<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>An-Naba Online</title>
	<atom:link href="http://an-naba.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://an-naba.com</link>
	<description>Penerbit Buku Islami &#124; Terdepan Dalam Kualitas</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 04:50:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Optimization in Gaining the Reward (Bag. 2)</title>
		<link>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward-bag-2/</link>
		<comments>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 04:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[beriman]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[daar an-naba']]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=2000</guid>
		<description><![CDATA[Edisi yang lalu kita telah membahas lima cara-cara ideal untuk meningkatkan amalan kita. Pada edisi kali ini kita akan membahas lima langkah praktis berikutnya. Semoga pembahasan ini bisa meningkatkan amal ibadah kita terlebih di bulan Ramadhan yang insya Allah sebentar lagi akan hadir menyapa kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-medium wp-image-2001" style="margin: 2px 4px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/masjid-almuttaqin11-300x262.jpg" alt="" width="300" height="262" />→ <span style="color: #008000"><strong>Cara keenam: Berkeinginan untuk menunjukkan orang lain.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Berdakwah (mengajak manusia) kepada agama Allah me­rupakan ibadah paling agung yang mendekatkan manusia kepada Allah, karena ini adalah tugas para Nabi dan Rasul—sebab berdakwah dan memberi petunjuk kepada manusia adalah jalan yang mengantarkan untuk meraih pahala dan kebaikan yang besar—sebagaimana sabda Rasulullah:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #0000ff"><em>“Barangsiapa menyerukan kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya….” (HR. Muslim).</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Jika Anda menunjukkan seseorang kepada agama Allah kemudian ia beristiqamah, maka Anda mendapatkan seperti shalat, tasbih dan semua amal shalihnya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Kemudian, jika ia menyeru banyak orang lalu mereka bertaubat, maka Anda mendapatkan seperti pahala mereka walaupun Anda berada dalam kubur Anda. Begitulah, dituliskan untuk Anda pahala banyak orang. Seakan-akan Anda dikaruniai umur yang panjang. Dan, orang yang menunjukkan kepada kebajikan adalah seperti orang yang melakukannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"><span id="more-2000"></span>Letakkanlah seseorang di pelupuk mata Anda dan serulah ia kepada agama Allah. Jika Anda ikhlas dalam mendakwahinya dan Allah memberi taufik kepada Anda, maka Anda mendapatkan seperti pahala perbuatannya hingga hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Tidakkah Anda menyadari, saudaraku semuslim, bahwa lahan dakwah <em>ilallah</em> dan menunjukkan orang lain adalah lahan paling besar dan paling subur yang memungkinkan Anda meraih pahala dari Allah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><strong>→ Cara ketujuh: Memanfaatkan satu waktu untuk ibadah lebih dari satu.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Seni meraih pahala dalam satu waktu untuk melakukan lebih dari satu ibadah, tidak diketahui kecuali oleh orang yang memiliki kemauan akhirat dan menginginkan kebaikan yang disediakan Allah di surga. Teladan mereka di bidang ini adalah Rasulullah. Dari Ibnu Umar, ia mengatakan, “Sesungguhnya kami benar-benar menghitung Rasulullah dalam satu majelis membaca:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Mene­rima taubat lagi Maha Pengampun.” sebanyak seratus kali.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Perhatikanlah, saudaraku, bagaimana <em>al-Mushthafa</em> (Rasulullah) memanfaatkan satu waktu untuk dua ibadah, yaitu:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">-     Dzikrullah dan istighfar.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">-     Duduk bersama para sahabat dan mengajarkan kepada mereka tentang urusan agama mereka, dan mendengarkan permasalahan yang mereka hadapai.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Contoh praktis dari cara ini: Jika seseorang pergi ke masjid dengan berjalan kaki, maka pergi ini dan langkah-langkah itu adalah ibadah itu sendiri yang karenanya hamba diberi pahala. Tetapi ia bisa juga memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak dzikrullah atau membaca al-Qur`an dengan hafalan. Ketika itulah ia memanfaatkan satu waktu untuk lebih dari satu ibadah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><strong>→ Cara kedelapan: Memasukkan perasaan kepada orang-orang di sekeliling Anda bahwa Anda sangat berkeinginan untuk melakukan kebajikan.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Mengapa memasukkan perasaan ini?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">1.   Agar ia menjadi teladan yang baik bagi yang lainnya lalu ia melakukan sebagaimana yang dilakukannya. Dengan demikian, ia men­dapatkan pahala karenanya. Barangsiapa merintis dalam Islam sunnah yang baik, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">2.   Agar itu menjadi tanda kebaikan yang dengannya ia dikenal—jika ia orang yang berharta misalnya, dan ia senantiasa berderma di jalan kebajikan, maka ini adalah tanda bagi banyak manusia karena ia mengabarkan tentang proyek-proyek kebajikan.—sehingga ini sebagai ladang baginya untuk mengais pahala. Tetapi semua ini harus dilakukan secara ikhlas karena Allah dan mencari ridhaNya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><strong>→ Cara kesembilan: Amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Di antara cara untuk mendapat pahala sebanyak mungkin dalam waktu paling singkat, ialah mela­kukan amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda. Di antara amalan-amalan yang memiliki pahala berlipat ganda adalah:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">1.   Shalat di al-Haramain.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">2.   Memelihara shalat berjamaah di masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">3.   Melakukan adab-adab Jum’at, di antaranya:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Mandi</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Bersegera ke masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Berjalan ke masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Dekat dengan imam.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> &#8211; Mendengar khatib dan tidak berbuat sia-sia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Barangsiapa melakukan adab-adab ini, maka ia mendapatkan dengan tiap-tiap langkah amalan satu tahun: pahala puasa dan qiyamnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, dan ini hadits shahih.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">4.   Menghadiri pengajian dan ceramah di masjid</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Kehadiran Anda dalam setiap pengajian dan ceramah yang diadakan di masjid menye­babkan Anda mendapatkan pahala haji secara sempurna. Diriwa­yatkan dari Abu Umamah, dari Nabi, beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Barangsiapa pergi ke masjid, ia tidak meniatkan kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan seperti pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad la ba’sa bih [tidak mengapa]).</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">5.   Umrah di bulan Ramadhan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">6.   Shalat di masjid Quba’.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">7.   Memberi buka orang yang berpuasa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">8.   Melaksanakan Qiyamul Lail pada saat Lailatul Qadar.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">9.   Melakukan amal shalih di sepuluh hari Dzul Hijjah.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">10. Dzikir mudha’af, yaitu:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةِ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Mahasuci Allah dan segala puji bagiNya seba­nyak jumlah makhlukNya, keridhaan diriNya, perhiasan ArsyNya, dan tinta kalimatNya.”</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">11. Memohonkan ampunan untuk kaum mukmin. Beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right"><span style="color: #800080">مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلِلْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللّٰهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةٌ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“Barangsiapa memohonkan ampunan untuk kaum mukmin laki-laki dan perempuan, maka Allah mencatat untuknya dengan tiap-tiap mukmin dan mukminah satu kebajikan.” (HR. Ath-Thabrani, dan dihasankan al-Albani).</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><strong>→ Cara kesepuluh: Memanfaatkan momentum-momentum utama dalam setiap pekan.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Di antara rahmat Allah kepada para hambaNya ialah Dia menjadikan untuk mereka dalam sepekan waktu-waktu utama yang memiliki keistimewaan yang tidak terdapat pada waktu-waktu lainnya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">Di antara momentum utama yang terpenting dalam setiap pekan adalah:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">1.   Puasa hari Senin dan Kamis.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a">2.   Hari Jum’at—hari ini dimanfaatkan untuk perkara-perkara berikut:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> a. Membaca al-Qur`an.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> b. Memperbanyak shalawat pada Nabi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> c. Mandi pada hari Jum’at.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> d. Memakai minyak wangi dan bersiwak.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> e. Bersungguh-sungguh dalam berdoa agar bisa menepati waktu saat terkabulnya doa.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #a52a2a"> f.  Bersegera pergi dengan berjalan kaki ke tempat pelaksanaan shalat Jum’at.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melazimi Sunnah Rasulullah</title>
