E%B8)%09%00%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%3C%00%3C%00B%00B%00%00%03%F9H%BA%DC%FEP%8DI%AB%BD6%EA%1D%B1%FF%15'r%60%F9%8D%E8c%AEY%EAJl%FC%BE%B1%3C%BB%B5y%CF%F9%B9%FF%C0%A0pH%2C%1A%8F%C8%A4r%C9l%3A%9F%D0%A8tJ%10X%05%D4%D7u%9B%1Dm%BF%D8%AE%06%FC%15G%C8%60%B3%03MV3%D8mw%15%5E%96%CF%E9W%FB%1D%1Fv%F3%F3v%7FVz%82F%01%87%017%7FD%88%88%8AxC%8D%8D%3Bt%91%92%87%40l%96%97%89%99u%11%00%A1%00%1C%9C%98A%5C%1A%A2%A2%A4%A5O%AA%AA%1B%A5%A6L%AF%AB%B1%ADM%B5%A1%AC%B8K%BA%A3%BC%97%B9%BA%23%B2%B4%C4%22%C6%BE%C8%C9%BDH%BF(%B2%9D%CF%CC%CD%9CJ%D0%D1%CAG%D9%DA%D7%D4%B5%2F%DBE%DD%DE%C2%DC%D5%E6%92%E8%E1%E2%E3B%E5)%EFA%F1%F2%DFD%F5%EA%8E%E4%E9.%E7%FC%EDvLb%F7J%8F%83%7Cv%10%CAQ%E8%86%A1%1A%87%0F%0B%1A%7C%00kb%83%04%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%1F%00N%00W%000%00%00%03%FFH%BA%DC%FE0%CA7%EA%988%EB%CD%89%FD%5D(%8E%CDg%5Ed%AAJ%A7%B9%BE%B0%D7%BAq%1D%CE%AD%ADkx%BE%FF%90%DE%09Ht%08i%C5%E4%11%94%2C.-M%E5%13%15%05N5%80%2C%E0'%E8%0AFO%8CV%AB%F3z%C1%C7%C9x%5C3%9BIB%F5%3A%DBvwU8%C9%9C%1C%B3%9F%F1H%10%7Bt%13%01%86%01%18~w%2BL%11%83%5B%85%87%86%89%8AQ%8F%90%11%92%92%13%8A%8BE%8F%18%9A%87%94~I%97%A1%A2%88%9C%9D%9F%83%19%A9%AA%AB%A5%40%A0%AF%A9%1A%AC%3F%B5%A8%A2%B8%95%3B%BB%BC%9A%1B%B95%A7%1A%B0%C4%C50%C1%C2%9B%CA%B3%CC%CD%91%BD%D0%D1%2B%D3%D4%C3%1C%CB)%D9%DA%CF%DC%BF*%DF%12%C9%1D%DD%22%E5%E6%B7!%E9%1C%C7%1D%E7%E8%EFX%AE%22%F3%F4%D7%1D%F7%F8%ED%22%E3B%F4%0B%91O%9F%1BokR%144%E8%89%04%1B%85%FFF%BC%A9%E2l%14%C5(%0B%2F%FE%C8%A8Q%13%07%C7%8E5%3E%82%84!r%E4%8Bj%26%89%84K%A9%20%01%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%0A%00N%00W%000%00%00%03%FFH%BA%DC%0E%10%B8I%AB%BD8%B7%C8%B5%FF%E0%C7%8DRh%9E!9%A2lK%A9%A4%2B%B7%B0%3A%DF%60m%E3%3C%A6%C7%BD%E0%E4%B7%12%1A%17%C4%CEq%99%8C%2C%8FM%C8%13%DA%9CR%89%A7%806%20%1Cx%07%99dv%AB%ED%7D%BF%3E%1D%8AL%C6%9D%CF%97Z%8B%BDu%BF%BDi%25%8B%5E%BF%DD%D1qN.%7Ce%17%02%87%02%18%7FxV%04%84%5C%86%88%87%8A%8BV%8F%90%15%92%92%17%8B%8CK%8F%18%9A%88%94%7FO%97%A1%A2%89%9C%9D%9F%84%19%A9%AA%AB%A5F%A0%AF%A9%1A%ACB%B5%A8%A2%B8%95A%BB%BC%9A%1E%B98%A7%1A%B0%C4%C53%C1%C2%9B%CA%B3%CC%CD%91%BD%D0%D1%83%AE%1F%C9%1F%CB%7B%D9%DA%B7%20%DDc%7C!%DB%DC%BF%DE%E5%E6%E1%E2%E9%26%C7%20%E7%E8%EF%20%D3%C8%ED%EE%D7%F6%EB%26%F3%FAo%D6%F4cW%CDD%3D~mP%FC%03%E8I%60!%85%F9%0C%02jDm%18E%2B%0B%2F%0A%C9%A8%B1%12%07%C7%8E8%3E%82%9C!r%A4%8C%82%26%8D%3C%E3%91%00%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%02%00%3C%00B%00B%00%00%03%F5H%04%DC%FE%F0%A9I%AB%BD%98%C6%CD%5D%FE%E0%D5%8D%5Ch%82d*%9D%AC%A5%BE%40%2BO%B0%3A%DF%F5x%EF%F9%B6%FF%C0%A0pH%2C%1A%8F%C8%A4r%C9l%3A%9F%D0%A8tJ%3D%05%AE%81%AA%0C%CB%D5%9A%B8%E0%AC7%13%06%8F%2F%E5%F0%99%92.%AF%09m%F7%3A%AE%3E%D3%CD%F6%3B%F6%AD%DF%E7%FB%7C%80%81w%3B%02%86%02Fz%85%87%86Et%3F%8C%8CDmA%91%87%8Ex%40%96%97%98WC%9B%8D%20%03%A3%03R%A0%88%A2%A4%A3P%A7%A8%19%AA%AAO%A7!%B0%A4N%AD%B4%B5%A5M%B3%B9%B5%BC%A0'%BA%BBK%BD%BE%B0L%C6%C7%B1J%B8%C2%BA%C5%C1%2C%C3%CD%CA%CB%B6I%D6%D7%ABH%DA%DB%C4F%DE%A9%BFG%E2%E3%C8%E1%E6%1F%D4%E9%9B%3B%ECE%D27%F0D%F23%F4%F5%91%40%F8%F9%A1%3F%FCo%26%00%0CH%60%60%40%83o%10%AEQx%86aCt%0410K%00%00!%F9%04%05%05%00%04%00%2C%02%00%1F%000%00W%00%00%03%E7H%BA%0C%0E%2C%CAIk%7B%CE%EAM%B1%E7%E0%E6%8Da)%8D%A8%A9%A2%A9Z%B2%AD%CB%C1%B1%AC%D1%A4%7D%E3%98.%F2%0F%DF%0E%08%11v%88E%E3%04%A9%AC%00%9B%16%1C4%0A%9B%0E%7B%D6_%26%CB%EDz%BF%E0%B0xL.%9B%CF%A1%80z%CDn%BB%DB%B6%B7%7C%CEv%D1%EFs%15~%0F7%F1%FF%01z%80%7Bv%83tq%86oh%8B%8C%8D%8E%8F%90%91%92%93h%02%96%02f%97%9Ac%9A%9D%98%60%9E%9D_%A1%9E%5D%A4%A1Y%A7%A8V%AA%A5S%AD%A2%AF%B0%97%A9%B3%96%AC%B6%9F%B2%B3%5C%B62%03%C0%03%16%BC.%C1%C1%15%AD6%C6%C6%14%A7%3E%CB%C7%CD%B1%3A%D0%D1%D2%B7B%D5%C0b%DA%C2a%DD%DE%60%DD%DC%E3%DF%DA%E4%D5c%E5%E2%E7%E6%ED%EC%E9%EE%F1%F0%D0%E8%F5%F6%CB%F8%CC%F2%F7%F4%F9%FA%DB%D4%CD%D3wf%9F%86%04%00!%F9%04%09%05%00%04%00%2C%02%00%02%00%7C%00%7C%00%00%03%FFH%BA%DC%FE0%CAI%AB%BD8%EB%CD%BB%FF%60(%8Edi%9Eh%AA%AEl%EB%BEp%2C%CFt%0A%DC%40%AD%938%BE%FF%9E%5E%0FH%CC%08%7D%C5%24%E5%88T%3A%1D%CC%E6sJ%88%E6%A8X%2B%96%AA%DDN%BB%5E%A5%F5%1AN%82%CB%C41%DA%1C%5D%B3%99%EEt%3B%0E%3C%D3i%EA%BB%CE%AE%8F%E5%FB3%7C%80%12%01%85%01!%82%83%0E%86%86%20%89%8A%0B%8C%92%1Fs%90%10%92%98%1D%95%96%8B%98%99%1BG%9C%11%9E%9E%1CC%A2%A3%A4%9F%A8%26%AA%A5%AC%AD%AE%93%B0%24%B2%B3%B4%23%B6%8C%B8%B5%BA%85%BC%22%BE%BF%C0!%C2%C4%C1%B6%C7%B9%AE%CA%CB%A4%CD%BD%B7%D0%CE%87%D3%D6%D7%D8%D9%DA%DB%DC%DD%DE%DF%E0%E1%C0%02%E4%E5%E6%E7%E8%E7%DC%E9%EC%ED%E6%DA%EE%F1%ED%D9%F2%F5%EA%D8%F6%F9%02%F4%FA%F5%F0%FD%EE%D6%01L'%AE%A0%C1%83%08%13*%5C%C8%B0%A1%C3%87h%06H%1C%00q%C1%C4%8B%10%2Fj%A4%D8pP%A3F%86%1E7*%0C%E9%11!%C9%92%07O%8A4%A8%F2%23%CB%96%13M%C2%94%98r%26%C7%970%13%CE%5C%98%93%E7I%87%24%2B%AE%ACH%00%23%D1%A3H%93*%5D%CA%B4%A9%D3%A7P%A3J%9DJ%B5%AA%D5%ABX%B3j%DD%CA%B5%AB%D7%AF%60%C3%16I%00%00%3B" alt="" /></p>
<p id="greasedLightboxLoadingText">Loading image</p>
<p id="greasedLightboxLoadingHelp">Click anywhere to cancel</p>
</div>
<div id="greasedLightboxError">
<p id="greasedLightboxErrorMessage">Image unavailable</p>
<p id="greasedLightboxErrorContext">
</div>
<p><img id="greasedLightboxPreload" alt="" /><img id="greasedLightboxPrefetch" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/uwais-al-qarni-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melazimi Sunnah Rasulullah</title>
		<link>http://an-naba.com/melazimi-sunnah-rasulullah/</link>
		<comments>http://an-naba.com/melazimi-sunnah-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 01:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[syar'i]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1969</guid>
		<description><![CDATA[Melaksanakan sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam sangat penting bagi kehidupan seorang muslim, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Sunnah Rasulullah adalah apa-apa yang berasal dari Nabi Shalallahu’alaihi wa Salam  berupa ucapan, perbuatan atau pengesahannya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><img class="size-full wp-image-1987 aligncenter" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/12341.jpg" alt="" width="720" height="180" /></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Melaksanakan sunnah Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> sangat penting bagi kehidupan seorang muslim, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Sunnah Nabi adalah apa-apa yang berasal dari Nabi <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> berupa ucapan, perbuatan atau pengesahannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata, “Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Arti “menghidupkan sunnah Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>” adalah memahami petunjuk Beliau, mengamalkan dan menyebarkannya di kalangan manusia, serta menganjurkan orang lain untuk mengikutinya dan melarang dari menyelisihinya.<br />
Orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus, yaitu (1) keutamaan mengamalkan sunnah itu sendiri dan (2) keutamaan menghidupkannya di tengah-tengah manusia yang telah melupakannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span id="more-1969"></span><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Mengamalkannya wajib, sebagaimana  mengamalkan Al-Qur&#8217;an. Hanya saja, orang yang hendak berargumen dengan Al-Qur&#8217;an hanya membutuhkan satu wawasan saja, sedang orang yang hendak berargumen dengan Sunnah membutuhkan dua wawasan:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Adapun Al-Qur&#8217;an, orang yang hendak berargumen dengannya harus memperhatikan indikasi nash atas hukum yang dia perkuat dengan nash tersebut. Tidak syak bahwa manusia banyak sekali berselisih dalam hal ini sesuai dengan kadar keilmuan dan pemahaman mereka.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Orang-orang berselisih dalam memahami indikasi Al-Qur&#8217;anul Karim, sesuai kadar ilmu dan faham mereka, dan sesuai kadar keimanan mereka kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan pengagungan mereka terhadap batasan-batasan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Adapun orang yang hendak berargumen dengan Sunnah harus melakukan dua penelitian.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline">Pertama</span>: meneliti keotentikan sebuah hadits dari Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>; karena Sunnah banyak disusupi oleh hadits-hadits lemah dan palsu, sehingga orang yang hendak berargumen dengannya perlu meneliti keabsahan dan keotentikannya dari Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>. Karena itulah para ulama –semoga dirahmati oleh Allah- menyusun kitab-kitab  biografi para periwayat hadits dan mereka juga menyusun ilmu <em>musthalah</em> hadits untuk membedakan antara Sunnah yang shahih dengan riwayat yang memiliki cacat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline">Kedua</span>: seperti wawasan terhadap Al-Qur&#8217;an di atas, yaitu (memperhatikan) indikasi nash atas hukum yang dia perkuat dengan nash tersebut. Dan manusia banyak sekali berbeda pendapat dalam hal ini, dan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah berfirman kepada Nabi-Nya:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu.</em> <strong>(An-Nisaa&#8217;:113)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Mayoritas para ulama menafsirkan hikmah sebagai Sunnah. Dan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah memerintahkan (manusia) untuk taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, Allah Ta’ala berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya).</em> <strong>(An-Nisaa&#8217;:59)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dan perintah untuk mentaati Rasul mengandung konsekuensi bahwa Sunnah beliau menjadi dalil syar&#8217;i yang wajib diamalkan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dan Allah <em>Ta&#8217;aala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.</em><strong>(Al-Jin:23)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tetapnya ancaman bagi orang yang menyelisihi Rasul <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> mengindikasikan bahwa sunnah beliau adalah <em>hujjah</em> (argument) yang wajib diterima layaknya Al-Qur&#8217;an.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dan Allah <em>Ta&#8217;aala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.</em> <strong>(Al-Hasyr:7)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Hal ini –meski sebab turunnya berkaitan dengan harta f<em>ai’</em> sesungguhnya harta <em>fai’</em> (harta rampasan perang yang diperoleh dari musuh tanpa terjadi pertempuran) dibagi berdasarkan ijtihad Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>, jika kita diwajibkan untuk menerimanya, maka hukum-hukum syar&#8217;i lainnya lebih wajib untuk diterima.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Allah <em>Ta&#8217;aala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em> (<strong>Al-Ahzab:21)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Meneladani Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> mencakup apa-apa yang diperbuat oleh Nabi <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> sesuai konsekuensi yang ditunjukkan oleh Al-Qur&#8217;an, dan juga apa-apa yang diperbuatnya dalam hal-hal yang beliau syari&#8217;atkan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> telah mengumumkan dalam khutbah Jumatnya:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>&#8220;Adapun selanjutnya, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.&#8221;</em><em> </em>(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dalam <strong><em>Al-Mukaddimah</em>)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> telah memberikan motivasi untuk tetap konsisten dengan Sunnahnya, beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>&#8220;Berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin, gigitlah ia dengan gerahammu.&#8221; </em>( Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, <strong><em>Kitabul Ilmi</em></strong>, Bab <em>Maa jaa-a fil akhdzi bis sunnah</em>, no. 2676).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Akhirnya, marilah kita senantiasa mengikuti wasiat Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> untuk berpegang teguh di atas jalannya. Begitupula wasiat beliau <em> </em>untuk berhati-hati terhadap kerusakan yang sangat berbahaya, yaitu bid’ah serta orang-orang yang mengajaknya. Karena hal itu akan menjauhkan kita dari agama yang mulia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><img class="alignleft size-full wp-image-1972" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/faedah-melazimi.jpg" alt="" width="139" height="195" /></span></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><br />
</span></p>
<p>Dikutip dari buku <span style="color: #ff0000">“<strong>Faedah Melazimi Sunnah</strong>”</span></p>
<p>Penulis <span style="color: #008000">Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</span></p>
<p>Penerbit :<span style="color: #993300"> Pustaka At-Tibyan</span></p>
<p>__________</p>
<p><span style="color: #993300"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/melazimi-sunnah-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Optimization in gaining the reward</title>
		<link>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/</link>
		<comments>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 01:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[fardhu]]></category>
		<category><![CDATA[harian]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[ideal]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[meraih]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[peluang]]></category>
		<category><![CDATA[peluang emas]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1958</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada Allah :

    "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Tujuan ibadah ini ialah mendapatkan ridha Allah kemudian surga, dan kedudukan surga itu berbeda-beda. Sejauh mana manusia meraih kebajikan dalam kehidupan ini, maka sejauh itu pulalah kedudukan yang akan diraihnya di sana.

Seorang muslim itu sangat mencintai kehidupan­nya, bukan karena kelezatannya, tetapi hanyalah karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin pahala dan kebajikan. Jika seorang muslim melihat bahwa kehidupannya di dunia sarat dengan kebajikan dan pendekatan diri kepada Allah, maka ia berdoa kepada Allah agar dipanjangkan usianya dan diperbaguskan amalnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;"><img class="alignleft size-full wp-image-1964" style="margin: 1px 3px;" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/Tangga-sukses1.jpg" alt="" width="300" height="260" />Tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada Allah :</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. Adz-Dzariyat: 56).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Tujuan ibadah ini ialah mendapatkan ridha Allah kemudian surga, dan kedudukan surga itu berbeda-beda. Sejauh mana manusia meraih kebajikan dalam kehidupan ini, maka sejauh itu pulalah kedudukan yang akan diraihnya di sana.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Seorang muslim itu sangat mencintai kehidupan­nya, bukan karena kelezatannya, tetapi hanyalah karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin pahala dan kebajikan. Jika seorang muslim melihat bahwa kehidupannya di dunia sarat dengan kebajikan dan pendekatan diri kepada Allah, maka ia berdoa kepada Allah agar dipanjangkan usianya dan diperbaguskan amalnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Dari titik tolak ini, kita harus mengingatkan tentang urgensi mengetahui cara-cara amaliah untuk meraih pahala dan kaidah-kaidah yang meng­antarkan untuk mendapatkan sebanyak mungkin kebajikan dalam syariat yang bijak ini guna memantapkan timbangan orang mukmin pada hari kiamat.</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Dan adapun orang-orang yang berat tim­bangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.&#8221;</em> (QS. Al-Qari&#8217;ah: 6-7).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berikut ini adalah sebagian dari cara-cara ideal untuk meraih tujuan yang besar ini bagi setiap muslim.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→	<span style="color: #008000;"><strong>Cara Pertama: Komitmen dengan kewajiban dan fardhu.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;"><span id="more-1958"></span>Tidak ada yang lebih dicintai Allah daripada orang mukmin komitmen dengan fardhu dan kewajiban. Sesungguhnya Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Allah berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #8b008b;">مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang Aku fardhukan kepadanya.”</em> (HR. al-Bukhari).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Jadi, istiqamah di atas amalan-amalan fardhu adalah jalan terbaik untuk meraih pahala, karena ini adalah amalan-amalan yang paling dicintai Allah, dan atas perkara inilah manusia akan dihisab di hadapan Allah pada hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→	<strong><span style="color: #008000;">Cara kedua: Memperbanyak niat baik dalam satu ketaatan.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Satu ketaatan bisa diniatkan dalam banyak keba­jikan, dan seseorang akan mendapatkan pahala dengan tiap-tiap niat itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Sebagai contoh, duduk di masjid. Ini satu ketaatan, tapi bisa diniatkan untuk banyak niat, di antaranya:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">a)	Berniat memasukinya untuk menunggu shalat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">b)	Berniat i’tikaf dan menahan anggota tubuh.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">c)	Mengusir berbagai kesibukan yang memalingkan dari menaati Allah dengan memutuskan diri menuju ke masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">d)	Dan untuk berdzikir kepada Allah di dalamnya, dan semisalnya..</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Ini adalah jalan memperbanyak niat dalam satu ke­taatan—dan analogikanlah semua ketaatan dengan hal itu. Sebab tidak ada satu ketaatan pun melainkan mengandung banyak niat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berdasarkan contoh ini—wahai saudaraku yang ter­cinta—semestinya Anda menganalogikan semua ketaatan, lalu Anda mengadakan untuk tiap-tiap ketaatan sejumlah niat baik lagi shalih sehingga satu ketaatan menjadi banyak ketaatan yang menyebabkan pahalanya berlipat ganda karenanya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Memperbanyak niat dalam satu ketaatan akan memenuhi hati dengan kebaikan, insya Allah.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→ <strong><span style="color: #008000;">Cara ketiga: masyarakat “jama’ah” adalah “mihrab untuk beribadah”.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Orang yang diberi Allah pemahaman dalam agama dan ditunjukkanNya kepada jalan yang lurus mengetahui bahwa masyarakat seluruhnya merupakan peluang emas, arena yang luas untuk melakukan amalan-amalan kebajikan, dan medan yang lapang untuk meraih pahala.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Hal ini masyarakat adalah lahan dakwah ilallah, mening­gikan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan menanamnya dalam jiwa secara baik yang kelak menghasilkan buahnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Di antara lahan beribadah di masyarakat ini, ialah sebagai berikut: Mengucapkan salam, Memberi nasihat, Kata-kata yang baik, Mencegah kemungkaran, Membuang gangguan dari jalan, Menjenguk orang sakit, Mencari orang yang tidak hadir, Turut serta dalam kegembiraan dan kesedihan, Memuliakan anak yatim… dan seterusnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Demikialah kita melihat masyarakat sebagai “mihrab” yang luas untuk ibadah terbaik dan amal terbaik yang dapat mendekatkan seorang muslim kepada Allah Ta’ala. Suatu hal yang tidak akan dijumpai seseorang manakala ia menyendiri lagi terpisah dari masyarakat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→<strong><span style="color: #008000;"> Cara keempat: Memanfaatkan waktu-waktu harian yang utama.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Melaksanakan ibadah-ibadah pada waktu-waktu­nya yang utama yang dianjurkan oleh Syari’ (Penetap syariat) yang bijaksana supaya dilakukan di dalamnya menyebabkan sesorang mendapatkan pahala yang besar—yang tidak akan diperolehnya sekiranya ia melakukan ibadah tersebut di luar waktu yang utama itu. Ini adalah karunia Allah dan rahmatNya. Di antara waktu-waktu utama dalam sehari:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">a)	Berdzikir pada Allah setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari setinggi satu tombak.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">b)	Menjawab seruan muadzin untuk shalat lima waktu</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">c)	Berdoa di antara adzan dan iqamah</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">d)	Memanfaatkan sepertiga malam yang terakhir dengan shalat, doa dan istighfar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">e)	Tasbih, tahlil, tahmid dan takbir sepanjang hari.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Memperhatikan waktu-waktu yang utama ini dengan melakukan ketaatan, di dalamnya berisi­kan usaha besar untuk meraih pahala dari Allah Ta’ala.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→ <strong><span style="color: #008000;">Cara kelima: Berkeinginan untuk melakukan amalan-amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga setelah kematian.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Di antara karunia Allah yang besar atas umat ini yang pendek usianya, ialah Dia menunjukkan mereka kepada amalan-amalan yang pahalanya terus berkesinambungan hingga setelah kematian. Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #8b008b;">إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #0000ff;">&#8220;Di antara amalan dan kebajikan yang terus sampa kepada orang mukmin setelah kematiannya, ialah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya semasa sehatnya dan semasa hidupnya, maka itu sampai kepada­nya setelah kematiannya.&#8221;</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Maka, saudaraku semuslim, hendaklah Anda meng­amalkan mana saja di antara amalan-amalan ini yang pahalanya akan mengalir setelah kematian, sehingga pahala Anda tidak terputus dengan terputus ajal Anda.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Syaikh as-Sa’di mengatakan—dikutip secara bebas—tentang firmanNya,</span> <span style="color: #0000ff;"><em>&#8220;dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggal­kan.&#8221;</em> (QS. Yasin: 12)</span><span style="color: #a52a2a;">:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">“Yaitu peninggalan-peninggalan kebaikan dan pening­galan-peninggalan keburukan yang mana mereka menjadi sebab peninggalan-peninggalan itu, baik semasa hidup maupun setelah kematian mereka….”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Semua kebaikan yang dilakukan seorang manusia karena sebab ilmu hamba, pengajarannya, nasihatnya, perintahnya kepada yang ma’ruf atau pencegahannya dari kemungkaran, ilmu yang ditinggalkannya di tengah kaum muslimin dalam buku-buku yang bermanfaat, baik semasa hidupnya maupun sesudah matinya, amal kebajikan berupa shalat, zakat atau sedekah, orang yang bisa diteladani orang lain, membangun masjid, atau salah satu tempat untuk pertemuan manusia, maka ini termasuk peninggalan-peninggalannya yang dituliskan untuknya. Demikian pula amalan kebajikan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berdirilah untuk mengunjungi salah satu kantor Lem­baga Bantuan Islam (<em>Hai’ah al-Ighatsah al-Islamiyyah</em>) atau Perhimpunan Pemuda Islam Internasional (<em>an-Nadwah al-Alamiyyah li asy-Syabab al-Islami</em>), atau organisasi-organisasi sosial terpercaya lainnya untuk melihat kegiatan mereka dalam berbagai proyek kerja yang mengalir paha­lanya hingga setelah kematian, seperti sedekah jariyah. Tujuannya, wahai saudaraku, ialah bagai­mana kita meraih kebajikan yang lebih banyak pada hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Bersambung, Insya Allah&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<pre style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Dikutip dari <span style="color: #a52a2a;">kitab </span></span><span style="color: #a52a2a;">Tsalatsuna Thariqah Mitsaliyyah likasb al-Ajr wa ats-Tsawab min Allah, karya Khalid bin Abdurrahman ad-Darwisy.</span></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Para Nabi</title>
		<link>http://an-naba.com/ujian-para-nabi/</link>
		<comments>http://an-naba.com/ujian-para-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 01:46:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[al-Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>
		<category><![CDATA[syafaat]]></category>
		<category><![CDATA[Taurat]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1931</guid>
		<description><![CDATA[Kemudian coba perhatikan keadaan Al-Kaliim Musa 'Alaihissalam, cobaan yang telah diberikan kepadanya dan ujian mulai dari kelahirannya sampai akhir urusannya, hingga Allah Ta'ala mengajaknya berbicara dan mendekatkan diri beliau kepada-Nya, menuliskan kitab Taurat dengan tangan-Nya untuk beliau dan mengangkatnya ke derajat yang tinggi]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemudian coba perhatikan keadaan <em>al-Kaliim</em> Musa <em>&#8216;Alaihissalam</em>, cobaan yang telah diberikan kepadanya dan ujian mulai dari kelahirannya sampai akhir urusannya, hingga Allah Ta&#8217;ala mengajaknya berbicara dan mendekatkan diri beliau kepada-Nya, menuliskan kitab Taurat dengan tangan-Nya untuk beliau dan mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Beliau telah bersabar dengan kesabaran yang tiada bisa dilakukan oleh orang lain. Beliau melempar lauh ke tanah hingga pecah dan memegang janggut Nabi Allah Harun <em>&#8216;Alaihissalam</em> dan menariknya ke arah beliau. Beliau telah menampar wajah malaikat maut dan mencungkil matanya. Beliau berdiskusi dengan Rabbnya tentang urusan Rasulullah <em>Shalallahu&#8217;alaihi wa Salam</em> dan Rabbnya, namun Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tetap menyayanginya, dan tidak mengurangi kehormatan beliau di hadapan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dan tidak jatuh kedudukannya di sisi-Nya.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1932" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/sabar-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" />Bahkan beliau adalah hamba yang didekatkan di sisi Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, kalaulah bukan karena cobaan-cobaan dan ujian-ujian berat yang telah dilewatinya dalam menegakkan agama Allah dan dalam melewati perkara-perkara berat antara Fir’aun dan kaumnya kemudian menghadapi Bani Israil dan gangguan mereka terhadap beliau serta kesabaran beliau dalam melayani mereka, tentu semua itu tidak akan beliau dapatkan.</p>
<p>Kemudian coba perhatikan keadaan <em>al-Masiih</em> Isa <em>&#8216;Alaihissalam</em>, kesabaran beliau menghadapi kaumnya dan ketabahan beliau dalam melaksanakan perintah Allah dan kesabaran beliau menghadapi kaumnya hingga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mengangkat beliau kepada-Nya, dan menyucikan beliau dari orang-orang kafir dan memberikan pembalasan terhadap musuh-musuhnya, memutus mereka di muka bumi dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya, mencabut kerajaan dan kejayaan mereka sampai hari Kiamat.</p>
<p><span id="more-1931"></span>Dan jika engkau perhatikan sejarah Nabi <em>Shalallahu&#8217;alaihi wa Salam</em> dan engkau lihat perjuangan beliau menghadapi kaumnya, kesabaran beliau dalam menegakkan agama Allah, ketabahan beliau yang tidak dapat dilakukan oleh para nabi sebelum beliau, perobahan keadaan dari rasa aman kepada rasa takut, dari kaya ke miskin, dari keamanan dan mukim di kampung halaman kemudian berpindah darinya dan meninggalkannya karena Allah. Terbunuhnya kekasih dan pembela beliau di hadapan beliau. Demikian pula gangguan orang-orang kafir terhadap beliau dengan segala macam bentuk gangguan berupa ucapan, perbuatan, sihir, kedustaan, kebohongan terhadap beliau dan fitnah keji. Namun demikian beliau tetap sabar dalam menjalankan perintah Allah mengajak kepada agama Allah. Tidak ada Nabi sebelum beliau yang mendapat gangguan seperti yang beliau alami. Dan tidak ada yang tabah dalam menegakkan agama Allah seperti ketabahan beliau. Dan tidak ada Nabi yang diberikan seperti yang Allah berikan kepada beliau. Allah mengangkat sebutan beliau, menyandingkan nama beliau dengan nama-Nya, dan menjadikan beliau penghulu umat manusia, dan menjadikannya hamba yang paling dekat kepada-Nya, menjadikan beliau hamba yang sangat agung kedudukannya di sisi Allah dan menjadikan beliau hamba yang paling di dengar syafaatnya.</p>
<p>Ujian dan cobaan itu hakikatnya adalah kemuliaan bagi beliau. Tidak lain merupakan perkara yang dengannya Allah menambah kemuliaan dan keutamaan beliau. Dan membawa beliau ke derajat dan <em>maqam</em> yang tinggi. Itulah keadaan para pewaris beliau sepeninggal beliau. Yang paling utama adalah yang paling mendekati. Setiap orang mendapat bagian cobaan yang dengannya Allah membawanya kepada keutamaan menurut kadar <em>mutaba’ah</em>-nya (kepatuhannya) kepada Nabi <em>Shalallahu&#8217;alaihi wa Salam</em> dan bagi yang tidak mendapat bagian darinya maka bagiannya dari dunia ini adalah bagian yang memang telah diciptakan untuknya, yang telah disediakan untuk dirinya. Allah menjadikan bagiannya di dunia, ia makan dengan enak dan bersenang-senang, hingga ia mendapatkan bagian yang telah ditetapkan dalam al-Kitab. Para wali Allah mendapatkan ujian, sementara ia dalam keadaan bebas dari kehidupan yang hina. Mereka dalam keadaan takut sementara ia dalam keadaan aman, mereka bersedih sementara ia bergembira bersama keluarganya. Ia berada dalam satu kondisi sementara para wali Allah berada dalam kondisi yang lain. Ia berada di satu lembah sementara para wali Allah berada di lembah yang lain. Keinginannya hanyalah meninggikan kedudukannya dan menyelamatkan harta bendanya.</p>
<p>Sementara keinginan para wali Allah adalah meninggikan kalimat Allah dan memuliakan para wali-Nya, dan agar dakwah hanya milik Allah semata, dan agar hanya Allah semata yang disembah, bukan yang lain, dan Rasul-Nya yang ditaati bukan selain beliau. Dan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memiliki hikmah dalam menurunkan cobaan kepada para Nabi, Rasul dan hamba-hamba-Nya yang beriman, hikmah yang tidak akan bisa dicerna oleh akal siapapun.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1947" style="width: 210px; height: 423px;" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/PESANPESAN-PEMIKATS-TJINTA1.png" alt="" width="210" height="423" /></p>
<p>Siapapun tidak akan mencapai <em>maqam</em> yang terpuji dan kesudahan yang mulia kecuali setelah melewati jembatan ujian dan cobaan.</p>
<p>Demikianlah tempat yang tinggi, jika tidak didaki</p>
<p>Kita tidak akan sampai ke puncaknya</p>
<p>Lintasilah ia dengan segala kesusah payahan</p>
<p><em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6><span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;&#8230;</span></h6>
<h6>Diambil dari buku &#8220;Pesan-pesan Pemikat Cinta&#8221; terbitan An-Naba, Solo</h6>
<p><span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/ujian-para-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEDEKAH ABDURRAHMAN BIN AUF</title>
		<link>http://an-naba.com/sedekah-abdurrahman-bin-auf/</link>
