Peringatan Maulid Bid’ah Atau Sunnah
Kelahiran Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wassalam merupakan rahmat Allah Subhanahu Wata’alla yang terbesar bagi umat dan alam semesta. Dengan perantaraan beliau, Allah menjelaskan jalan al-haq dan jalan al-bathil. Maka keberadan beliau Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam menjadi rahmat bagi alam semesta. Merupakan bukti keimanan seseorang kepada Allah Ta’ala adalah adanya kecintaan kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam dengan kecintaan yang benar yang akan mengantarkan kepada kesempurnaan iman dan ketinggian derajatnya di sisi Allah Ta’ala dan di sisi Rasulullah kelak di hari kiamat.
Namun tidak dipungkiri bahwa sangat banyak di antara kaum muslimin yang mewujudkan kecintaan mereka kepada Rasulullah justru dengan cara yang menyimpang dan keluar dari syariat meskipun dengan alasan sebagai bukti kecintaan mereka yang sejati kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam. Sesungguhnya barang siapa mengada-adakan perkara yang baru dalam perkara agama yang tidak ada contoh dan dalilnya. Kita diperintahkan untuk ittiba’ (mengikuti) dan kita dilarang untuk ibtida’ (berbuat bid’ah). Dalilnya adalah riwayat Al-Bukhori dan Muslim dari haditsnya Aisyah Radiallahu ‘Anha berkata Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : ”Barangsiapa yang berbuat perkara yang baru dalam urusan kami (agama) yang tidak ada perintahnya maka tertolak”.
Peringatan maulid nabi tidaklah disyariatkan dan tidaklah dikenal di kalangan shalafush shalih Rahimahullahu Ta’ala. Mereka tidak pernah melakukannya meskipun ada sebab yang mengharuskannya serta tidak ada penghalang yang menghalanginya. Dan seandainya hal itu adalah baik pastilah para salaf terlebih dahulu melakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang melakukan peringatan maulid tidak lain hanyalah bertujuan untuk mengagungkan Rasulullah, menampakkan kecintaan kepada beliau akan tetapi mereka bersikap ghuluw (berlebihan) terhadap Rasulullah sampai mereka menjadikan beliau lebih agung dari Allah Ta’ala. Wal’iyaadzubillah.
Bid’ah maulid nabi pertama kalinya dilakukan oleh Abu Sa’id Kaukaabuury bin Abil Hasan ‘Ali bin Baatikiin pada abad ke enam hijriyah dan para ulama terus menerus melarang peringatan maulid tersebut serta terus mengingkari perbuatan yang terjadi dari perbuatan bid’ah dan hal-hal yang diharamkan sejak pertama kali terjadi sampai saat sekarang ini. Peringatan maulid Nabi tidak pernah di ajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka jelaslah bahwa ini adalah perbuatan bid’ah yang diharamkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata peringatan maulid serta menjadikannya sebagai sebuah bentuk ibadah, maka tidak diragukan lagi oleh para ulama sebagai perbuatan munkar yang dilarang, dan tidak ada yang menyukainya kecuali orang-orang yang jahil (bodoh) atau orang zindiq (yang berpura-pura beriman). Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ketika ditanya tentang hukum peringatan maulid nabi beliau menjawab bahwa peringatan maulid Nabi merupakan perbuatan bid’ah dalam urusan agama. Juga karena Rasul tidak pernah melakukannnya, demikian para khulafa’ur rasyidin dan para shahabat beliau yang lainnya demikian juga para tabi’in yang hidup di masa generasi yang utama. Mereka semua adalah manusi yang paling paham terhadap sunnahserta paling sempurna kecintaan mereka terhadap Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassalam dan paling ittiba’ terhadap syariat beliau daripada orang-orang setelah mereka.
Beliau Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda “Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan dengan sunnah para khulafaaur rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku,berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah dari kalian segala perbatan yang baru dalam urusan agama. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Dawud).