		<link>http://an-naba.com/melazimi-sunnah-rasulullah/</link>
		<comments>http://an-naba.com/melazimi-sunnah-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 01:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[syar'i]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1969</guid>
		<description><![CDATA[Melaksanakan sunnah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam sangat penting bagi kehidupan seorang muslim, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Sunnah Rasulullah adalah apa-apa yang berasal dari Nabi Shalallahu’alaihi wa Salam  berupa ucapan, perbuatan atau pengesahannya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><span style="color: #0000ff"><img class="size-full wp-image-1987 aligncenter" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/12341.jpg" alt="" width="720" height="180" /></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Melaksanakan sunnah Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> sangat penting bagi kehidupan seorang muslim, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Sunnah Nabi adalah apa-apa yang berasal dari Nabi <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> berupa ucapan, perbuatan atau pengesahannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata, “Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Arti “menghidupkan sunnah Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>” adalah memahami petunjuk Beliau, mengamalkan dan menyebarkannya di kalangan manusia, serta menganjurkan orang lain untuk mengikutinya dan melarang dari menyelisihinya.<br />
Orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus, yaitu (1) keutamaan mengamalkan sunnah itu sendiri dan (2) keutamaan menghidupkannya di tengah-tengah manusia yang telah melupakannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span id="more-1969"></span><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Mengamalkannya wajib, sebagaimana  mengamalkan Al-Qur&#8217;an. Hanya saja, orang yang hendak berargumen dengan Al-Qur&#8217;an hanya membutuhkan satu wawasan saja, sedang orang yang hendak berargumen dengan Sunnah membutuhkan dua wawasan:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Adapun Al-Qur&#8217;an, orang yang hendak berargumen dengannya harus memperhatikan indikasi nash atas hukum yang dia perkuat dengan nash tersebut. Tidak syak bahwa manusia banyak sekali berselisih dalam hal ini sesuai dengan kadar keilmuan dan pemahaman mereka.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Orang-orang berselisih dalam memahami indikasi Al-Qur&#8217;anul Karim, sesuai kadar ilmu dan faham mereka, dan sesuai kadar keimanan mereka kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan pengagungan mereka terhadap batasan-batasan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Adapun orang yang hendak berargumen dengan Sunnah harus melakukan dua penelitian.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline">Pertama</span>: meneliti keotentikan sebuah hadits dari Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>; karena Sunnah banyak disusupi oleh hadits-hadits lemah dan palsu, sehingga orang yang hendak berargumen dengannya perlu meneliti keabsahan dan keotentikannya dari Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>. Karena itulah para ulama –semoga dirahmati oleh Allah- menyusun kitab-kitab  biografi para periwayat hadits dan mereka juga menyusun ilmu <em>musthalah</em> hadits untuk membedakan antara Sunnah yang shahih dengan riwayat yang memiliki cacat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span style="text-decoration: underline">Kedua</span>: seperti wawasan terhadap Al-Qur&#8217;an di atas, yaitu (memperhatikan) indikasi nash atas hukum yang dia perkuat dengan nash tersebut. Dan manusia banyak sekali berbeda pendapat dalam hal ini, dan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah berfirman kepada Nabi-Nya:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu.</em> <strong>(An-Nisaa&#8217;:113)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Mayoritas para ulama menafsirkan hikmah sebagai Sunnah. Dan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah memerintahkan (manusia) untuk taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, Allah Ta’ala berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya).</em> <strong>(An-Nisaa&#8217;:59)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dan perintah untuk mentaati Rasul mengandung konsekuensi bahwa Sunnah beliau menjadi dalil syar&#8217;i yang wajib diamalkan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dan Allah <em>Ta&#8217;aala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.</em><strong>(Al-Jin:23)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Tetapnya ancaman bagi orang yang menyelisihi Rasul <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> mengindikasikan bahwa sunnah beliau adalah <em>hujjah</em> (argument) yang wajib diterima layaknya Al-Qur&#8217;an.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Dan Allah <em>Ta&#8217;aala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.</em> <strong>(Al-Hasyr:7)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Hal ini –meski sebab turunnya berkaitan dengan harta f<em>ai’</em> sesungguhnya harta <em>fai’</em> (harta rampasan perang yang diperoleh dari musuh tanpa terjadi pertempuran) dibagi berdasarkan ijtihad Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em>, jika kita diwajibkan untuk menerimanya, maka hukum-hukum syar&#8217;i lainnya lebih wajib untuk diterima.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Allah <em>Ta&#8217;aala</em> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.</em> (<strong>Al-Ahzab:21)</strong>.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Meneladani Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> mencakup apa-apa yang diperbuat oleh Nabi <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> sesuai konsekuensi yang ditunjukkan oleh Al-Qur&#8217;an, dan juga apa-apa yang diperbuatnya dalam hal-hal yang beliau syari&#8217;atkan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> telah mengumumkan dalam khutbah Jumatnya:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>&#8220;Adapun selanjutnya, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.&#8221;</em><em> </em>(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dalam <strong><em>Al-Mukaddimah</em>)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> telah memberikan motivasi untuk tetap konsisten dengan Sunnahnya, beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #008000"><em>&#8220;Berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin, gigitlah ia dengan gerahammu.&#8221; </em>( Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, <strong><em>Kitabul Ilmi</em></strong>, Bab <em>Maa jaa-a fil akhdzi bis sunnah</em>, no. 2676).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Akhirnya, marilah kita senantiasa mengikuti wasiat Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi wa Salam</em> untuk berpegang teguh di atas jalannya. Begitupula wasiat beliau <em> </em>untuk berhati-hati terhadap kerusakan yang sangat berbahaya, yaitu bid’ah serta orang-orang yang mengajaknya. Karena hal itu akan menjauhkan kita dari agama yang mulia.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><img class="alignleft size-full wp-image-1972" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/faedah-melazimi.jpg" alt="" width="139" height="195" /></span></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><br />
</span></p>
<p>Dikutip dari buku <span style="color: #ff0000">“<strong>Faedah Melazimi Sunnah</strong>”</span></p>
<p>Penulis <span style="color: #008000">Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</span></p>
<p>Penerbit :<span style="color: #993300"> Pustaka At-Tibyan</span></p>
<p>__________</p>
<p><span style="color: #993300"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/melazimi-sunnah-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Optimization in gaining the reward</title>
		<link>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/</link>
		<comments>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 01:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[fardhu]]></category>
		<category><![CDATA[harian]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[ideal]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[meraih]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[peluang]]></category>
		<category><![CDATA[peluang emas]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1958</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada Allah :

    "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Tujuan ibadah ini ialah mendapatkan ridha Allah kemudian surga, dan kedudukan surga itu berbeda-beda. Sejauh mana manusia meraih kebajikan dalam kehidupan ini, maka sejauh itu pulalah kedudukan yang akan diraihnya di sana.

