Hukum Senda Gurau

Setiap orang tidak terlepas dari masa lalunya masing-masing. Masa lalu seseorang hendaknya tidak menjadi rantai pengikat kaki-kaki mereka menuju jalan yang terang di karena cahaya Islam yang telah ia nyalakan dalam hatinya. Masa lalu seseorang bukan sebuah beban, masa lalu seseorang layaknya pelajaran yang harus ditempuh seseorang seperti anak-anak sekolah. Masa lalu bisa menjadi palajaran yang sangat berharga, diambil hikmahnya, dan jangan sampai mengulanginya kembali di masa akan datang bagi hamba dengan niat taubat.

Apa hubungan masa lalu dengan sendau gurau? Senda gurau mungkin ibarat makanan sehari-hari bagi sebagian orang, terutama mereka yang suka humor/ humoris. Tidak jarang senda gurau yang mereka lontarkan menyentuh hal-hal yang tidak baik, tetapi sekali lagi mereka tetap mendapatkan tawa dari semua itu, entah apapun bahan senda gurau. Mungkin saja tidak perlu masa lalu, kemarin, tadi, barusan atau bahkan sekarang sendau gurau itu menghiasi hidup kita, mengenyangkan pikiran kita, artinya kita tidak lepas dari senda gurau dalam keseharian kita.

Senda gurau bisa berakibat fatal. Hubungan persaudaraan dapat renggang gara-gara senda gurau, pikiran seseorang tercampur hal-hal kotor karena sendau gurau, bukankah hal ini tidak diinginkan? Sementara itu sebagian kita masih senang senda gurau, apakah mereka menginginkan kefatalan di atas? atau apa sebenarnya yang tujuan lain senda gurau? tawa?

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” Sesungguhnya di antara orang-orang yang paling aku cintai serta paling dekat denganku pada hari kiamat nanti adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian serta paling jauh dariku pada hari kiamat adalah orang yang cerewet, bermulut besar dan mutafaiqihun. ” Para sahabat bertanya, ” Wahai Rasulullah, kami sudah tahu apa itu cerewet dan bermulut besar, tapi apakah itu mutafaiqihun?” Beliau menjawab, ” Orang-orang yang sombong.” (HR. At-Tirmidzi, dalam Kitabbul birr wash shilah dari hadis Jabbir bin Abdillah, no. 2018)

Jika seorang muslim menyatukan keseriusan yang ia jalani dengan ruh senda gurau, ucapan manis dan mengundang senyum serta pilihan hikmah, dia mampu meraih hati semua orang dengan daya tarik perkataannya dan memikat jiwa setiap orang dengan cara bergaulnya yang lembut dan candanya yang tidak mengurangi wibawanya.

Senda gurau yang lepas dari perkataan dan perbuatan terlarang yang memperkeruh kejernihan hati adalah dianjurkan. Ini adalah akhlak mulia yang dianjurkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Lalu bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberi contoh dalam senda gurau yang mampu memikat jiwa tanpa mengurangi wibawanya? Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melakukan senda gurau untuk sebuah maslahat, yaitu menyenangkan hati lawan bicara dan beramah tamah dengannya. “Sesungguhnya aku juga bercanda namun aku tidak berkata kecuali yang benar.” (HR. Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, hadist no. 779)

Bagaikan mendengarkan canda-canda Rasulullah, pemikat jiwa tetap sebuah kebenaran dalam buku Canda Rasul karangan Dr. Muhammad Abdullah Walad Karim. Dapatkan buku tsb dalam toko online di halaman www.at-tibyan.com. Selamat membaca dan “bersenda gurau”.

Admin posted at 2010-3-2 Category: Mimbar Ilmu

17 Responses Leave a comment

  1. #1zulkifli @ 2010-3-2 14:14

    syukron khairon katsiiron saudaraku yg INSYA ALLAH DI RAHMATI ALLLAH AZZA WA JALLA…

  2. #2fathimah @ 2010-3-2 14:50

    jazakumulloh khairan katsiran untuk setiap artikel yang disajikan..
    banyak manfaat dan semoga jadi hitungan amal untuk kita semua…

    ijin copas ..:)

  3. #3TamuDariSebrangs @ 2010-3-2 15:33

    buku bagus..
    harus beli,,
    berapa ya harganya?

  4. #4Ummu Abdillah @ 2010-3-3 05:28

    Jazakumulloh khoyron atas artikelnya.
    Dalam bercanda kita tidak boleh berdusta, merendahkan orang lain dan mempermainkan agama.

  5. #5housekeeper @ 2010-3-3 09:46

    tidak disebutkan tentang bercanda yang tidak boleh bohong ya…?
    mungkin bisa ditambahkan…
    atau kalo saya yang salah, mohon dikoreksi

  6. #6abu hamzah oki al-maturi @ 2010-3-3 10:06

    jazakumullahukhairan atas semua artikel2nya.mg j dbls oleh Allah dengan balasan yang setimpal

  7. #7Nurhuda binti Ayub @ 2010-3-3 10:58

    syukran jazeelan ya untuk artikel ini..hendak bergurau senda juga ada caranya..Barokallah..

  8. #8abu faiz @ 2010-3-3 13:01

    ………..
    Senda gurau yang lepas dari perkataan dan perbuatan terlarang yang memperkeruh kejernihan hati, adalah dianjurkan. Ini adalah akhlak mulia yang dianjurkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
    ………….
    Jazaakumulloh khoir…

  9. #9abdurrahman @ 2010-3-3 21:09

    syukran.. ijin copas psan2 yang di kirm yaa?? jazakumullah

  10. #10alkautsar-herbal.blogspot.com @ 2010-3-4 09:57

    Sepeerti apa contoh bercandanya Rasululloh?

  11. #11ummu haitsam @ 2010-3-5 22:07

    jazakumulloh khoerol jaza atas artikel yang sangat bermanfaat ini, apalagi ketika membaca hadits Rosululloh shalallohu ‘alaihi wasallam tentang kriteria orang yang yang paling dibenci dan paling jauh dengan Rosululloh di hari kiamat adalah orang yang cerewet, bermulut besar dan mutafaiqihun (orang-orang yang sombong). wal’iyadubillah… banyak orang yang mampu menjaga kemaluannya, tapi sedikit sekali orang yang bisa menjaga lidahnya.

  12. #12ridho ananda @ 2010-3-7 20:06

    Alhamdulillah… mendapat banyak hikmah, kebanyakan anak muda suka bercanda begitu pula ana… dari artikel ini InsyaAlloh bisa memberi arahan bagaimana bercanda yang sesuai sunnah rasul

  13. #13vivi @ 2010-3-15 08:06

    Syukron, telah mengingatkan ana. Kadang kita sreing lalai ketika bercanda. Astaghfirullah.

  14. Admin @ 2010-3-15 14:32

    afwan, terima kasih kembali, mari mengingatkan orang-orang tercinta di sekitar kita juga, keluarga, partner kerja, teman semuanya.

  15. #14Admin @ 2010-3-19 10:00

    @ alkautsar-herbal.blogspot.com

    Salah satu contoh canda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

    Seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi, sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”.

    Perempuan itu menangis mengingat nasibnya Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan)

  16. #15taufik akbar @ 2010-5-31 10:29

    ya..ya.. jzk

  17. #16yuni @ 2010-11-25 09:29

    jadikanlah canda tawa sebagai hal untuk menyenangkan orang lain dan bukan menyakiti orang lain. jazakumulloh khairan atas artikelnya…