Optimization in gaining the reward

Tujuan dari hidup ini adalah beribadah kepada Allah :

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Tujuan ibadah ini ialah mendapatkan ridha Allah kemudian surga, dan kedudukan surga itu berbeda-beda. Sejauh mana manusia meraih kebajikan dalam kehidupan ini, maka sejauh itu pulalah kedudukan yang akan diraihnya di sana.

Seorang muslim itu sangat mencintai kehidupan­nya, bukan karena kelezatannya, tetapi hanyalah karena ingin mendapatkan sebanyak mungkin pahala dan kebajikan. Jika seorang muslim melihat bahwa kehidupannya di dunia sarat dengan kebajikan dan pendekatan diri kepada Allah, maka ia berdoa kepada Allah agar dipanjangkan usianya dan diperbaguskan amalnya.

Dari titik tolak ini, kita harus mengingatkan tentang urgensi mengetahui cara-cara amaliah untuk meraih pahala dan kaidah-kaidah yang meng­antarkan untuk mendapatkan sebanyak mungkin kebajikan dalam syariat yang bijak ini guna memantapkan timbangan orang mukmin pada hari kiamat.

“Dan adapun orang-orang yang berat tim­bangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.” (QS. Al-Qari’ah: 6-7).

Berikut ini adalah sebagian dari cara-cara ideal untuk meraih tujuan yang besar ini bagi setiap muslim.

Cara Pertama: Komitmen dengan kewajiban dan fardhu.

Tidak ada yang lebih dicintai Allah daripada orang mukmin komitmen dengan fardhu dan kewajiban. Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang Aku fardhukan kepadanya.” (HR. al-Bukhari).

Jadi, istiqamah di atas amalan-amalan fardhu adalah jalan terbaik untuk meraih pahala, karena ini adalah amalan-amalan yang paling dicintai Allah, dan atas perkara inilah manusia akan dihisab di hadapan Allah pada hari kiamat.

Cara kedua: Memperbanyak niat baik dalam satu ketaatan.

Satu ketaatan bisa diniatkan dalam banyak keba­jikan, dan seseorang akan mendapatkan pahala dengan tiap-tiap niat itu.

Sebagai contoh, duduk di masjid. Ini satu ketaatan, tapi bisa diniatkan untuk banyak niat, di antaranya:

a) Berniat memasukinya untuk menunggu shalat.

b) Berniat i’tikaf dan menahan anggota tubuh.

c) Mengusir berbagai kesibukan yang memalingkan dari menaati Allah dengan memutuskan diri menuju ke masjid.

d) Dan untuk berdzikir kepada Allah di dalamnya, dan semisalnya..

Ini adalah jalan memperbanyak niat dalam satu ke­taatan—dan analogikanlah semua ketaatan dengan hal itu. Sebab tidak ada satu ketaatan pun melainkan mengandung banyak niat.

Berdasarkan contoh ini—wahai saudaraku yang ter­cinta—semestinya Anda menganalogikan semua ketaatan, lalu Anda mengadakan untuk tiap-tiap ketaatan sejumlah niat baik lagi shalih sehingga satu ketaatan menjadi banyak ketaatan yang menyebabkan pahalanya berlipat ganda karenanya.

Memperbanyak niat dalam satu ketaatan akan memenuhi hati dengan kebaikan, insya Allah.

Cara ketiga: masyarakat “jama’ah” adalah “mihrab untuk beribadah”.

Orang yang diberi Allah pemahaman dalam agama dan ditunjukkanNya kepada jalan yang lurus mengetahui bahwa masyarakat seluruhnya merupakan peluang emas, arena yang luas untuk melakukan amalan-amalan kebajikan, dan medan yang lapang untuk meraih pahala.

Hal ini masyarakat adalah lahan dakwah ilallah, mening­gikan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan menanamnya dalam jiwa secara baik yang kelak menghasilkan buahnya.

Di antara lahan beribadah di masyarakat ini, ialah sebagai berikut: Mengucapkan salam, Memberi nasihat, Kata-kata yang baik, Mencegah kemungkaran, Membuang gangguan dari jalan, Menjenguk orang sakit, Mencari orang yang tidak hadir, Turut serta dalam kegembiraan dan kesedihan, Memuliakan anak yatim… dan seterusnya.