Seorang muslim itu sangat mencintai kehidupan­nya, bukan karena kelezatannya, tetapi hanyalah karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin pahala dan kebajikan. Jika seorang muslim melihat bahwa kehidupannya di dunia sarat dengan kebajikan dan pendekatan diri kepada Allah, maka ia berdoa kepada Allah agar dipanjangkan usianya dan diperbaguskan amalnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;"><img class="alignleft size-full wp-image-1964" style="margin: 1px 3px;" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/Tangga-sukses1.jpg" alt="" width="300" height="260" />Tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada Allah :</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.&#8221;</em> (QS. Adz-Dzariyat: 56).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Tujuan ibadah ini ialah mendapatkan ridha Allah kemudian surga, dan kedudukan surga itu berbeda-beda. Sejauh mana manusia meraih kebajikan dalam kehidupan ini, maka sejauh itu pulalah kedudukan yang akan diraihnya di sana.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Seorang muslim itu sangat mencintai kehidupan­nya, bukan karena kelezatannya, tetapi hanyalah karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin pahala dan kebajikan. Jika seorang muslim melihat bahwa kehidupannya di dunia sarat dengan kebajikan dan pendekatan diri kepada Allah, maka ia berdoa kepada Allah agar dipanjangkan usianya dan diperbaguskan amalnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Dari titik tolak ini, kita harus mengingatkan tentang urgensi mengetahui cara-cara amaliah untuk meraih pahala dan kaidah-kaidah yang meng­antarkan untuk mendapatkan sebanyak mungkin kebajikan dalam syariat yang bijak ini guna memantapkan timbangan orang mukmin pada hari kiamat.</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Dan adapun orang-orang yang berat tim­bangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.&#8221;</em> (QS. Al-Qari&#8217;ah: 6-7).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berikut ini adalah sebagian dari cara-cara ideal untuk meraih tujuan yang besar ini bagi setiap muslim.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→	<span style="color: #008000;"><strong>Cara Pertama: Komitmen dengan kewajiban dan fardhu.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;"><span id="more-1958"></span>Tidak ada yang lebih dicintai Allah daripada orang mukmin komitmen dengan fardhu dan kewajiban. Sesungguhnya Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, “Allah berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #8b008b;">مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;"><em>&#8220;Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang Aku fardhukan kepadanya.”</em> (HR. al-Bukhari).</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Jadi, istiqamah di atas amalan-amalan fardhu adalah jalan terbaik untuk meraih pahala, karena ini adalah amalan-amalan yang paling dicintai Allah, dan atas perkara inilah manusia akan dihisab di hadapan Allah pada hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→	<strong><span style="color: #008000;">Cara kedua: Memperbanyak niat baik dalam satu ketaatan.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Satu ketaatan bisa diniatkan dalam banyak keba­jikan, dan seseorang akan mendapatkan pahala dengan tiap-tiap niat itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Sebagai contoh, duduk di masjid. Ini satu ketaatan, tapi bisa diniatkan untuk banyak niat, di antaranya:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">a)	Berniat memasukinya untuk menunggu shalat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">b)	Berniat i’tikaf dan menahan anggota tubuh.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">c)	Mengusir berbagai kesibukan yang memalingkan dari menaati Allah dengan memutuskan diri menuju ke masjid.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">d)	Dan untuk berdzikir kepada Allah di dalamnya, dan semisalnya..</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Ini adalah jalan memperbanyak niat dalam satu ke­taatan—dan analogikanlah semua ketaatan dengan hal itu. Sebab tidak ada satu ketaatan pun melainkan mengandung banyak niat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berdasarkan contoh ini—wahai saudaraku yang ter­cinta—semestinya Anda menganalogikan semua ketaatan, lalu Anda mengadakan untuk tiap-tiap ketaatan sejumlah niat baik lagi shalih sehingga satu ketaatan menjadi banyak ketaatan yang menyebabkan pahalanya berlipat ganda karenanya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Memperbanyak niat dalam satu ketaatan akan memenuhi hati dengan kebaikan, insya Allah.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→ <strong><span style="color: #008000;">Cara ketiga: masyarakat “jama’ah” adalah “mihrab untuk beribadah”.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Orang yang diberi Allah pemahaman dalam agama dan ditunjukkanNya kepada jalan yang lurus mengetahui bahwa masyarakat seluruhnya merupakan peluang emas, arena yang luas untuk melakukan amalan-amalan kebajikan, dan medan yang lapang untuk meraih pahala.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Hal ini masyarakat adalah lahan dakwah ilallah, mening­gikan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan menanamnya dalam jiwa secara baik yang kelak menghasilkan buahnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Di antara lahan beribadah di masyarakat ini, ialah sebagai berikut: Mengucapkan salam, Memberi nasihat, Kata-kata yang baik, Mencegah kemungkaran, Membuang gangguan dari jalan, Menjenguk orang sakit, Mencari orang yang tidak hadir, Turut serta dalam kegembiraan dan kesedihan, Memuliakan anak yatim… dan seterusnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Demikialah kita melihat masyarakat sebagai “mihrab” yang luas untuk ibadah terbaik dan amal terbaik yang dapat mendekatkan seorang muslim kepada Allah Ta’ala. Suatu hal yang tidak akan dijumpai seseorang manakala ia menyendiri lagi terpisah dari masyarakat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→<strong><span style="color: #008000;"> Cara keempat: Memanfaatkan waktu-waktu harian yang utama.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Melaksanakan ibadah-ibadah pada waktu-waktu­nya yang utama yang dianjurkan oleh Syari’ (Penetap syariat) yang bijaksana supaya dilakukan di dalamnya menyebabkan sesorang mendapatkan pahala yang besar—yang tidak akan diperolehnya sekiranya ia melakukan ibadah tersebut di luar waktu yang utama itu. Ini adalah karunia Allah dan rahmatNya. Di antara waktu-waktu utama dalam sehari:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">a)	Berdzikir pada Allah setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari setinggi satu tombak.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">b)	Menjawab seruan muadzin untuk shalat lima waktu</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">c)	Berdoa di antara adzan dan iqamah</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">d)	Memanfaatkan sepertiga malam yang terakhir dengan shalat, doa dan istighfar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">e)	Tasbih, tahlil, tahmid dan takbir sepanjang hari.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Memperhatikan waktu-waktu yang utama ini dengan melakukan ketaatan, di dalamnya berisi­kan usaha besar untuk meraih pahala dari Allah Ta’ala.</span></p>
<p style="text-align: justify;">→ <strong><span style="color: #008000;">Cara kelima: Berkeinginan untuk melakukan amalan-amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga setelah kematian.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Di antara karunia Allah yang besar atas umat ini yang pendek usianya, ialah Dia menunjukkan mereka kepada amalan-amalan yang pahalanya terus berkesinambungan hingga setelah kematian. Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #8b008b;">إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #0000ff;">&#8220;Di antara amalan dan kebajikan yang terus sampa kepada orang mukmin setelah kematiannya, ialah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya semasa sehatnya dan semasa hidupnya, maka itu sampai kepada­nya setelah kematiannya.&#8221;</span></em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Maka, saudaraku semuslim, hendaklah Anda meng­amalkan mana saja di antara amalan-amalan ini yang pahalanya akan mengalir setelah kematian, sehingga pahala Anda tidak terputus dengan terputus ajal Anda.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Syaikh as-Sa’di mengatakan—dikutip secara bebas—tentang firmanNya,</span> <span style="color: #0000ff;"><em>&#8220;dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggal­kan.&#8221;</em> (QS. Yasin: 12)</span><span style="color: #a52a2a;">:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">“Yaitu peninggalan-peninggalan kebaikan dan pening­galan-peninggalan keburukan yang mana mereka menjadi sebab peninggalan-peninggalan itu, baik semasa hidup maupun setelah kematian mereka….”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Semua kebaikan yang dilakukan seorang manusia karena sebab ilmu hamba, pengajarannya, nasihatnya, perintahnya kepada yang ma’ruf atau pencegahannya dari kemungkaran, ilmu yang ditinggalkannya di tengah kaum muslimin dalam buku-buku yang bermanfaat, baik semasa hidupnya maupun sesudah matinya, amal kebajikan berupa shalat, zakat atau sedekah, orang yang bisa diteladani orang lain, membangun masjid, atau salah satu tempat untuk pertemuan manusia, maka ini termasuk peninggalan-peninggalannya yang dituliskan untuknya. Demikian pula amalan kebajikan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Berdirilah untuk mengunjungi salah satu kantor Lem­baga Bantuan Islam (<em>Hai’ah al-Ighatsah al-Islamiyyah</em>) atau Perhimpunan Pemuda Islam Internasional (<em>an-Nadwah al-Alamiyyah li asy-Syabab al-Islami</em>), atau organisasi-organisasi sosial terpercaya lainnya untuk melihat kegiatan mereka dalam berbagai proyek kerja yang mengalir paha­lanya hingga setelah kematian, seperti sedekah jariyah. Tujuannya, wahai saudaraku, ialah bagai­mana kita meraih kebajikan yang lebih banyak pada hari kiamat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Bersambung, Insya Allah&#8230;</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<pre style="text-align: justify;"><span style="color: #a52a2a;">Dikutip dari <span style="color: #a52a2a;">kitab </span></span><span style="color: #a52a2a;">Tsalatsuna Thariqah Mitsaliyyah likasb al-Ajr wa ats-Tsawab min Allah, karya Khalid bin Abdurrahman ad-Darwisy.</span></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/optimization-in-gaining-the-reward/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Para Nabi</title>
