Keutamaan Menuntut Ilmu Syar’i
“Tempat kalian meletakkan cemeti kalian di dalam jannah nilainya jauh lebih mahal dari dunia beserta isinya.” Demikian sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- menjelaskan tentang keagungan jannah. Isinya belum pernah dilihat oleh mata. Belum pernah didengar oleh telinga. Belum pernah terlintas dalam benak manusia. Istana-istana indah nan tinggi menjulang. Kenikmatan tiada ujung. Di dalamnya mengalir sungai-sungai susu, khamr dan madu. Kehidupan nan abadi dengan keremajaan yang tiada putus. Sungguh, kata-kata tidak akan sanggup menggambarkannya. Semuanya bukanlah berada dalam dunia khayal layaknya dongeng-dongeng pengantar tidur. Namun semuanya nyata, menanti setiap orang yang setia mengabdi kepada Penciptanya. Tiada seorangpun yang mengimaninya kecuali mengidamkannya.
Apakah Anda salah seorang dari mereka..?
Jika ya, apakah Anda sudah tahu jalan yang akan membawa Anda menjadi salah seorang penghuninya, dan bahkan salah seorang penghuninya yang meraih derajat tinggi di dalamnya..?
Salah satu cara yang dapat meninggikan derajat adalah menuntut ilmu syar’i. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’ lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kalian’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11).
Telah kuat dari Abu Darda’ -radyallahu anhu- bahwa Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan menuntunnya meniti salah satu jalan menuju jannah. Sesungguhnya para malaikat mengembangkan sayap mereka bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya seorang yang berilmu benar-benar dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan-ikan di kedalaman air. Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu di atas seorang yang beribadah adalah seperti bulan purnama yang melebihi bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham. Namun mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang meraihnya maka dia telah mendapatkan bagian yang berlimpah.” 1
Maka sudah sepantasnya jika setiap muslim mempelajari agamanya dan menuntut ilmu syar’i dengan segala kemampuannya. Agar dia termasuk dalam kafilah para ulama sejati yang mengamalkan ilmunya. Bukan alim dengan perkara duniawi namun jahil terhadap perkara ukhrawi. Barangsiapa yang diinginkan menjadi baik oleh Allah Ta’ala maka dia diberikan pemahaman atas agama ini.
footnotes :
1. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad – Al-Fathur Rabbani – (I/ 149), Abu Daud (3641), Ibnu Majah (223), Ibnu Hibban (I/ 289) dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (6297).
referensi:
“Bersanding dengan Bidadari di Jannah”, Dr. Muhammad bin Ibrahim An-Naim, penerbit: Daar An-Naba’ Solo