Demikialah kita melihat masyarakat sebagai “mihrab” yang luas untuk ibadah terbaik dan amal terbaik yang dapat mendekatkan seorang muslim kepada Allah Ta’ala. Suatu hal yang tidak akan dijumpai seseorang manakala ia menyendiri lagi terpisah dari masyarakat.

Cara keempat: Memanfaatkan waktu-waktu harian yang utama.

Melaksanakan ibadah-ibadah pada waktu-waktu­nya yang utama yang dianjurkan oleh Syari’ (Penetap syariat) yang bijaksana supaya dilakukan di dalamnya menyebabkan sesorang mendapatkan pahala yang besar—yang tidak akan diperolehnya sekiranya ia melakukan ibadah tersebut di luar waktu yang utama itu. Ini adalah karunia Allah dan rahmatNya. Di antara waktu-waktu utama dalam sehari:

a) Berdzikir pada Allah setelah shalat Shubuh hingga terbit matahari setinggi satu tombak.

b) Menjawab seruan muadzin untuk shalat lima waktu

c) Berdoa di antara adzan dan iqamah

d) Memanfaatkan sepertiga malam yang terakhir dengan shalat, doa dan istighfar.

e) Tasbih, tahlil, tahmid dan takbir sepanjang hari.

Memperhatikan waktu-waktu yang utama ini dengan melakukan ketaatan, di dalamnya berisi­kan usaha besar untuk meraih pahala dari Allah Ta’ala.

Cara kelima: Berkeinginan untuk melakukan amalan-amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga setelah kematian.

Di antara karunia Allah yang besar atas umat ini yang pendek usianya, ialah Dia menunjukkan mereka kepada amalan-amalan yang pahalanya terus berkesinambungan hingga setelah kematian. Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Di antara amalan dan kebajikan yang terus sampa kepada orang mukmin setelah kematiannya, ialah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya semasa sehatnya dan semasa hidupnya, maka itu sampai kepada­nya setelah kematiannya.”

Maka, saudaraku semuslim, hendaklah Anda meng­amalkan mana saja di antara amalan-amalan ini yang pahalanya akan mengalir setelah kematian, sehingga pahala Anda tidak terputus dengan terputus ajal Anda.

Syaikh as-Sa’di mengatakan—dikutip secara bebas—tentang firmanNya, “dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggal­kan.” (QS. Yasin: 12):

“Yaitu peninggalan-peninggalan kebaikan dan pening­galan-peninggalan keburukan yang mana mereka menjadi sebab peninggalan-peninggalan itu, baik semasa hidup maupun setelah kematian mereka….”

Semua kebaikan yang dilakukan seorang manusia karena sebab ilmu hamba, pengajarannya, nasihatnya, perintahnya kepada yang ma’ruf atau pencegahannya dari kemungkaran, ilmu yang ditinggalkannya di tengah kaum muslimin dalam buku-buku yang bermanfaat, baik semasa hidupnya maupun sesudah matinya, amal kebajikan berupa shalat, zakat atau sedekah, orang yang bisa diteladani orang lain, membangun masjid, atau salah satu tempat untuk pertemuan manusia, maka ini termasuk peninggalan-peninggalannya yang dituliskan untuknya. Demikian pula amalan kebajikan.

Berdirilah untuk mengunjungi salah satu kantor Lem­baga Bantuan Islam (Hai’ah al-Ighatsah al-Islamiyyah) atau Perhimpunan Pemuda Islam Internasional (an-Nadwah al-Alamiyyah li asy-Syabab al-Islami), atau organisasi-organisasi sosial terpercaya lainnya untuk melihat kegiatan mereka dalam berbagai proyek kerja yang mengalir paha­lanya hingga setelah kematian, seperti sedekah jariyah. Tujuannya, wahai saudaraku, ialah bagai­mana kita meraih kebajikan yang lebih banyak pada hari kiamat.

Bersambung, Insya Allah…

Dikutip dari kitab Tsalatsuna Thariqah Mitsaliyyah likasb al-Ajr wa ats-Tsawab min Allah, karya Khalid bin Abdurrahman ad-Darwisy.
admin posted at 2010-7-16 Category: Ibadah, Mimbar Ilmu

15 Responses Leave a comment

  1. #1Shafiyyah @ 2010-7-16 10:09

    Subhanallah, banyak cara untuk mendekatkan diri padamu, Ya Rabb. Dan saat kita mendekat kepada-Nya, niscaya Dia akan lebih dekat daripada detak jantung kita. Semoga kita bisa mengoptimalkan diri untuk memenuhi kewajiban kita, yaitu untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Amin Allahumma amin.

  2. #2Al-hamra @ 2010-7-16 14:32

    setiap kali membaca artikel seperti ini, yang saya rasakan adalah malu. Betapa Allah benar-benar membuka kesempatan makhluk-makhluknya untuk berbuat kebaikan dan menuai pahala sebanyak-banyaknya, pun di bulan Ramadhan kesempatan itu akan berlipat-lipat. Namun sungguh sayang, seringkali manusia lalai akan hal ini. Astaghfirullah…

  3. #3abu naufal @ 2010-7-16 15:08

    assalamu’alaikum
    mohon ijin untuk mengambil (copast)
    tujuan Insya ALLAH tidak dikomersilkan
    insya ALLAH untuk disebarkan ke saudara2 seiman
    semoga keberkahan dan hidayah dari ALLAH beserta kaum muslim
    aamiin

  4. #4Ummu abdurrahman @ 2010-7-16 22:21

    Subhanalloh,membaca artikel ini,mengembalikan kembali semangat dalam beribadah
    Memang tujuan bagi orang2 yg beriman adl surga,dan di dunia adl tempat untuk mengumpulkan bekal kesana
    Semoga kita tidak terlena….
    Jazakalloh khairon…

  5. #5Abu Tsuroyya al-Qoryah (Wahyu Hidayat) @ 2010-7-17 11:29

    Assalamu’alaykum…barokallohu fiikum…jazakallohu khoir atas artikel yang telah antum kirim ke ana…Alhamdulillah dari artikel ini ana seperti diingatkan kembali akan arti kehidupan ini…Semoga An-Naba selalu dalam lindungan Alloh…

  6. #6muhamad muhaimin @ 2010-7-17 19:42

    Jazakallah artikelnya sgt bermanfaat, mau minta izin copas mw dkirim k teman-teman, dengan tetap mencantumkan sumbernya, skali lagi jazakallah

  7. #7putri @ 2010-7-18 12:03

    subhanallah,,,
    syukron,,,
    aq tunggu kelanjutannya
    ^_^

  8. #8abu abdillah @ 2010-7-19 06:09

    bismillah. jakumullahu khairan sauadaraku. oh iya akhir-akhir ini ana dapatkan sms tausiyah, dan ana nggak tau kalau itu dari antum.. maafkan ana akhi atas kekhilafan ana. . ana selalu senantiasa butuh nasehat dari antum baik itu melalui email maupun sms.. syukran ya

  9. #9abu abdillah @ 2010-7-19 06:10

    oh iya akhi nomor HP ana jangan dihapus ya. 085241073705.

  10. #10nafisah @ 2010-7-19 09:53

    3 type orang ahli ibadah: 1. Type Budak: Orang yg beribadah karena takut kpd Allah. 2. Type Pedagang: Beribadah karna mgharapkan Syurga. 3. Type org yg Merdeka: Type spt ini seperti ibadahnya para sahabat. Ibadah dgn senang hati tanpa adanya paksaan dan krn Allah SWT semata. Ibnu Taimiyah mengatakan 3 type ini Baik smua, tp yg paling baik adlh type ke 3. Type yang manakah kita???? atau kita tdk trmsuk dalam kriteria itu??? dikarenakan ibadah kita hanya menggugurkan kewajiban semata,,??…

  11. #11yanuar_rindu_khilafah @ 2010-7-19 10:01

    Jazakalloh Khoyron Katsiro idzin cow past akh/ukh?

  12. #12Lina @ 2010-7-19 11:21

    Jazakumullah khoiron katsir atas kiriman ILMU nya.
    Afwan, sms tausyiahny s4 dipertanyakan. ALHAMDULILLAH skrg ud Fahim klw dr ikhwah.

  13. #13Nita @ 2010-7-29 11:40

    Terimakasih artikalnya, dan terimakasih juga kepada sdr ku Nafisah yang telah mengingatkan saya selalu untuk selalu ikhlas meningkatkan ibadah kepada Allah.

  14. #14luluk @ 2010-8-23 14:26

    subhaanallah……..
    san9at ba9us artikelnya…..

  15. #15sri swarsih @ 2010-9-20 18:01

    subhnallah,, ana juga pengen dikirimkan via email (sri_swarsih@yahoo.com) jika berkenan.
    syukran,