		<link>http://an-naba.com/ujian-para-nabi/</link>
		<comments>http://an-naba.com/ujian-para-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 01:46:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[al-Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>
		<category><![CDATA[syafaat]]></category>
		<category><![CDATA[Taurat]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1931</guid>
		<description><![CDATA[Kemudian coba perhatikan keadaan Al-Kaliim Musa 'Alaihissalam, cobaan yang telah diberikan kepadanya dan ujian mulai dari kelahirannya sampai akhir urusannya, hingga Allah Ta'ala mengajaknya berbicara dan mendekatkan diri beliau kepada-Nya, menuliskan kitab Taurat dengan tangan-Nya untuk beliau dan mengangkatnya ke derajat yang tinggi]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemudian coba perhatikan keadaan <em>al-Kaliim</em> Musa <em>&#8216;Alaihissalam</em>, cobaan yang telah diberikan kepadanya dan ujian mulai dari kelahirannya sampai akhir urusannya, hingga Allah Ta&#8217;ala mengajaknya berbicara dan mendekatkan diri beliau kepada-Nya, menuliskan kitab Taurat dengan tangan-Nya untuk beliau dan mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Beliau telah bersabar dengan kesabaran yang tiada bisa dilakukan oleh orang lain. Beliau melempar lauh ke tanah hingga pecah dan memegang janggut Nabi Allah Harun <em>&#8216;Alaihissalam</em> dan menariknya ke arah beliau. Beliau telah menampar wajah malaikat maut dan mencungkil matanya. Beliau berdiskusi dengan Rabbnya tentang urusan Rasulullah <em>Shalallahu&#8217;alaihi wa Salam</em> dan Rabbnya, namun Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tetap menyayanginya, dan tidak mengurangi kehormatan beliau di hadapan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dan tidak jatuh kedudukannya di sisi-Nya.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1932" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/sabar-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" />Bahkan beliau adalah hamba yang didekatkan di sisi Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, kalaulah bukan karena cobaan-cobaan dan ujian-ujian berat yang telah dilewatinya dalam menegakkan agama Allah dan dalam melewati perkara-perkara berat antara Fir’aun dan kaumnya kemudian menghadapi Bani Israil dan gangguan mereka terhadap beliau serta kesabaran beliau dalam melayani mereka, tentu semua itu tidak akan beliau dapatkan.</p>
<p>Kemudian coba perhatikan keadaan <em>al-Masiih</em> Isa <em>&#8216;Alaihissalam</em>, kesabaran beliau menghadapi kaumnya dan ketabahan beliau dalam melaksanakan perintah Allah dan kesabaran beliau menghadapi kaumnya hingga Allah <em>Ta&#8217;ala</em> mengangkat beliau kepada-Nya, dan menyucikan beliau dari orang-orang kafir dan memberikan pembalasan terhadap musuh-musuhnya, memutus mereka di muka bumi dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya, mencabut kerajaan dan kejayaan mereka sampai hari Kiamat.</p>
<p><span id="more-1931"></span>Dan jika engkau perhatikan sejarah Nabi <em>Shalallahu&#8217;alaihi wa Salam</em> dan engkau lihat perjuangan beliau menghadapi kaumnya, kesabaran beliau dalam menegakkan agama Allah, ketabahan beliau yang tidak dapat dilakukan oleh para nabi sebelum beliau, perobahan keadaan dari rasa aman kepada rasa takut, dari kaya ke miskin, dari keamanan dan mukim di kampung halaman kemudian berpindah darinya dan meninggalkannya karena Allah. Terbunuhnya kekasih dan pembela beliau di hadapan beliau. Demikian pula gangguan orang-orang kafir terhadap beliau dengan segala macam bentuk gangguan berupa ucapan, perbuatan, sihir, kedustaan, kebohongan terhadap beliau dan fitnah keji. Namun demikian beliau tetap sabar dalam menjalankan perintah Allah mengajak kepada agama Allah. Tidak ada Nabi sebelum beliau yang mendapat gangguan seperti yang beliau alami. Dan tidak ada yang tabah dalam menegakkan agama Allah seperti ketabahan beliau. Dan tidak ada Nabi yang diberikan seperti yang Allah berikan kepada beliau. Allah mengangkat sebutan beliau, menyandingkan nama beliau dengan nama-Nya, dan menjadikan beliau penghulu umat manusia, dan menjadikannya hamba yang paling dekat kepada-Nya, menjadikan beliau hamba yang sangat agung kedudukannya di sisi Allah dan menjadikan beliau hamba yang paling di dengar syafaatnya.</p>
<p>Ujian dan cobaan itu hakikatnya adalah kemuliaan bagi beliau. Tidak lain merupakan perkara yang dengannya Allah menambah kemuliaan dan keutamaan beliau. Dan membawa beliau ke derajat dan <em>maqam</em> yang tinggi. Itulah keadaan para pewaris beliau sepeninggal beliau. Yang paling utama adalah yang paling mendekati. Setiap orang mendapat bagian cobaan yang dengannya Allah membawanya kepada keutamaan menurut kadar <em>mutaba’ah</em>-nya (kepatuhannya) kepada Nabi <em>Shalallahu&#8217;alaihi wa Salam</em> dan bagi yang tidak mendapat bagian darinya maka bagiannya dari dunia ini adalah bagian yang memang telah diciptakan untuknya, yang telah disediakan untuk dirinya. Allah menjadikan bagiannya di dunia, ia makan dengan enak dan bersenang-senang, hingga ia mendapatkan bagian yang telah ditetapkan dalam al-Kitab. Para wali Allah mendapatkan ujian, sementara ia dalam keadaan bebas dari kehidupan yang hina. Mereka dalam keadaan takut sementara ia dalam keadaan aman, mereka bersedih sementara ia bergembira bersama keluarganya. Ia berada dalam satu kondisi sementara para wali Allah berada dalam kondisi yang lain. Ia berada di satu lembah sementara para wali Allah berada di lembah yang lain. Keinginannya hanyalah meninggikan kedudukannya dan menyelamatkan harta bendanya.</p>
<p>Sementara keinginan para wali Allah adalah meninggikan kalimat Allah dan memuliakan para wali-Nya, dan agar dakwah hanya milik Allah semata, dan agar hanya Allah semata yang disembah, bukan yang lain, dan Rasul-Nya yang ditaati bukan selain beliau. Dan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> memiliki hikmah dalam menurunkan cobaan kepada para Nabi, Rasul dan hamba-hamba-Nya yang beriman, hikmah yang tidak akan bisa dicerna oleh akal siapapun.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1947" style="width: 210px; height: 423px;" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/PESANPESAN-PEMIKATS-TJINTA1.png" alt="" width="210" height="423" /></p>
<p>Siapapun tidak akan mencapai <em>maqam</em> yang terpuji dan kesudahan yang mulia kecuali setelah melewati jembatan ujian dan cobaan.</p>
<p>Demikianlah tempat yang tinggi, jika tidak didaki</p>
<p>Kita tidak akan sampai ke puncaknya</p>
<p>Lintasilah ia dengan segala kesusah payahan</p>
<p><em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6></h6>
<h6><span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;&#8230;</span></h6>
<h6>Diambil dari buku &#8220;Pesan-pesan Pemikat Cinta&#8221; terbitan An-Naba, Solo</h6>
<p><span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/ujian-para-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEDEKAH ABDURRAHMAN BIN AUF</title>
		<link>http://an-naba.com/sedekah-abdurrahman-bin-auf/</link>
		<comments>http://an-naba.com/sedekah-abdurrahman-bin-auf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 18:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[abdurahman]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[tausiah]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1922</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sifat mulia dan disukai Allah adalah sedekah. Memberikan sebagian harta ataupun apa yang kita punya untuk orang lain. Rasulullah SAW banyak memiliki sahabat yang pemurah. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia terkenal dengan kedermawannya sehingga Rasulullah menyebutnya kelak sebagai ahli surga. Salah satu kisah sedkahnya yang legendaris.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Salah satu sifat mulia dan disukai Allah adalah sedekah. Memberikan sebagian harta ataupun apa yang kita punya untuk orang lain. Rasulullah SAW banyak memiliki sahabat yang pemurah. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf. Dia terkenal dengan kedermawannya sehingga Rasulullah menyebutnya kelak sebagai ahli surga. Salah satu kisah sedkahnya yang legendaris.</em></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;"><img class="alignleft size-medium wp-image-1923" title="padang" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/07/padang-300x209.jpg" alt="" width="300" height="209" />Pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap,   debu tebal berwarna kekuningan mengepul dan mendekat dari berbagai penjuru kota mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang menyangka badai pasir tengah datang tengah datang. Tapi ternyata debu berasal dari kafilah dagang yang sangat yang sangat besar berupa 700 ekor unta penuh muatan memadati jalanan Madinah.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Orang-orang segera keluar melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Ini adalah kafilah milik Abdurrahman  bin Auf ra yang baru saja datang dari syam membawa barang dagangan miliknya.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Mendengar kedatangan kafilah Abdurrahman bin Auf itu, Aisyah ra menggeleng-gelengkan kepala, dan berkata,&#8221; Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,&#8217; Aku bermimpi melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak&#8217;.&#8221; (Al-Kanz, no. 33500)</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Sebagian sahabat menyampaikan berita ini kepada Abdurrahman bin Auf. Mendengar itu, Ia teringat perkataan Rasulullah yang pernah berkata,&#8221; Wahai Abdurrahman bin Auf, sesungguhnya kamu termasuk kaum yang kaya raya dan kamu akan masuk ke surga dengan merangkak. Oleh karena itu pinjamkanlah sesuatu pinjaman kepada Allah sehingga membebaskan kedua telapak kakimu.&#8221; (HR. Al-Hakim,3/311 dan Al-Hiyan, 1/99)</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Abdurrahman bin Auf pun pergi kerumah Aisyah ra dan berkata,&#8221; Sungguh engkau telah menyebutkan suatu hadits yang tak akan pernah aku lupakan. Aku bersaksi bahwa kafilah ini berikut muatan dan pelananya aku Infakkan di jalan Allah.&#8221; Muatan itu dibagi-bagikan kepada penduduk Madinah dan sekitarnya.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;"><span id="more-1922"></span>Dilain waktu, Abdurrahman bin Auf ra menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian membagikan semuanya kepada Bani Zahrah, untuk istri Rasulullah, dan kaum fakir dikalangan kaum muslimin. Suatu hari dia memberikan untuk pasukan kaum muslimin sebanyak 500 kuda. Pada hari yang lain memberikan sebanyak 1500 unta. Ketika meninggal, ia mewasiatkan sebanyak 50.000 dinar dijalan Allah. Ia mewasiatkan untuk masing-masing orang yang masih hidup dari perang Badar adalah 400 dinar. Bahkan sahabat Usman bin Affan pun mengambil bagiannya dari wasiat tersebut seraya berkata,&#8221; Harta Abdurrahman adalah bersih dan halal, menikamti harta tersebut mejadi kesembuhan dan keberkahan.&#8221;</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Saat menjelang ajalnya, Allah menurunkan ketenteraman-Nya pada Abdurrahman sehingga wajahnya berbinar-binar dengan cahaya. Seloah ia mendengar sesuatu yang menyejukkan dan dekat dengannya. Seperti ia mendengar suara sabda Rasullullah masa lalu,&#8221; Abdurrahman bi Auf masuk surga.&#8221;</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">Ia seakan mendengar janji Allah dalam Al-Qur&#8217;an surat Al-Baqarah ayat ayat 262 yaitu bagi yang memberikan harta dijalan Allah tidak akan bersedih, karena memperoleh pahala di sisi-Nya.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;">bersambung..</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/sedekah-abdurrahman-bin-auf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menebar Salam</title>
		<link>http://an-naba.com/menebar-salam/</link>
		<comments>http://an-naba.com/menebar-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 06:18:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kedamaian]]></category>
		<category><![CDATA[menebar]]></category>
		<category><![CDATA[meneladani]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah.nabi]]></category>
		<category><![CDATA[salam]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1878</guid>
		<description><![CDATA[Amal yang dapat mengangkat derajat seseorang adalah dengan menebar salam. Mengucapkan salam merupakan salah satu dustur moral Islam dan sunnah nabawi. Salam merajut hati orang-orang Mukmin dan para anggota masyarakat. Menebar salam artinya menebar salam kepada setiap orang. Menebar salam maksudnya adalah menebar kedamaian. Dengan menebar salam, membuat hati manusia kian dekat dengan yang lain dan mengundang berkah yang melimpah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-medium wp-image-1896" style="margin: 2px 10px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/06/assalamualaikum-300x298.jpg" alt="" width="238" height="236" /></p>
<p style="text-align: justify">Amal yang dapat mengangkat derajat seseorang adalah dengan menebar salam. Mengucapkan salam merupakan salah satu dustur moral Islam dan sunnah nabawi. Salam merajut hati orang-orang Mukmin dan para anggota masyarakat. Menebar salam artinya menebar salam kepada setiap orang. Menebar salam maksudnya adalah menebar kedamaian. Dengan menebar salam, membuat hati manusia kian dekat dengan yang lain dan mengundang berkah yang melimpah.</p>
<p style="text-align: justify">Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘Anhu</em>. berkata: Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: &#8220;<em>Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantaramu sekalian</em>.&#8221; (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-1878"></span></p>
<p style="text-align: justify">Dalam hadits ini terkandung sebuah perintah untuk menyebarkan salam  diantara masyarakat Islam, sebagai isyarat tersebarnya rasa aman bagi setiap orang yang ditemuinya, ada rasa kasih sayang, persahabatan dalam sentuhan salam yang diucapkan pada orang yang ditemui. Tak ada sedikitpun rasa permusuhan. Salam juga merupakan sarana yang kuat diantara berbagai sarana untuk menumbuhkan rasa lemah lembut, kecintaan dan kasih sayang.</p>
<p style="text-align: justify">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan dalam masyarakat Islam untuk merealisasikan dan menaati akhlak yang tinggi ini, karena terkandung banyak kebaikan didalamnya. Maka beliau bersabda : “ <em>Sesungguhnya kamu bisa masuk ke dalam surga, dan kemenanganmu meraih kenikmatannya, tidak lain kecuali karena iman. Kamu merasakan kemanisan iman karena kamu mencintai sebagian yang lainnya, cinta yang tulus karena mencari ridha Allah, dan sekali-kali kecintaan ini tidak akan tersebar dan tersiar kecuali dengan menyebarkan salam dan menyiarkannya di antara kamu</em>.” (HR. Muslim ).</p>
<p style="text-align: justify">Al-Qur&#8217;an juga menganjurkan bahwa apabila seseorang memberikan salam kepadamu, berikanlah jawaban yang lebih baik. <em>&#8220;Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu</em><em>.&#8221;</em> (Qs. Al-Nisa [4]:86)</p>
<p style="text-align: justify">Dari sini jelas bahwa memberi salam adalah perintah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang harus kita realisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. mengajarkan kita bentuk salam yang dimaksudkan disini seperti hadits riwayat Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘Anhu</em>. Dari Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. beliau bersabda: ”<em>Ketika Allah telah menciptakan Adam, maka Allah memerintahkannya: ”Pergilah kepada para malaikat itu dan sampaikanlah salam kepada mereka yang sedang duduk dan dengarkan benar-benar jawaban mereka, maka itu akan merupakan salammu dan anak cucumu kelak. Maka pergilah Adam dan berkata: “Assalamu&#8217;alaikum”. Para malaikat menjawab: Assalamu&#8217;alaikum warahmatullah” maka mereka menambah :”warahmatullah</em>”. (HR. Muslim)</p>
<p style="text-align: justify">Karena itu marilah kita sampaikan salam kita kepada sesama muslim. Sebagai wujud Cinta dan kasih sayang pada sesama muslim.</p>
<p><a href="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/06/BERSANDING-DENGAN-BIDADARI.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-1908" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/06/BERSANDING-DENGAN-BIDADARI-147x300.png" alt="" width="147" height="300" /></a><span style="color: #ffffff">.</span></p>
<p>Dikutip dari &#8220;<em><strong><span style="color: #ff0000">Bersanding Dengan Bidadari di Surga</span></strong></em>&#8221;</p>
<p>Penulis Dr. Muhammad bin Ibrahim An-Naim</p>
<p>diterbitkan : <strong><span style="color: #3366ff">Pustaka Daar An-Naba&#8217;</span></strong></p>
<p>Solo</p>
<p><span style="color: #ffffff">.</span></p>
<div>
<div><img alt="" /></div>
</div>
<div></div>
<p><img alt="" /><img alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/menebar-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Ketiga &#8211; Bersabar atas Musuhnya</title>
		<link>http://an-naba.com/cara-ketiga-bersabar-atas-musuhnya/</link>
		<comments>http://an-naba.com/cara-ketiga-bersabar-atas-musuhnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 03:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[10 jurus penangkal Sihir]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[at-tibyan]]></category>
		<category><![CDATA[buku islam bermutu]]></category>
		<category><![CDATA[Dengki dan ‘Ain]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qayyim Al Jauziyyah]]></category>
		<category><![CDATA[penerbit islam]]></category>
		<category><![CDATA[QS. Al Hajj : 60]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1842</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify">Bila Allah Azza Wa Jalla telah menjamin pertolongan atas hamba padahal ia pernah membalas sebelumnya, maka bagaimana halnya dengan orang yang dianiaya namun sabar dan tidak membalas sedikitpun? Padahal tidak ada dosa yang lebih disegerakan balasannya dari pada dosa kedzaliman dan memutuskan tali silaturahmi.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-medium wp-image-1849" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/05/10-JURUS1-198x300.jpg" alt="" width="198" height="300" /><strong>Y</strong>aitu dengan berusaha untuk tidak melawan atau mengeluhkannya, bahkan tidak terbetik sedikitpun di hatinya untuk mengusik musuhnya ini. Karena ia tak akan dapat mengalahkan musuh dan orang yang hasad kepadanya dengan senjata yang lebih ampuh dari pada kesabaran dan tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla. Janganlah ia menganggap besar dan lama kedzaliman musuhnya, karena setiap kali si musuh mendzaliminya, kedzaliman itu akan menjadi pasukan dan kekuatan bagi orang yang didzalimi, yang dengannya orang yang dzalim memerangi dirinya sendiri tanpa ia sadari. Kedzaliman ibarat anak panah yang ia lemparkan menuju dirinya sendiri. Seandainya ini dapat dilihat oleh orang yang didzaliminya itu, niscaya ia akan senang dengan kedzaliman tersebut. Akan tetapi karena lemahnya penglihatannya  ia tidak dapat melihat kecuali eksistensi dari kedzaliman tersebut, tanpa mampu melihat akibat dan hasil akhirnya.</p>
<p style="text-align: justify">Padahal Allah  Azza Wa Jalla berfirman :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify">“<em>Dan barangsiapa membalas dengan setimpal penganiayaan yang pernah ia terima kemudian dia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya</em>.” (<strong>QS. Al Hajj : 60</strong>)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Bila Allah Azza Wa Jalla telah menjamin pertolongan atas hamba padahal ia pernah membalas sebelumnya, maka bagaimana halnya dengan orang yang dianiaya namun sabar dan tidak membalas sedikitpun? Padahal tidak ada dosa yang lebih disegerakan balasannya dari pada dosa kedzaliman dan memutuskan tali silaturahmi.</p>
<p style="text-align: justify">Sudah menjadi sunnatullah bahwa jikalau ada sebuah gunung yang berlaku dzalim terhadap gunung yang lain  maka Allah Azza Wa Jalla akan menjadikannya hancur berkeping-keping.</p>
<blockquote>
<pre style="text-align: justify">Maraji : Sepuluh Jurus Penangkal Sihir, Dengki dan ‘Ain karangan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah <a href="http://www.promo.at-tibyan.com" target="_blank"><strong><em>Penerbit Pustaka At Tibyan</em></strong></a></pre>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/cara-ketiga-bersabar-atas-musuhnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat yang Mulia</title>
		<link>http://an-naba.com/sifat-yang-mulia/</link>
		<comments>http://an-naba.com/sifat-yang-mulia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 03:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[catata]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[meneladani]]></category>
		<category><![CDATA[mukmin]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[niat]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[shaleh]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[www.an-naba.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1774</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat kejujuran adalah meraih sesuatu dengan sempurna, menyempurnakan kekuatan dan menyatukan seluruh bagiannya. Kejujuran ada pada niat, ucapan dan amalan. Sikap jujur merupakan naluri dari setiap manusia. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1779" style="margin-left: 15px;margin-right: 15px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/05/sunset_mosque-300x250.jpg" alt="" width="247" height="159" /></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Kejujuran adalah sifat yang agung, akhlak yang mengelokkan pemiliknya dan mengangkat sebutanya. Orang yang jujur selalu dicintai manusia. Barang siapa yang banyak jujurnya, niscaya “bersinarlah” hatinya dan kuatlah “pandangannya”. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em>dikenal dengan kejujuran dan amanahnya, bahkan sebelum beliau menjadi Nabi.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“</em><em>Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku jujur hingga ia disebut shiddiq (orang yang senantiasa jujur). Sedang dusta mengantarkan kepada perilaku menyimpang (dzalim) dan perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut pendusta besar.</em>”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Untaian kata-kata di atas adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud <em>Radhiyallahu ‘anhu </em>yang terhimpun dalam Kitab Hadits Bukhari, Muslim dan Tirmidzi. (HR Bukhari dalam shahihnya bab Adab); (HR Muslim dalam shahihnya bab <em>Al-Birr</em>); (HR Tirmidzi dalam sunannya bab <em>Al-Birr</em>).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><span id="more-1774"></span><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman, yang artinya:<em> “Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur”</em>, (QS: At-Taubah: 119). Dalam ayat lain, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman, yang artinya: <em>“Jikalau mereka jujur kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”</em>, (QS: Muhammad: 21)</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">&#8220;Jujur ialah kesesuaian ucapan dengan hati kecil dan kenyataan objek yang dikatakan&#8221; (Fathul Baari, jilid X).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Berkaitan dengan makna hadits di atas, para ulama mengatakan bahwa sikap jujur dapat mengantarkan kepada amal shaleh yang murni dan selamat dari celaan. Sedang kata “<em>al-birr</em>” (kebaikan) adalah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa “<em>al-birr</em>” berarti surga, sedangkan dusta dapat mengantarkan kepada perilaku menyimpang (kedzaliman).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff"><em>“ Janganlah engkau melihat kualitas diri seseorang itu dari panjang rukuk dan sujudnya, tetapi lihatlah dari kejujuran dan kesetiaan dalam menjalankan amanah”</em>, demikian nasihat Imam Ja’far Ash-Shadiq. Hal ini sesuai dengan firman Allah </span><span style="color: #0000ff"><em>Subhanahu wa Ta’ala </em></span><span style="color: #0000ff">, yang artinya : <em>“ Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shadiqin (orang-orang jujur dan mencintai kebenaran), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itu teman sebaik-baiknya”, </em>(<span style="color: #0000ff">QS. </span></span><span style="color: #0000ff">An-Nisa: 69)</span>.<span style="color: #0000ff"> Sikap jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus diterapkan, dia menjadi fundamen penting dalam membangun komunitas masyarakat. Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan masyarakat akan terlepas, karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka tidak berhubungan sesamanya dengan jujur.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Hakikat kejujuran adalah meraih sesuatu dengan sempurna, menyempurnakan kekuatan dan menyatukan seluruh bagiannya. Kejujuran ada pada niat, ucapan dan amalan. Sikap jujur merupakan naluri dari setiap manusia. Cukup sebagai bukti bahwa anak kecil jika diceritakan tentang sosok seorang yang jujur di satu sisi, dan di sisi lain diceritakan sosok seorang pendusta, engkau lihat, dia akan menyukai orang jujur dan membenci pendusta.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebih utama daripada kejujuran (Hilyatul Auliya, jilid VIII).</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ibnul Qayyim Al Jauziyah, menyatakan, orang jujur yang kuat, adalah orang yang betah bersama Allah, baik pada saat banyak orang maupun pada saat menyendiri. Beliau berkata,  “Adapun orang yang betah bersama Allah saat menyendiri saja, tak pernah betah tat kala banyak orang adalah orang jujur namun lemah. Dan orang yang betah bersama Allah di tengah orang banyak, namun tidak betah tat kala menyendiri dan sepi, ia orang sakit.”</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">“Akhlak terpuji bersumber dari sabar, berani, adil, pemuarh, penyantun, pemaaf, memelihara kesucian, tabah, mendahulukan orang lain, jujur, menghargai jasa orang lain” kata Ibnul Qayyim. Sedangkan sumber akhlak tercela, beliau menunjukkan <em>kibr </em>(sombong) yang melahirkan bangga diri, zalim, hasad, ujub, tirani, senang popularitas, rakus, licik dan kikir</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memberikan<em> </em>kita petunjuk, kekuatan dan hidayah-Nya agar bisa memiliki sifat mulia (jujur) ini dan mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi amal shaleh yang akan mengantar kita kepada Jannah-Nya. Amiin.</span></p>
<p>______________</p>
<h6>Dikutip dari buku &#8220;<span style="color: #3366ff">Catatan Harian Mukmin Sejati</span>&#8221; yang ditulis oleh <strong><span style="color: #339966">Abdul Ilahbin Sulaiman Ath-Thayyar</span></strong>. Penerbit: An-Naba Solo</h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/sifat-yang-mulia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BAGI PARA PENDIDIK</title>
		<link>http://an-naba.com/bagi-para-pendidik/</link>
		<comments>http://an-naba.com/bagi-para-pendidik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 07:40:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[an-naba]]></category>
		<category><![CDATA[calon]]></category>
		<category><![CDATA[didik]]></category>
		<category><![CDATA[doktor]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[insinyur]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[naba]]></category>
		<category><![CDATA[nahkoda]]></category>
		<category><![CDATA[pedagang]]></category>
		<category><![CDATA[pegawai]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pengajar]]></category>
		<category><![CDATA[pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[profesi]]></category>
		<category><![CDATA[profesor]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[tarbawi]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[tibyan.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1765</guid>
		<description><![CDATA[Wahai saudaraku, para pendidik muslim…
Wahai pendidik para generasi yang melahirkan para tokoh…
Wahai engkau yang dimuliakan Allah dengan diembani tugas sebagaimana tugas para nabi dan rasul. (semoga keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka). Salam sejahtera, rahmat Allah dan berkahNya semoga tercurah pada kalian. Waba’du.
