Yaitu dengan berusaha untuk tidak melawan atau mengeluhkannya, bahkan tidak terbetik sedikitpun di hatinya untuk mengusik musuhnya ini. Karena ia tak akan dapat mengalahkan musuh dan orang yang hasad kepadanya dengan senjata yang lebih ampuh dari pada kesabaran dan tawakkal kepada Allah Azza Wa Jalla. Janganlah ia menganggap besar dan lama kedzaliman musuhnya, karena setiap kali si musuh mendzaliminya, kedzaliman itu akan menjadi pasukan dan kekuatan bagi orang yang didzalimi, yang dengannya orang yang dzalim memerangi dirinya sendiri tanpa ia sadari. Kedzaliman ibarat anak panah yang ia lemparkan menuju dirinya sendiri. Seandainya ini dapat dilihat oleh orang yang didzaliminya itu, niscaya ia akan senang dengan kedzaliman tersebut. Akan tetapi karena lemahnya penglihatannya ia tidak dapat melihat kecuali eksistensi dari kedzaliman tersebut, tanpa mampu melihat akibat dan hasil akhirnya.
Padahal Allah Azza Wa Jalla berfirman :
“Dan barangsiapa membalas dengan setimpal penganiayaan yang pernah ia terima kemudian dia dianiaya lagi, pasti Allah akan menolongnya.” (QS. Al Hajj : 60)
Bila Allah Azza Wa Jalla telah menjamin pertolongan atas hamba padahal ia pernah membalas sebelumnya, maka bagaimana halnya dengan orang yang dianiaya namun sabar dan tidak membalas sedikitpun? Padahal tidak ada dosa yang lebih disegerakan balasannya dari pada dosa kedzaliman dan memutuskan tali silaturahmi.
Sudah menjadi sunnatullah bahwa jikalau ada sebuah gunung yang berlaku dzalim terhadap gunung yang lain maka Allah Azza Wa Jalla akan menjadikannya hancur berkeping-keping.
Maraji : Sepuluh Jurus Penangkal Sihir, Dengki dan ‘Ain karangan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Penerbit Pustaka At Tibyan
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: 7.4/10 (11 votes cast)
VN:F [1.9.6_1107]
Rating: +1 (from 5 votes)