Firman Allah Ta’ala “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr:7). Allah Ta’ala berfirman “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu menjadi agama bagimu” (QS.Al-Maidah:3). Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya untuk seluruh hamba-Nya serta menyempurnakan nikmat-Nya dan dengan mengadakan acara-acara peringatan maulid ini diartikan bahwa Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama-Nya untuk seluruh umat. Dan juga bahwa Rasul tidak menyampaikan perkara yang wajib dilaksanakan oleh umat semua, sehingga datang orang-orang yang hidup setelah beliau yang mengadakan perkara baru dalam syariat Allah Ta’ala yang tidak pernah diizinkan-Nya dengan anggapan bahwa acara tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Hal itu tidak diragukan lagi sebagai perkara yang sangat berbahaya serta termasuk sikap berpaling dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kaum seluruh muslimin dan semoga Allah Ta’ala menghilangkan semua kefanatikan yang buta dari dalam hati dan dada kaum muslimin serta menjauhkan diri mereka dari hawa nafsu yang menyeret kepada kesesatan dan kebinasaan untuk kemudian kembali kepada ajaran Allah Ta’ala dan Rasul-Nya yang benar dengan harapan pula agar perwujudan rasa cinta kepada kaum muslimin kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam benar sesuai dengan syariat beliau (Kutipan singkat dari buku “Peringatan Maulid Bid’ah Atau Sunnah?” penulis Dakhilullah bin Bakhiit Al-Matharafy penerbit Pustaka At-Tibyan Solo)
Tweet







Sungguh buku “Peringatan Maulid Bid’ah Atau Sunnah?” yang ditulis oleh beliau Dakhilullah bin Bakhiit Al-Matharafy, adalah karya yang perlu untuk dikaji oleh ummat islam sekarang ini. Terlebih di solo dengan adanya bulan Maulid (Rabi’ul awwal) banyak kegiatan atau perayaan maulid seperti “Jamuro” ataupun “Jamuri” yang mana peringatan maulid Nabi tidak pernah di ajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Semoga buku ini bisa mencerahkan ummat Islam dari perkara bid’ah.
terimakasih atas postingannya, boleh nggak ini saya copipas? untuk teman2 saya dikampus
Artikel yang sangat menarik..
di tengah kebanyakan kaum muslimin yang terjebak dalam bid’ah maulid artikel ini hadir laksana cahaya yang semoga dapat menerangi dan membuka mata hati para pelaku bid’ah ini untuk kembali kejalan yang benar sesuai dengan ajaran, tuntunan dan sunnah Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam serta pemahaman Shalafush sholih Rahimahullahu Ta’ala ajma’in
Setelah membaca artikel ini sungguh sangat menambah pemahaman saya tentang perayaan maulid dimana sebagian besar kaum muslimin terjebak dalam perayaan tersebut. Hanya satu kata yang terlintas dalam pikiran saya ketika membaca artikel ini “Dimana saya dpt mendapatkan buku yang mengupas tuntas tentang perayaan maulid ini” ??????
buku kecil yang sangaats besaaaarss manfaatnya…!
Mau baca tapi males bagaimana ne…
Akhirnya peringatan maulid itu sunnah atau bid’ah….
jelasin dunk… saya tunggu postingan selanjutnya….
eh btw bukunya kecil pa besar? kalo kecil boleh nih, mau beli ke siapa? ada no. hp?
Maulid, sebuah tradisi yang telah mendarah daging dalam diri umat Islam. Tradisi yang hampir setiap tahun pasti dirayakan oleh sebagian umat Islam yang mereka berdalih sebagai wujud cinta mereka kepada Rasulullah saw. Namun dibalik itu mereka melupakan sunnah-sunnah Rasulullah saw dalam keseharian mereka. Apakah seperti ini yang dinamakan cinta kepada Rasulullah? Semoga dengan membaca artikel dan buku ini mampu membedakan antara yang haq dan yang batil… Syukron atas info bukunya, semoga bermanfaat bagi umat Islam.
andai semua orang tahu pasti cahaya sunnah akan semakin berkilau karena cinta rasul yang sesungguhnya adalah dengan menjaga sunnah2 nya…syukron atas postingannya
Saudaraku Abu Samhan,
Pertanyaan Saudara, “Bagaimana dengan tradisi ulang tahun anak kita? syukuran perusahaan kita? Giliran untuk ulang tahun anak, kkita ga bilang bid’ah, tapi giliran ulang tahun Rasulullah dibilang bid’ah gitu???” benarkah ulang tahun tidak bid’ah?”.
Untuk jawaban dari pertanyaan tersebut dan sebagai salah satu referensi buat Anda berikut kami nukilkan Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin yang hampir sama dengan pertanyaan Saudara tadi, semoga bermanfaat.
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?
Jawaban.
Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:
“Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.
Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.
Pertama.
Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.
Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”.?
Kedua.
Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.
Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.
Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh”. [Al-A'raf : 182-183]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan”. [Ali-Imran : 178]
[Fatawa Manarul Islam 1/43]
[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim]