<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Shalat Sunnah Rawatib</title>
	<atom:link href="http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/</link>
	<description>Penerbit Buku Islami &#124; Terdepan Dalam Kualitas</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 06:39:39 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: nurdin</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-3904</link>
		<dc:creator>nurdin</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 07:15:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-3904</guid>
		<description>apakah benar rasulullah selalu mengerjakan shalat ba&#039;diyah ashar dirumah aisyah ra.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>apakah benar rasulullah selalu mengerjakan shalat ba&#8217;diyah ashar dirumah aisyah ra.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-2674</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 06:21:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-2674</guid>
		<description>Rasulullah shollallahu &#039;alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb &#039;Azza wa jalla berfirman: &quot;Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu&#039; (shalat sunnah)?&quot; Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian” [HR At-Tirmidzi].

Dari hadits tersebut, menjadi jelaslah betapa shalat sunnah Rawâtib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan yang melanda shalat wajib seseorang. Terlebih lagi harus diakui sangat sulit mendapatkan kesempurnaan tersebut, sehingga Rasulullah shollallahu &#039;alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh shalat, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya sepertiganya, setengahnya” [HR Abu Dawud dan Ahmad].</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb &#8216;Azza wa jalla berfirman: &#8220;Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu&#8217; (shalat sunnah)?&#8221; Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian” [HR At-Tirmidzi].</p>
<p>Dari hadits tersebut, menjadi jelaslah betapa shalat sunnah Rawâtib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan yang melanda shalat wajib seseorang. Terlebih lagi harus diakui sangat sulit mendapatkan kesempurnaan tersebut, sehingga Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh shalat, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya sepertiganya, setengahnya” [HR Abu Dawud dan Ahmad].</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: raikavia</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-2488</link>
		<dc:creator>raikavia</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 13:22:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-2488</guid>
		<description>assalamu&#039;alaikum wr.wb..
bismillah..
dalam artikel disebutkan bahwa solat rawatib dapat melengkapi/menutupi kekurangan solat fardhu. Kekurangan seperti apakah yang dimaksud? 

Terkadang saya sering ragu apakah saya batal dalam solat atau tidak. karena itu saya mengulangi solat saya. Nah apakah keraguan saya tersebut dapat dilengkapi dengan solat rawatib?

Mohon penjelasannya dan kalau bisa dikirim ke e-mail saya. Jazakumullah khairan..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamu&#8217;alaikum wr.wb..<br />
bismillah..<br />
dalam artikel disebutkan bahwa solat rawatib dapat melengkapi/menutupi kekurangan solat fardhu. Kekurangan seperti apakah yang dimaksud? </p>
<p>Terkadang saya sering ragu apakah saya batal dalam solat atau tidak. karena itu saya mengulangi solat saya. Nah apakah keraguan saya tersebut dapat dilengkapi dengan solat rawatib?</p>
<p>Mohon penjelasannya dan kalau bisa dikirim ke e-mail saya. Jazakumullah khairan..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-1335</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 04:20:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-1335</guid>
		<description>bismillah...
Untuk “shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib”, kami belum mendapatkan penjelasannya, baik dari buku tersebut maupun dari buku yang lain. 
Diperbolehkan untuk mengqadha shalat sunnat rawatib apabila tidak sempat untuk melaksanakannya pada waktunya, adapun shalat Rawatib yang kami dapatkan adalah yang sesuai dengan hadits Rasulullah yang telah disebutkan di atas. Mengenai pelaksanaan shalat sunnah qabliyah Asar, kami belum menemukan hadits dari Rasulullah SAW. Shalat Sunnah di sunnahkan untuk dikerjakan di rumah dan itu yang lebih afdhal, untuk Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh bisa kita lihat jarak rumah kita dengan masjid, bila memungkinkan untuk dikerjakan di rumah dan sekiranya tidak akan ketinggalan shalat Fardhu maka sebaiknya dikerjakan di rumah, namun bila khawatir akan tertinggal shalat Fardhu Shubuh maka shalat sunnah dikerjakan di masjid tidak mengapa. Wallahu a&#039;lam bish shawab.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bismillah&#8230;<br />
Untuk “shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib”, kami belum mendapatkan penjelasannya, baik dari buku tersebut maupun dari buku yang lain.<br />
Diperbolehkan untuk mengqadha shalat sunnat rawatib apabila tidak sempat untuk melaksanakannya pada waktunya, adapun shalat Rawatib yang kami dapatkan adalah yang sesuai dengan hadits Rasulullah yang telah disebutkan di atas. Mengenai pelaksanaan shalat sunnah qabliyah Asar, kami belum menemukan hadits dari Rasulullah SAW. Shalat Sunnah di sunnahkan untuk dikerjakan di rumah dan itu yang lebih afdhal, untuk Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh bisa kita lihat jarak rumah kita dengan masjid, bila memungkinkan untuk dikerjakan di rumah dan sekiranya tidak akan ketinggalan shalat Fardhu maka sebaiknya dikerjakan di rumah, namun bila khawatir akan tertinggal shalat Fardhu Shubuh maka shalat sunnah dikerjakan di masjid tidak mengapa. Wallahu a&#8217;lam bish shawab.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abu sofwan</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-1325</link>
		<dc:creator>abu sofwan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 13:43:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-1325</guid>
		<description>jazakumullahu khoiron artikelnya, mudahan menjadi amal baik kita yang tiada terputus. amiin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jazakumullahu khoiron artikelnya, mudahan menjadi amal baik kita yang tiada terputus. amiin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Andina Arfian</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-1321</link>
		<dc:creator>Andina Arfian</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 08:24:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-1321</guid>
		<description>Alhamdulillah...
Jazakumullahu khoyron sdh dikirimi artikel ini...semoga Allah memudahkan kita utk melaksanakan perkara2 sunah dan tidak menyepelekannya. 

Ana belum mengerti tentang &quot;shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib&quot;. mohon dijelaskan agar ana bisa lebih memahami dan mengerti -)dan bagaimana caranya meng-qadha sholat sunnah rawatib? misal kita lupa atau terlewat shalat sunnah sblm ashar maka di waktu kapan kita meng-qadhanya? Ana juga ingin bertanya bagaimana pelaksanaan sholat sunnah sebelum subuh (krn disunnahkan dikerjakan dirumah), sedang kita (laki2) wajib utk sholat jama&#039;ah shubuh di masjid? Untuk sholat wajib tidak ada qadha? Jazakumullahu khoyron...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah&#8230;<br />
Jazakumullahu khoyron sdh dikirimi artikel ini&#8230;semoga Allah memudahkan kita utk melaksanakan perkara2 sunah dan tidak menyepelekannya. </p>
<p>Ana belum mengerti tentang &#8220;shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib&#8221;. mohon dijelaskan agar ana bisa lebih memahami dan mengerti -)dan bagaimana caranya meng-qadha sholat sunnah rawatib? misal kita lupa atau terlewat shalat sunnah sblm ashar maka di waktu kapan kita meng-qadhanya? Ana juga ingin bertanya bagaimana pelaksanaan sholat sunnah sebelum subuh (krn disunnahkan dikerjakan dirumah), sedang kita (laki2) wajib utk sholat jama&#8217;ah shubuh di masjid? Untuk sholat wajib tidak ada qadha? Jazakumullahu khoyron&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fastiar Budi</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-1319</link>
		<dc:creator>Fastiar Budi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 07:07:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-1319</guid>
		<description>Insyaallah, ana akan selalu mengerjakannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Insyaallah, ana akan selalu mengerjakannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-1317</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 06:17:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-1317</guid>
		<description>Wa&#039;alaikumsalam wr. wb.
syukron y akhuna karim...semoga kita senantiasa diberikan keistiqamahan Allah untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. amiin.
akhi, jazakumullah khairan atas kepercayaan antum kepada penerbit kami. Kami mengharapkan doa dari pembaca sekalian untuk keistiqamahan diri ini dalam menyebarkan dakwah Islamiyah ini.
Masih dari buku yang sama kami kutipkan tentang mengqadha shalat Rawatib:
Telah diriwayatkan dengan shahih dari Aisyah -Radhiyallahu &#039;anha- bahwa Nabi -Shalallahu &#039;alaihi wa sallam- biasanya bila tidak sempat melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum Dzuhur, beliau melakukannya sesudah Dzuhur. (HR. At-Tirmidzi dalam kitab Ash-Shalah, bab: Riwayat tentang Dua Rakaat Sesudah Dzuhur, no. 426)
Diriwayatkan juga dengan shahih dari Abu Hurairah -Radhiyallahu &#039;anhu- bahwa Nabi -Shalallahu &#039;alaihi wa sallam- bersabda:
&quot;Barangsiapa yang belum sempat shalat dua rakaat sunnah Shubuh, hendaknya ia shalat setelah terbit matahari.&quot; (HR. Ibnu Majah, no. 1155. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Inbu Majah, I/90)
Dr. Sa&#039;id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani pernah bertanya kepada Syaikh bin Baaz -Rahimahullah-, &quot;Apakah shalat-shalat Rawatib dapat diqadha&#039;?&quot; Beliau menjelaskan bahwa shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib. Adapun perbuatan Nabi yang mengqadha shalat sunnah Dzuhur, itu adalah kekhususan beliau.&quot; (Lihat catatan kaki Zadul Ma&#039;ad, I/38).
Dr. Sa&#039;id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani berkata, &quot;Dikecualikanshalat yang ada berdasarkan riwayat shahih tentang shalat rawatib sebelum Zhuhur yang diqadha oleh Nabi sesudahnya, dan juga shalat rawatib sebelum Shubuh yang diqadha sesudahnya, atau bahkan setelah matahari terbit atau setelah matahari meninggi, serta qadha shalat Witir menjadi genap pada siang harinya, bagi orang yang kelupaan atau ketiduran sehingga tidak sempat mengerjakannya (maka hendaknya ia mengqadha shalat-shalat tersebut). Demikianlah fatwa yang beliau keluarkan hingga beliau wafat.&quot;
Wallahu a&#039;lam bishawab</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wa&#8217;alaikumsalam wr. wb.<br />
syukron y akhuna karim&#8230;semoga kita senantiasa diberikan keistiqamahan Allah untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. amiin.<br />
akhi, jazakumullah khairan atas kepercayaan antum kepada penerbit kami. Kami mengharapkan doa dari pembaca sekalian untuk keistiqamahan diri ini dalam menyebarkan dakwah Islamiyah ini.<br />
Masih dari buku yang sama kami kutipkan tentang mengqadha shalat Rawatib:<br />
Telah diriwayatkan dengan shahih dari Aisyah -Radhiyallahu &#8216;anha- bahwa Nabi -Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam- biasanya bila tidak sempat melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum Dzuhur, beliau melakukannya sesudah Dzuhur. (HR. At-Tirmidzi dalam kitab Ash-Shalah, bab: Riwayat tentang Dua Rakaat Sesudah Dzuhur, no. 426)<br />
Diriwayatkan juga dengan shahih dari Abu Hurairah -Radhiyallahu &#8216;anhu- bahwa Nabi -Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam- bersabda:<br />
&#8220;Barangsiapa yang belum sempat shalat dua rakaat sunnah Shubuh, hendaknya ia shalat setelah terbit matahari.&#8221; (HR. Ibnu Majah, no. 1155. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Inbu Majah, I/90)<br />
Dr. Sa&#8217;id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani pernah bertanya kepada Syaikh bin Baaz -Rahimahullah-, &#8220;Apakah shalat-shalat Rawatib dapat diqadha&#8217;?&#8221; Beliau menjelaskan bahwa shalat rawatib hanya bisa diqadha bila tertinggal bersama shalat wajib. Adapun perbuatan Nabi yang mengqadha shalat sunnah Dzuhur, itu adalah kekhususan beliau.&#8221; (Lihat catatan kaki Zadul Ma&#8217;ad, I/38).<br />
Dr. Sa&#8217;id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani berkata, &#8220;Dikecualikanshalat yang ada berdasarkan riwayat shahih tentang shalat rawatib sebelum Zhuhur yang diqadha oleh Nabi sesudahnya, dan juga shalat rawatib sebelum Shubuh yang diqadha sesudahnya, atau bahkan setelah matahari terbit atau setelah matahari meninggi, serta qadha shalat Witir menjadi genap pada siang harinya, bagi orang yang kelupaan atau ketiduran sehingga tidak sempat mengerjakannya (maka hendaknya ia mengqadha shalat-shalat tersebut). Demikianlah fatwa yang beliau keluarkan hingga beliau wafat.&#8221;<br />
Wallahu a&#8217;lam bishawab</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: admin</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-1316</link>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 04:39:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-1316</guid>
		<description>Mengenai shalat 4 rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur maupun 4 rakaat sebelum Asar ada dua pendapat di kalangan para ulama:
1.	Dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, yakni salam setiap dua rakaat. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar secara marfu’:
صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى
“Shalat malam dan siang itu dua-dua rakaat.” (HR. An-Nasai: 3/227 dan Ibnu Majah no. 1322)
2.	Dikerjakan dengan dua kali tasyahud tapi satu kali salam seperti shalat wajib yang empat rakaat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits yang menerangkan shalat rawatib empat rakaat merupakan pengkhusus dari hadits Ibnu Umar. Mereka juga berdalilkan dengan sebuah riwayat An-Nasai tentang shalat sunnah 4 rakaat sebelum ashar, “Dan beliau salam pada rakaat yang terakhir (keempat).” Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 237.
Dalam Bughyah Al-Mutathawwi’ Asy-Syaikh Muhammad Bazmul menguatkan pendapat mayoritas ulama, yang menyatakan bahwa shalat sunnah empat rakaat dikerjakan dengan dua kali tasyahud dan sekali salam, seperti shalat wajib yang empat rakaat.
Wallahu a’lam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mengenai shalat 4 rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur maupun 4 rakaat sebelum Asar ada dua pendapat di kalangan para ulama:<br />
1.	Dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, yakni salam setiap dua rakaat. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar secara marfu’:<br />
صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى<br />
“Shalat malam dan siang itu dua-dua rakaat.” (HR. An-Nasai: 3/227 dan Ibnu Majah no. 1322)<br />
2.	Dikerjakan dengan dua kali tasyahud tapi satu kali salam seperti shalat wajib yang empat rakaat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.<br />
Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits yang menerangkan shalat rawatib empat rakaat merupakan pengkhusus dari hadits Ibnu Umar. Mereka juga berdalilkan dengan sebuah riwayat An-Nasai tentang shalat sunnah 4 rakaat sebelum ashar, “Dan beliau salam pada rakaat yang terakhir (keempat).” Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 237.<br />
Dalam Bughyah Al-Mutathawwi’ Asy-Syaikh Muhammad Bazmul menguatkan pendapat mayoritas ulama, yang menyatakan bahwa shalat sunnah empat rakaat dikerjakan dengan dua kali tasyahud dan sekali salam, seperti shalat wajib yang empat rakaat.<br />
Wallahu a’lam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abu FAiz</title>
		<link>http://an-naba.com/shalat-sunnah-rawatib/comment-page-1/#comment-1312</link>
		<dc:creator>Abu FAiz</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 01:58:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://an-naba.com/?p=1003#comment-1312</guid>
		<description>Syukron. Smg bs Alloh berikan Istiqomah tuk melaksanaknnya...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Syukron. Smg bs Alloh berikan Istiqomah tuk melaksanaknnya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

