Shalat Sunnah Rawatib

Shalat Sunnah Rawatib sepintas nampak seperti hal yang lumrah. Namun banyak dari kita yang tidak mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat sunnah ini kecuali ketika beliau dalam perjalanan. Kalaupun tertinggal karena lupa, sakit atau tertidur, beliau mengqadha’nya. Dari sini dapat kita simpulkan betapa pentingnya kedudukan shalat sunnah rawatib ini disamping shalat-shalat fardlu. Adapun Keistimewaan shalat sunnah rawatib adalah merupakan penambal kekurangan dan kesalahan seseorang ketika melaksanakan shalat fardlu. Karena manusia tidak terlepas dari kesalahan, maka ia membutuhkan sesuatu yang dapat menutupi kesalahannya tersebut.

Dalam pembahasan yang lalu telah kita ketahui banyak sekali keutamaan-keutamaan shalat sunnah. Untuk kesempatan kali ini kita akan mengulas sedikit tentang keutamaan-keutamaan shalat sunnah rawatib yang tentunya masih dikutib dari buku “Himpunan dan Tata Cara Shalat Sunnah” karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani yang diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan.

Dari Ummu Habibah -Radhiyallahu ‘anha-, Istri Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ

“Setiap hamba muslim yang shalat sunnah setiap harinya duabelas rakaat, selain shalat wajib, pasti Allah bangunkan untuknya rumah di dalam surga, atau dibangunkan untuknya satu rumah di dalam surga.” (Kemudian) Ummu Habibah -Radhiyallahu ‘anha- berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” (HR. Muslim, no. 728).

Secara terperinci shalat-shalat sunnah rawatib tersebut adalah:

a. 2 rakaat sebelum Shubuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

b. 2 rakaat sebelum Zhuhur, dan bisa juga 4 rakaat.

c. 2 rakaat setelah Zhuhur

d. 4 rakaat sebelum Ashar

e. 2 rakaat setelah Jum’at.

f. 2 rakaat setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

g. 2 rakaat setelah Isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan shalat-shalat sunnah rawatib antara lain:

1. Hadits Ummu Habibah -Radhiyallahu ‘anha-, “Aku pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Barangsiapa menjaga empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudah Zhuhur, akan Allah haramkan dirinya dari Neraka.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (VI/326))

2. Hadits Ibnu Umar -Radhiyallahu ‘anhuma-, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Semoga Allah memberi rahmat kepada seseorang yang shalat sunnah sebelum Ashar empat rakaat.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (II/117).

3. Diriwayatkan dari ‘Aisyah -Radhiyallahu ‘anha- dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda:

“Dua rakaat sunnah Fajar (Shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab: Dianjurkanya shalat dua rakaat sebelum Shubuh, no. 725).

FAIDAH SHALAT SUNNAH RAWATIB

shalat sunnah Rawatib ini didefinisikan dengan shalat yang terus dilakukan secara kontinyu mendampingi shalat fardhu. Demikian Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin memberikan definisinya, sehingga berkaitan dengan faidah shalat sunnah Rawatib ini, beliau memberikan penjelasan: “Faidah Rawatib ini, ialah menutupi (melengkapi) kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu”.[19]

Sedangkan Syaikh ‘Abdullah Al-Basam mengatakan dalam Ta’udhihul Ahkam (II/383-384) bahwa shalat sunnah Rawatib memiliki manfaat yang agung dan keuntungan yang besar. Yaitu berupa tambahan kebaikan, menghapus kejelekan, meninggikan derajat, menutupi kekurangan dalam shalat fardhu. Sehingga Syaikh al-Basam mengingatkan, menjadi keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan menjaga kesinambungannya.

admin posted at 2010-2-24 Category: Mimbar Ilmu

14 Responses Leave a comment

  1. #1Edho @ 2010-2-24 23:18

    Alhamdulillah,syukron atas kiriman link artikelnya,karna dg artikel ini telah mengingatkan ana akan pentingnya sholat rawatib,tapi yang ana tanyakan,mengenai sholat rawatib sebelum zuhur dan asyar yg 4 raka’at dilakukan dg 1 kali tahyat 1 salam, 2 kali tahyat ,1 salam, atau 2 kali tahyat 2 salam? Mohon penjelasannya,dan kalau bisa direply ke e-mail ana,jazakallahu khairon. . . . . :-)

  2. #2Akhi Abdul @ 2010-2-25 07:32

    Alhamdulillah, jazakumullah ya akhi atas artikelnya … semoga dapat memberi manfaat bagi diri ana dan juga bagi siapa saja yang membacanya

  3. #3beny @ 2010-2-25 07:48

    Assalamualaikum wr.wb…..

    ya saudaraku an-naba,,,
    tulisan antum sangat bagus sekali dan komplit beserta dalil yang dipaki ana pernah kuatkan hati buat kerjakan semua ini, bahkan sunahnya d kerjakan di rumah pula tentu akan lebih afdol.

    ya akhi………
    penerbit buku yang di pakai referensi memang bagus , bila baca buku terbitan at-tibyan ana percaya karena isinya bagus dan beberapa ana punya juga dari penerbit tersebut. tapi ad asatu yang belum ana paham dari artikelnya, bagaimana caranya mengqodho sholat sunah rowatib bukan kah sholat ini selalu mengikuti sholat fardhu,,

    Afwan

  4. #4Nurhuda Ayub @ 2010-2-25 08:23

    subhanallah..banyaknya fadhilat solat sunat rawatib tetapi ramai dalam kalangan kita yang tidak mengetahui hakikat ini..terima kasih ya atas perkongsian ini,amat bermakna buat saya.

  5. #5Abu FAiz @ 2010-2-25 08:58

    Syukron. Smg bs Alloh berikan Istiqomah tuk melaksanaknnya…

  6. admin @ 2010-2-25 11:39

    Mengenai shalat 4 rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur maupun 4 rakaat sebelum Asar ada dua pendapat di kalangan para ulama:
    1. Dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, yakni salam setiap dua rakaat. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar secara marfu’:
    صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى
    “Shalat malam dan siang itu dua-dua rakaat.” (HR. An-Nasai: 3/227 dan Ibnu Majah no. 1322)
    2. Dikerjakan dengan dua kali tasyahud tapi satu kali salam seperti shalat wajib yang empat rakaat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
    Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits yang menerangkan shalat rawatib empat rakaat merupakan pengkhusus dari hadits Ibnu Umar. Mereka juga berdalilkan dengan sebuah riwayat An-Nasai tentang shalat sunnah 4 rakaat sebelum ashar, “Dan beliau salam pada rakaat yang terakhir (keempat).” Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 237.
    Dalam Bughyah Al-Mutathawwi’ Asy-Syaikh Muhammad Bazmul menguatkan pendapat mayoritas ulama, yang menyatakan bahwa shalat sunnah empat rakaat dikerjakan dengan dua kali tasyahud dan sekali salam, seperti shalat wajib yang empat rakaat.
    Wallahu a’lam.

  7. admin @ 2010-2-25 13:17

    Wa’alaikumsalam wr. wb.
    syukron y akhuna karim…semoga kita senantiasa diberikan keistiqamahan Allah untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. amiin.
    akhi, jazakumullah khairan atas kepercayaan antum kepada penerbit kami. Kami mengharapkan doa dari pembaca sekalian untuk keistiqamahan diri ini dalam menyebarkan dakwah Islamiyah ini.
    Masih dari buku yang sama kami kutipkan tentang mengqadha shalat Rawatib:
    Telah diriwayatkan dengan shahih dari Aisyah -Radhiyallahu ‘anha- bahwa Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa sallam- biasanya bila tidak sempat melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum Dzuhur, beliau melakukannya sesudah Dzuhur. (HR. At-Tirmidzi dalam kitab Ash-Shalah, bab: Riwayat tentang Dua Rakaat Sesudah Dzuhur, no. 426)
    Diriwayatkan juga dengan shahih dari Abu Hurairah -Radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
    “Barangsiapa yang belum sempat shalat dua rakaat sunnah Shubuh, hendaknya ia shalat setelah terbit matahari.” (HR. Ibnu Majah, no. 1155. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Inbu Majah, I/90)
    Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani pernah bertanya kepada Syaikh bin Baaz -Rahimahullah-, “Apakah shalat-shalat Rawatib dapat diqadha’?” Beliau menjelaskan bahwa shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib. Adapun perbuatan Nabi yang mengqadha shalat sunnah Dzuhur, itu adalah kekhususan beliau.” (Lihat catatan kaki Zadul Ma’ad, I/38).
    Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani berkata, “Dikecualikanshalat yang ada berdasarkan riwayat shahih tentang shalat rawatib sebelum Zhuhur yang diqadha oleh Nabi sesudahnya, dan juga shalat rawatib sebelum Shubuh yang diqadha sesudahnya, atau bahkan setelah matahari terbit atau setelah matahari meninggi, serta qadha shalat Witir menjadi genap pada siang harinya, bagi orang yang kelupaan atau ketiduran sehingga tidak sempat mengerjakannya (maka hendaknya ia mengqadha shalat-shalat tersebut). Demikianlah fatwa yang beliau keluarkan hingga beliau wafat.”
    Wallahu a’lam bishawab