		<comments>http://an-naba.com/sedekah-abdurrahman-bin-auf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 18:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[abdurahman]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[tausiah]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1922</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sifat mulia dan disukai Allah adalah sedekah. Memberikan sebagian harta ataupun apa yang kita punya untuk orang lain. Rasulullah SAW banyak memiliki sahabat yang pemurah. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia terkenal dengan kedermawannya sehingga Rasulullah menyebutnya kelak sebagai ahli surga. Salah satu kisah sedkahnya yang legendaris.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Salah satu sifat mulia dan disukai Allah adalah sedekah. Memberikan sebagian harta ataupun apa yang kita punya untuk orang lain. Rasulullah SAW banyak memiliki sahabat yang pemurah. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia terkenal dengan kedermawannya sehingga Rasulullah menyebutnya kelak sebagai ahli surga. Salah satu kisah sedkahnya yang legendaris.</em></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;"><img class="alignleft size-medium wp-image-1923" title="padang" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/padang-300x209.jpg" alt="" width="300" height="209" />Pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap,   debu tebal berwarna kekuningan mengepul dan mendekat dari berbagai penjuru kota mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang menyangka badai pasir tengah datang tengah datang. Tapi ternyata debu berasal dari kafilah dagang yang sangat yang sangat besar berupa 700 ekor unta penuh muatan memadati jalanan Madinah.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Orang-orang segera keluar melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Ini adalah kafilah milik Abdurrahman  bin Auf ra yang baru saja datang dari syam membawa barang dagangan miliknya.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Mendengar kedatangan kafilah Abdurrahman bin Auf itu, Aisyah ra menggeleng-gelengkan kepala, dan berkata,&#8221; Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,&#8217; Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak&#8217;.&#8221; (Al-Kanz, no. 33500)</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Sebagian sahabat menyampaikan berita ini kepada Abdurrahman bin Auf. Mendengar itu, Ia teringat perkataan Rasulullah yang pernah berkata,&#8221; Wahai Abdurrahman bin Auf, sesungguhnya kamu termasuk kaum yang kaya raya dan kamu akan masuk ke surga dengan merangkak. Oleh karena itu pinjamkanlah sesuatu pinjaman kepada Allah sehingga membebaskan kedua telapak kakimu.&#8221; (HR. Al-Hakim,3/311 dan Al-Hiyan, 1/99)</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Abdurrahman bin Auf pun pergi kerumah Aisyah ra dan berkata,&#8221; Sungguh engkau telah menyebutkan suatu hadits yang tak akan pernah aku lupakan. Aku bersaksi bahwa kafilah ini berikut muatan dan pelananya aku Infakkan di jalan Allah.&#8221; Muatan itu dibagi-bagikan kepada penduduk Madinah dan sekitarnya.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;"><span id="more-1922"></span>Dilain waktu, Abdurrahman bin Auf ra menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian membagikan semuanya kepada Bani Zahrah, untuk istri Rasulullah, dan kaum fakir dikalangan kaum muslimin. Suatu hari dia memberikan untuk pasukan kaum muslimin sebanyak 500 kuda. Pada hari yang lain memberikan sebanyak 1500 unta. Ketika meninggal, ia mewasiatkan sebanyak 50.000 dinar dijalan Allah. Ia mewasiatkan untuk masing-masing orang yang masih hidup dari perang Badar adalah 400 dinar. Bahkan sahabat Usman bin Affan pun mengambil bagiannya dari wasiat tersebut seraya berkata,&#8221; Harta Abdurrahman adalah bersih dan halal, menikamti harta tersebut mejadi kesembuhan dan keberkahan.&#8221;</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Saat menjelang ajalnya, Allah menurunkan ketenteraman-Nya pada Abdurrahman sehingga wajahnya berbinar-binar dengan cahaya. Seloah ia mendengar sesuatu yang menyejukkan dan dekat dengannya. Seperti ia mendengar suara sabda Rasullullah masa lalu,&#8221; Abdurrahman bi Auf masuk surga.&#8221;</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Ia seakan mendengar janji Allah dalam Al-Qur&#8217;an surat Al-Baqarah ayat ayat 262 yaitu bagi yang memberikan harta dijalan Allah tidak akan bersedih, karena memperoleh pahala di sisi-Nya.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">bersambung..</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/sedekah-abdurrahman-bin-auf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menebar Salam</title>
		<link>http://an-naba.com/menebar-salam/</link>
		<comments>http://an-naba.com/menebar-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 06:18:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kedamaian]]></category>
		<category><![CDATA[menebar]]></category>
		<category><![CDATA[meneladani]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah.nabi]]></category>
		<category><![CDATA[salam]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1878</guid>
		<description><![CDATA[Amal yang dapat mengangkat derajat seseorang adalah dengan menebar salam. Mengucapkan salam merupakan salah satu dustur moral Islam dan sunnah nabawi. Salam merajut hati orang-orang Mukmin dan para anggota masyarakat. Menebar salam artinya menebar salam kepada setiap orang. Menebar salam maksudnya adalah menebar kedamaian. Dengan menebar salam, membuat hati manusia kian dekat dengan yang lain dan mengundang berkah yang melimpah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-medium wp-image-1896" style="margin: 2px 10px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/06/assalamualaikum-300x298.jpg" alt="" width="238" height="236" /></p>
<p style="text-align: justify">Amal yang dapat mengangkat derajat seseorang adalah dengan menebar salam. Mengucapkan salam merupakan salah satu dustur moral Islam dan sunnah nabawi. Salam merajut hati orang-orang Mukmin dan para anggota masyarakat. Menebar salam artinya menebar salam kepada setiap orang. Menebar salam maksudnya adalah menebar kedamaian. Dengan menebar salam, membuat hati manusia kian dekat dengan yang lain dan mengundang berkah yang melimpah.</p>
<p style="text-align: justify">Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘Anhu</em>. berkata: Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: &#8220;<em>Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantaramu sekalian</em>.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-1878"></span></p>
<p style="text-align: justify">Dalam hadits ini terkandung sebuah perintah untuk menyebarkan salam  diantara masyarakat Islam, sebagai isyarat tersebarnya rasa aman bagi setiap orang yang ditemuinya, ada rasa kasih sayang, persahabatan dalam sentuhan salam yang diucapkan pada orang yang ditemui. Tak ada sedikitpun rasa permusuhan. Salam juga merupakan sarana yang kuat diantara berbagai sarana untuk menumbuhkan rasa lemah lembut, kecintaan dan kasih sayang.</p>
<p style="text-align: justify">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan dalam masyarakat Islam untuk merealisasikan dan menaati akhlak yang tinggi ini, karena terkandung banyak kebaikan didalamnya. Maka beliau bersabda : “ <em>Sesungguhnya kamu bisa masuk ke dalam surga, dan kemenanganmu meraih kenikmatannya, tidak lain kecuali karena iman. Kamu merasakan kemanisan iman karena kamu mencintai sebagian yang lainnya, cinta yang tulus karena mencari ridha Allah, dan sekali-kali kecintaan ini tidak akan tersebar dan tersiar kecuali dengan menyebarkan salam dan menyiarkannya di antara kamu</em>.” (HR. Muslim ).</p>
<p style="text-align: justify">Al-Qur&#8217;an juga menganjurkan bahwa apabila seseorang memberikan salam kepadamu, berikanlah jawaban yang lebih baik. <em>&#8220;Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu</em><em>.&#8221;</em> (Qs. Al-Nisa [4]:86)</p>
<p style="text-align: justify">Dari sini jelas bahwa memberi salam adalah perintah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang harus kita realisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. mengajarkan kita bentuk salam yang dimaksudkan disini seperti hadits riwayat Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘Anhu</em>. Dari Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. beliau bersabda: ”<em>Ketika Allah telah menciptakan Adam, maka Allah memerintahkannya: ”Pergilah kepada para malaikat itu dan sampaikanlah salam kepada mereka yang sedang duduk dan dengarkan benar-benar jawaban mereka, maka itu akan merupakan salammu dan anak cucumu kelak. Maka pergilah Adam dan berkata: “Assalamu&#8217;alaikum”. Para malaikat menjawab: Assalamu&#8217;alaikum warahmatullah” maka mereka menambah :”warahmatullah</em>”. (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify">Karena itu marilah kita sampaikan salam kita kepada sesama muslim. Sebagai wujud Cinta dan kasih sayang pada sesama muslim.</p>
<p><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/06/BERSANDING-DENGAN-BIDADARI.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-1908" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/06/BERSANDING-DENGAN-BIDADARI-147x300.png" alt="" width="147" height="300" /></a><span style="color: #ffffff">.</span></p>
<p>Dikutip dari &#8220;<em><strong><span style="color: #ff0000">Bersanding Dengan Bidadari di Surga</span></strong></em>&#8221;</p>
<p>Penulis Dr. Muhammad bin Ibrahim An-Naim</p>
<p>diterbitkan : <strong><span style="color: #3366ff">Pustaka Daar An-Naba&#8217;</span></strong></p>
<p>Solo</p>
<p><span style="color: #ffffff">.</span></p>
<div>
<div><img alt="" /></div>
</div>
<div></div>
<p><img alt="" /><img alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/menebar-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Ketiga &#8211; Bersabar atas Musuhnya</title>
		<link>http://an-naba.com/cara-ketiga-bersabar-atas-musuhnya/</link>
		<comments>http://an-naba.com/cara-ketiga-bersabar-atas-musuhnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 03:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[10 jurus penangkal Sihir]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[buku islam bermutu]]></category>
		<category><![CDATA[Dengki dan ‘Ain]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qayyim Al Jauziyyah]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit islam]]></category>
		<category><![CDATA[QS. Al Hajj : 60]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1842</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify">Bila Allah Azza Wa Jalla telah menjamin pertolongan atas hamba padahal ia pernah membalas sebelumnya, maka bagaimana halnya dengan orang yang dianiaya namun sabar dan tidak membalas sedikitpun? Padahal tidak ada dosa yang lebih disegerakan balasannya dari pada dosa kedzaliman dan memutuskan tali silaturahmi.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-medium wp-image-1849" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/05/10-JURUS1-198x300.jpg" alt="" width="198" height="300" /><strong>Y</strong>aitu dengan berusaha untuk tidak melawan atau mengeluhkannya, bahkan tidak terbetik sedikitpun di hatinya untuk mengusik musuhnya ini. Karena ia tak akan dapat mengalahkan musuh dan orang yang hasad kepadanya dengan senjata yang lebih ampuh dari pada kesabaran dan tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla. Janganlah ia menganggap besar dan lama kedzaliman musuhnya, karena setiap kali si musuh mendzaliminya, kedzaliman itu akan menjadi pasukan dan kekuatan bagi orang yang didzalimi, yang dengannya orang yang dzalim memerangi dirinya sendiri tanpa ia sadari. Kedzaliman ibarat anak panah yang ia lemparkan menuju dirinya sendiri. Seandainya ini dapat dilihat oleh orang yang didzaliminya itu, niscaya ia akan senang dengan kedzaliman tersebut. Akan tetapi karena lemahnya penglihatannya  ia tidak dapat melihat kecuali eksistensi dari kedzaliman tersebut, tanpa mampu melihat akibat dan hasil akhirnya.</p>
<p style="text-align: justify">Padahal Allah  Azza Wa Jalla berfirman :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify">“<em>Dan barangsiapa membalas dengan setimpal penganiayaan yang pernah ia terima kemudian dia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya</em>.” (<strong>QS. Al Hajj : 60</strong>)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Bila Allah Azza Wa Jalla telah menjamin pertolongan atas hamba padahal ia pernah membalas sebelumnya, maka bagaimana halnya dengan orang yang dianiaya namun sabar dan tidak membalas sedikitpun? Padahal tidak ada dosa yang lebih disegerakan balasannya dari pada dosa kedzaliman dan memutuskan tali silaturahmi.</p>
<p style="text-align: justify">Sudah menjadi sunnatullah bahwa jikalau ada sebuah gunung yang berlaku dzalim terhadap gunung yang lain  maka Allah Azza Wa Jalla akan menjadikannya hancur berkeping-keping.</p>
<blockquote>
<pre style="text-align: justify">Maraji : Sepuluh Jurus Penangkal Sihir, Dengki dan ‘Ain karangan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah <a href="http://www.promo.at-tibyan.com" target="_blank"><strong><em>Penerbit Pustaka At Tibyan</em></strong></a></pre>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/cara-ketiga-bersabar-atas-musuhnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat yang Mulia</title>
		<link>http://an-naba.com/sifat-yang-mulia/</link>
		<comments>http://an-naba.com/sifat-yang-mulia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 03:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[catata]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[meneladani]]></category>
		<category><![CDATA[mukmin]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[niat]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[shaleh]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[www.an-naba.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1774</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat kejujuran adalah meraih sesuatu dengan sempurna, menyempurnakan kekuatan dan menyatukan seluruh bagiannya. Kejujuran ada pada niat, ucapan dan amalan. Sikap jujur merupakan naluri dari setiap manusia. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1779" style="margin-left: 15px;margin-right: 15px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/05/sunset_mosque-300x250.jpg" alt="" width="247" height="159" /></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Kejujuran adalah sifat yang agung, akhlak yang mengelokkan pemiliknya dan mengangkat sebutanya. Orang yang jujur selalu dicintai manusia. Barang siapa yang banyak jujurnya, niscaya “bersinarlah” hatinya dan kuatlah “pandangannya”. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em>dikenal dengan kejujuran dan amanahnya, bahkan sebelum beliau menjadi Nabi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“</em><em>Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku jujur hingga ia disebut shiddiq (orang yang senantiasa jujur). Sedang dusta mengantarkan kepada perilaku menyimpang (dzalim) dan perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut pendusta besar.</em>”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Untaian kata-kata di atas adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud <em>Radhiyallahu ‘anhu </em>yang terhimpun dalam Kitab Hadits Bukhari, Muslim dan Tirmidzi. (HR Bukhari dalam shahihnya bab Adab); (HR Muslim dalam shahihnya bab <em>Al-Birr</em>); (HR Tirmidzi dalam sunannya bab <em>Al-Birr</em>).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span id="more-1774"></span><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman, yang artinya:<em> “Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”</em>, (QS: At-Taubah: 119). Dalam ayat lain, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman, yang artinya: <em>“Jikalau mereka jujur kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”</em>, (QS: Muhammad: 21)</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;Jujur ialah kesesuaian ucapan dengan hati kecil dan kenyataan objek yang dikatakan&#8221; (Fathul Baari, jilid X).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Berkaitan dengan makna hadits di atas, para ulama mengatakan bahwa sikap jujur dapat mengantarkan kepada amal shaleh yang murni dan selamat dari celaan. Sedang kata “<em>al-birr</em>” (kebaikan) adalah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa “<em>al-birr</em>” berarti surga, sedangkan dusta dapat mengantarkan kepada perilaku menyimpang (kedzaliman).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“ Janganlah engkau melihat kualitas diri seseorang itu dari panjang rukuk dan sujudnya, tetapi lihatlah dari kejujuran dan kesetiaan dalam menjalankan amanah”</em>, demikian nasihat Imam Ja’far Ash-Shadiq. Hal ini sesuai dengan firman Allah </span><span style="color: #0000ff"><em>Subhanahu wa Ta’ala </em></span><span style="color: #0000ff">, yang artinya : <em>“ Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shadiqin (orang-orang jujur dan mencintai kebenaran), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itu teman sebaik-baiknya”, </em>(<span style="color: #0000ff">QS. </span></span><span style="color: #0000ff">An-Nisa: 69)</span>.<span style="color: #0000ff"> Sikap jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus diterapkan, dia menjadi fundamen penting dalam membangun komunitas masyarakat. Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan masyarakat akan terlepas, karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka tidak berhubungan sesamanya dengan jujur.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Hakikat kejujuran adalah meraih sesuatu dengan sempurna, menyempurnakan kekuatan dan menyatukan seluruh bagiannya. Kejujuran ada pada niat, ucapan dan amalan. Sikap jujur merupakan naluri dari setiap manusia. Cukup sebagai bukti bahwa anak kecil jika diceritakan tentang sosok seorang yang jujur di satu sisi, dan di sisi lain diceritakan sosok seorang pendusta, engkau lihat, dia akan menyukai orang jujur dan membenci pendusta.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebih utama daripada kejujuran (Hilyatul Auliya, jilid VIII).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ibnul Qayyim Al Jauziyah, menyatakan, orang jujur yang kuat, adalah orang yang betah bersama Allah, baik pada saat banyak orang maupun pada saat menyendiri. Beliau berkata,  “Adapun orang yang betah bersama Allah saat menyendiri saja, tak pernah betah tat kala banyak orang adalah orang jujur namun lemah. Dan orang yang betah bersama Allah di tengah orang banyak, namun tidak betah tat kala menyendiri dan sepi, ia orang sakit.”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">“Akhlak terpuji bersumber dari sabar, berani, adil, pemuarh, penyantun, pemaaf, memelihara kesucian, tabah, mendahulukan orang lain, jujur, menghargai jasa orang lain” kata Ibnul Qayyim. Sedangkan sumber akhlak tercela, beliau menunjukkan <em>kibr </em>(sombong) yang melahirkan bangga diri, zalim, hasad, ujub, tirani, senang popularitas, rakus, licik dan kikir</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memberikan<em> </em>kita petunjuk, kekuatan dan hidayah-Nya agar bisa memiliki sifat mulia (jujur) ini dan mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi amal shaleh yang akan mengantar kita kepada Jannah-Nya. Amiin.</span></p>
<p>______________</p>
<h6>Dikutip dari buku &#8220;<span style="color: #3366ff">Catatan Harian Mukmin Sejati</span>&#8221; yang ditulis oleh <strong><span style="color: #339966">Abdul Ilahbin Sulaiman Ath-Thayyar</span></strong>. Penerbit: An-Naba Solo</h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/sifat-yang-mulia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