Saya menulis risalah ini untuk kalian, setelah mengemban tugas mengajar selama kurang lebih empat belas tahun. Seraya merasa bangga dan terhormat karena keikutsertaan dalam tugas paling mulia serta profesi paling luhur di antara profesi-profesi lain. Terlebih, ia adalah misi yang diemban para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam. Dengan landasan sebuah hadist:
    “Sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik.” (HR. Ibnu Majah dalam as-Sunan).
Risalah berikut saya persembahkan bagi anda, seraya memohon pertolongan hanya kepada Allah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1766" style="border: 0pt none;margin-right: 4px;margin-left: 4px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/04/toga-300x300.jpg" alt="" width="251" height="251" /><span style="color: #0000ff">Wahai saudaraku, para pendidik muslim…</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Wahai pendidik para generasi yang melahirkan para tokoh…</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Wahai engkau yang dimuliakan Allah dengan diembani tugas sebagaimana tugas para nabi dan rasul. (semoga keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka). Salam sejahtera, rahmat Allah dan berkahNya semoga tercurah pada kalian. Waba’du.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Saya menulis risalah ini untuk kalian, setelah mengemban tugas mengajar selama kurang lebih empat belas tahun. Seraya merasa bangga dan terhormat karena keikutsertaan dalam tugas paling mulia serta profesi paling luhur di antara profesi-profesi lain. Terlebih, ia adalah misi yang diemban para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam. Dengan landasan sebuah hadist:</span></p>
<blockquote><p><em>“Sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik.”</em> (HR. Ibnu Majah dalam as-Sunan).</p></blockquote>
<p><span style="color: #0000ff">Risalah berikut saya persembahkan bagi anda, seraya memohon pertolongan hanya kepada Allah.<span id="more-1765"></span> </span></p>
<p><span style="color: #008000">Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuhu</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">“Wahai orang yang dimuliakan Allah dengan al-Islam. Ingatlah, bahwa pendidik muslim mengemban misi paling mulia serta menunaikan amanah paling agung, dan bahwa kebaikan risalahnya diambil dari kemuliaan risalah itu sendiri. Terlebih panutannya dalam misi tersebut adalah Muhammad Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam, guru sekalian manusia sekaligus pendidik mereka. Siapakah orang yang lebih mulia profesinya dari para pendidik? Adakah para pegawai (pekerja) dan pedagang? Ataukah para insinyur dan pengusaha? Atau mungkin dokter dan petani?</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Seluruh mereka dan lainnya yang menyebar di tengah masyarakat, tak lain adalah produk tarbiyah para pendidik juga. Hasil didikan dari para pendidik, mereka bisa menjadi seperti sekarang dan karenanya pula mereka bisa eksis. Dari itulah para pendidik merasa bahagia diliputi bangga manakala melihat anak-anak didik mereka menjadi seperti mereka; insinyur, dokter, ahli seni dan praktisi dan begitu seterusnya…</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Wahai orang yang mengemban tugas mempersiapkan generasi bagi umat dan mendidik para calon tokoh masa depan yang nantinya mereka diharapkan memegang kendali dan tugas-tugas kenegaraan, membangun peradaban umat serta mengemban misinya…. Ingatlah, engkau adalah pondasi, landasan utama serta batu pertama dalam bangunan peradaban umat. Engkau mengemban tanggung jawab secara penuh. Maka jadilah engkau orang yang mampu (ahli) dalam penunaian risalah agung ini, yang urgensitasnya sebagaimana digambarkan secara jelas oleh seorang penyair:</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #800000"><em>Tahukah ia, orang yang paling mulia</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Yaitu yang berhasil membangun pribadi pribadi serta akal akal pikiran</em></span></p></blockquote>
<p><em> </em><span style="color: #0000ff">Juga ucapan penyair lain:</span></p>
<blockquote><p><em> <span style="color: #800000">Menurut pandangan dan penglihatanku </span></em></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Seorang pendidik adalah laksana cahaya </em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> orang yang bingung mendapat petunjuk denganya</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em>Sekiranya tanpa pendidik, peradaban kita tak bisa bertambah maju</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em>Dan tidak akan meninggi ihwalnya </em></span></p></blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Wahai nahkoda kapal yang mahir, yang ia harus menahkodai kapalnya dengan teliti disertai perhatian serius dan penuh agar ia sampai ke pulau tujuan bersama para penumpangnya dengan selamat dan aman&#8230; Ingatlah bahwa mendidik adalah seni sekaligus ilmu serta misi yang sangat agung dan luhur bagi siapa saja yang diberi taufiq oleh Allah untuk mampu mengembanya. Terlebih, tarbiyah tersebut sangat ditentukan dan bergantung kepada sang guru untuk mengetahui kondisi murid-muridnya serta pelbagai problematika yang mereka hadapi, kebaikan sikap serta pemahaman mereka kepada kondisi-kondisi murid. Maka dari itu, berupayalah sekuat tenaga -semoga Allah memberikan keberkahanNya kepadamu- untuk menyempurnakan tugas utamamu (sebagai pendidik), yaitu dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakannya. Tempatkanlah selalu -di depan pelupuk matamu- perintah takwa kepada Allah serta perasaan selalu diawasi Allah (Muraqabatullah) di setiap waktu dan tempat.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff">Alangkah indah ucapan salah seorang penyair:</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #800000"><em>Jika di suatu hari engkau sedang sendirian</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Jangan katakan, ‘ Aku seorang diri ‘ akan tetapi katakan</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em>Selalu ada yang mengawasiku.</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em>Jangan sangka Allah lengah dalam sekejab</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Dan Jangan kira apa yang kau sembunyikan terlewat dari pengawasan-Nya.</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Hai orang yang memayahkan dirinya serta mengorbankan sejumlah waktunya, mengorbankan banyak dan lebih banyak lagi, demi mengemban risalah yang dibawanya, yang di tengah itu ia menjumpai pelbagai kendala dan beragam rintangan&#8230; Janganlah engkau lupa bahwa semua itu akan ada pahalanya -Insya Allah- selagi kau lakukan dengan ikhlas untuk Allah semata dan engkau mampu bersabar dan hanya berharap balasanNya saja. Tidak ada pekerjaan yang tidak mengandung kepayahan dan tidak ada kesuksesan tanpa didahului begadang di malam hari. Betapa indahnya bait syair yang menggambarkan profesi mengajar dan mendidik berikut:</span></p>
<blockquote><p><em> <span style="color: #800000">Betapa baik profesi mengajar jika tanpa rintangan </span></em></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Orang yang buruk akhlaknya, orang bodoh ataupun sombong</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Atau yang memiliki kedunguan yang tidak mengerti pelajaranya</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Ia memiliki ucapan ucapan prosa seperti bait bait</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Wahai orang yang merasa tinggi dan mulia di atas sahabat-sahabatnya yang bekerja di bidang-bidang lain atau di luar kependidikan…. Cukuplah kecintaanmu pada profesi tersebut sebagai modal tertinggi yang engkau boleh merasa bangga dan mulia karenanya, juga penghormatan serta penghargaan yang anda dapatkan ke mana saja engkau pergi dan di mana saja engkau berada, dari mereka yang dulunya menjadi murid-muridmu sementara sekarang telah menjadi orang-orang berhasil dan penting. Dan ingatlah bahwa anak-anak yang sekarang sedang duduk di depanmu di atas bangku-bangku studi adalah generasi masa depan yang dinantikan dan diharapkan serta bangunan-bangunan yang dipersiapkan untuk masa depan yang cerah -insya Allah-.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Ketahuilah, bahwa para pelajar adalah laksana medali di dadamu. Jika seseorang merasa bangga dengan satu medali yang diraihnya setelah mampu melakukan suatu amal dan karya besar nan mulia yang ia lakukan dalam jangka waktu yang lama, maka sang pendidik setiap hari menyandang satu medali. Jika medali medali orang lain di kalungkan di leher-leher mereka, maka medali-medali sang pendidik akan selalu hidup di dalam hati dan jiwanya. Perasaanya mengkonstruksikan medali-medali tersebut. Ia (sang pendidik) tadi melihat kedudukan pentingnya di jiwa-jiwa orang lain, karena mereka mengakui keutamaan serta menghormati harga dirinya. Sebagaimana seorang penyair pernah berucap:</span></p>
<blockquote><p><em> <span style="color: #800000">Wahai sang pencipta generasi </span></em></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Kami tak memiliki bendera putih selain produkmu</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Jika bukan karena jasamu, tidaklah sang khatib fasih lisanya</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Dan tidaklah sang penyair dapat bersenandung dengan keinginan keinginanya </em></span></p></blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Wahai orang yang menaruhkan seluruh hidupnya di dunia pendidikan, yang mengarunginya dengan akal dan hatinya dan yang tiada rela menggantinya dengan suatau apapun&#8230; Janganlah engkau menjadi obor yang menerangi jalan bagi orang lain, sementara ia membakar dirinya sendiri. Akan tetapi jadilah pelita yang menerangi jalan bagi orang lain dan tidak melupakan kebaikan dirinya dan sifat memberinya. Jalan terbaik untuk mewujudkan hal tersebut, engkau harus menjadi suri teladan baik bagi murid-muridmu dalam hal iltizam pada nilai-nilai kebenaran, sikap obyektifitas, sifat menghargai diri, sifat adil dan tidak berlaku zalim. Juga hendaknya engkau menjadi teladan dalam hal interaksi dengan orang lain yang didasarkan pada pondasi-pondasi yang kokoh berupa kebaikan dan ketakwaan. Alangkah bagusnya ucapan sang penyair:</span></p>
<blockquote><p><em> <span style="color: #800000">Aku melihat, mengajar adalah semulia profesi</span></em></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Konsekwensinya adalah terberat</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Maka hendaklah sang pendidik selalu bertakwa kepada Allah</em></span></p>
<p><span style="color: #800000"><em> Terhadap sebagian orang orang yang diajarnya</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Sebagai penutup, rasa terima kasihku yang besar, salamku yang deras mengalir, do’aku yang penuh keikhlasan bagimu wahai sang pendidik. Semoga Allah selalu menganugerahi taufiq, hidayah, kelurusan jalan, serta bimbingan dalam seluruh perjalananmu yang diberkahi serta perjuanganmu yang panjang dalam rangka mengemban misi agung (mengajar dan mendidik) yang dengan itu engkau akan menjadi pusat perhatian.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #0000ff">Serta pusat simpati di zaman ini dan bahkan di setiap zaman. Salawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Muhammad Shalallahu &#8216;Alaihi wa Sallam.</span></p>
<p><span style="color: #008000">Wassalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.</span></p>
<pre><span style="color: #ff6600">Dipetik dari buku "Rasaa'il Tarbawiyah" karya Shalih bin Ali Abu 'Arrad asy-Syahri yang telah diterjemahkan dan dan diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan dengan judul "Mutiara Nasehat Menuju Pribadi Muslim Ideal".</span></pre>
<table style="height: 22px" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="1">
<col width="309"></col>
<tbody>
<tr>
<td width="309" height="20"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/bagi-para-pendidik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Pahala</title>
		<link>http://an-naba.com/mendulang-pahala/</link>
		<comments>http://an-naba.com/mendulang-pahala/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 02:22:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimbar Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[mendulang]]></category>
		<category><![CDATA[pahala; menuai]]></category>
		<category><![CDATA[rahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1756</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya perbuatan baik itu menghapuskan perbuatan yang buruk (dosa). (QS. Huud: 114). Demikianlah firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala, yang menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><img class="alignleft size-full wp-image-1757" style="margin-left: 20px;margin-right: 20px" src="http://an-naba.com/wp-content/uploads/2010/04/tulip_islam_turkey__175x151.jpg" alt="" width="231" height="211" />Dunia adalah jembatan menuju negeri akhirat. Memperbanyak bekal itulah wasiat yang pernah disampaikan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</em> kepada seluruh umatnya. Dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan dan amal shalih.</p>
<p style="text-align: justify">Suatu hari Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, siapakah manusia jenius itu? Jawaban para shahabat beraneka ragam, dan Rasulullah memberikan jawaban yang menyenangkan dan menyejukkan, yakni mereka yang mempersiapkan bekal di dunia ini untuk kehidupan setelah kematian, yaitu negeri akhirat.</p>
<p style="text-align: justify"><span id="more-1756"></span></p>
<p style="text-align: justify">Al-Qur’an mengaitkan kata “takwa” dengan perintah untuk “berbekal”, seperti firman Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala </em> berikut:</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Berbekallah kalian semua, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.</em>” (QS. Al-Baqarah: 197)</p>
<p>Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em> memerintahkan manusia untuk mengambil “bekal” sebanyak-banyaknya, dan takwa adalah bekal yang dimaksud. Maka, jika engkau ingin menjadi kekasih Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em> jangan hanya mengumpulkan harta atau jabatan, tapi tingkatkan takwa kita kepada Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em>. Inilah yang akan menjadi “kendaraanmu” untuk bertemu dengan Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em> di surga.</p>
<p style="text-align: justify">Agar engkau benar-benar bisa bertakwa maka jangan sampai terkecoh oleh silau kekayaan dunia. Kekayaan itu ibarat air laut, semakin engkau minum semakin membuat haus. Dan, kalau sudah demikian seseorang akan melupakan Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em>. Sebagai peringatan bagi manusia, maka Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em> menghubungkan kata “takwa” dengan “pakaian” sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.</em>” (QS. Al-A’raf (7): 26)</p>
<p style="text-align: justify">Ayat ini hendak memberi tahu manusia bahwa sebaiknya mereka tidak terpedaya oleh apa yang dimilikinya, baik berupa busana maupun pakaian. Karena pada kenyataannya, banyak manusia mengira bahwa semua yang ia miliki adalah hasil dari jerih payah dan jasa-jasanya. Padahal Allah telah mengingatkan bahwa semua yang hamba-Nya peroleh adalah bagian dari karunia dan anugerah-Nya. Kemudian Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala</em> meneruskan firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify">“<em>&#8230;dan pakaian takwa itulah yang lebih baik</em>.” (QS. Al-A’raf (7): 26)</p>
<p style="text-align: justify">Rasulullah <em>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: justify">“<em>Maukah kuberitahukan kepada kalian amalan yang paling baik, paling suci dan paling tinggi derajatnya disisi Pencipta kalian? Yang lebih baik daripada infak dengan emas dan perak dan yang lebih baik daripada kalian bertemu musuh lalu kalian memukul leher-leher mereka (dengan pedang) dan mereka memukul-mukul leher kalian</em>?”. “<em>Tentu,</em>”jawab para sahabat. Rasulullah pun menjawab: “<em>Dzikir kepada Allah</em>.” Hadits Shahih, lihat Shahihul Jami’ nomor 2629.</p>
<p style="text-align: justify">Hadits tersebut di atas menjelaskan salah satu dari sekian banyak amalan yang pahalanya berlipat ganda di dalam timbangan. Syamsuddin dalam bukunya “<strong>Mendulang Pahala Menuai Surga</strong>” menjabarkan amal kebaikan yang akan menghantarkan kita kepada rahmad Allah, dan rahmad Allah tersebut akan menghantarkan kita kepada jannah-Nya. Di antara  amalan tersebut adalah : shalat sunnah; puasa sunnah; sedekah jariyah; <em>birrul walidain</em>; dan masih banyak lagi.</p>
<p style="text-align: justify">Beliau juga memberikan tips agar kita menjadi manusia yang kaya akan pahala; diantaranya adalah (1). Menjauhi segala bentuk kemaksiatan, (2) Tidak bersikap takabur dengan amal yang telah dilakukan; (3) Menjaga akhlak yang baik.</p>
<p style="text-align: justify">Sungguh jelas wahai Saudaraku, sebaik-baik bekal dan sebaik-baik pakaian atau perhiasan adalah takwa dan amal shalih, bukan emas, harta atau pakaian dari sutra. Maka mulai sekarang persiapkanlah bekalmu itu.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">_____________</p>
<h6 style="text-align: justify">“<span style="color: #ff6600">Mendulang Pahala Menuai Surga</span>”, penulis <span style="color: #008080">Syamsuddin</span>, Penerbit <span style="color: #0000ff">Daar An-Nab</span>a<span style="color: #0000ff">&#8216;</span>, Solo</h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://an-naba.com/mendulang-pahala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