  8. #6Fastiar Budi @ 2010-2-25 14:07

    Insyaallah, ana akan selalu mengerjakannya.

  9. #7Andina Arfian @ 2010-2-25 15:24

    Alhamdulillah…
    Jazakumullahu khoyron sdh dikirimi artikel ini…semoga Allah memudahkan kita utk melaksanakan perkara2 sunah dan tidak menyepelekannya.

    Ana belum mengerti tentang “shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib”. mohon dijelaskan agar ana bisa lebih memahami dan mengerti -)dan bagaimana caranya meng-qadha sholat sunnah rawatib? misal kita lupa atau terlewat shalat sunnah sblm ashar maka di waktu kapan kita meng-qadhanya? Ana juga ingin bertanya bagaimana pelaksanaan sholat sunnah sebelum subuh (krn disunnahkan dikerjakan dirumah), sedang kita (laki2) wajib utk sholat jama’ah shubuh di masjid? Untuk sholat wajib tidak ada qadha? Jazakumullahu khoyron…

  10. #8abu sofwan @ 2010-2-25 20:43

    jazakumullahu khoiron artikelnya, mudahan menjadi amal baik kita yang tiada terputus. amiin

  11. admin @ 2010-2-26 11:20

    bismillah…
    Untuk “shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib”, kami belum mendapatkan penjelasannya, baik dari buku tersebut maupun dari buku yang lain.
    Diperbolehkan untuk mengqadha shalat sunnat rawatib apabila tidak sempat untuk melaksanakannya pada waktunya, adapun shalat Rawatib yang kami dapatkan adalah yang sesuai dengan hadits Rasulullah yang telah disebutkan di atas. Mengenai pelaksanaan shalat sunnah qabliyah Asar, kami belum menemukan hadits dari Rasulullah SAW. Shalat Sunnah di sunnahkan untuk dikerjakan di rumah dan itu yang lebih afdhal, untuk Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh bisa kita lihat jarak rumah kita dengan masjid, bila memungkinkan untuk dikerjakan di rumah dan sekiranya tidak akan ketinggalan shalat Fardhu maka sebaiknya dikerjakan di rumah, namun bila khawatir akan tertinggal shalat Fardhu Shubuh maka shalat sunnah dikerjakan di masjid tidak mengapa. Wallahu a’lam bish shawab.

  12. #9raikavia @ 2010-7-7 20:22

    assalamu’alaikum wr.wb..
    bismillah..
    dalam artikel disebutkan bahwa solat rawatib dapat melengkapi/menutupi kekurangan solat fardhu. Kekurangan seperti apakah yang dimaksud?

    Terkadang saya sering ragu apakah saya batal dalam solat atau tidak. karena itu saya mengulangi solat saya. Nah apakah keraguan saya tersebut dapat dilengkapi dengan solat rawatib?

    Mohon penjelasannya dan kalau bisa dikirim ke e-mail saya. Jazakumullah khairan..

  13. admin @ 2010-7-15 13:21

    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb ‘Azza wa jalla berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)?” Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian” [HR At-Tirmidzi].

    Dari hadits tersebut, menjadi jelaslah betapa shalat sunnah Rawâtib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan yang melanda shalat wajib seseorang. Terlebih lagi harus diakui sangat sulit mendapatkan kesempurnaan tersebut, sehingga Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sesungguhnya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh shalat, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya sepertiganya, setengahnya” [HR Abu Dawud dan Ahmad].

  14. #10nurdin @ 2010-10-18 14:15

    apakah benar rasulullah selalu mengerjakan shalat ba’diyah ashar dirumah aisyah ra.

Leave a Reply

(Ctrl + Enter)