VISI MISI HIDUP SEORANG MUSLIM

VISI DAN MISI HIDUP SEORANG MUSLIM

DEFINISI SUSKES

Sukses adalah dambaan dan harapan setiap manusia baik muslim maupun kafir. Adapun pemahaman tentang kesuskesan bagi setiap manusia akan berbeda-beda tergantung dari sudut pandang masing-masing. Adakalanya kesuksesan itu diukur dengan banyaknya harta benda, kekuasaan, prestasi pendidikan atau posisi jabatan dan lain sebagainya.

Adapun puncak segala puncak kesuksesan seorang hamba di sisi Allah Ta’ala adalah menjadi orang yang paling bertaqwa di sisi Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat : 13;

Artinya: ”Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Alloh Ta’ala adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.”

QS. Al-Baqaroh: 5;

Artinya: “Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Rabb-nya dan mereka tergolong ke dalam orang-orang yang sukses (menang).”

Para ulama rahimahullah telah mejelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mendenifisikan : “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan” [Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an, hal 531]

Sedangkan Imam An-Nawawi mendenifisikan taqwa dengan “Menta’ati perintah dan laranganNya”. Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala [Tahriru AlFazhil Tanbih, hal 322]. Hal itu sebagaimana didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani “ Taqwa yaitu menjaga diri dari siksa Allah dengan menta’atiNya. Yakni menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya” [Kitabut Ta’rifat, hl.68]

Kesimpulan orang bertaqwa adalah orang yang menjaga jiwanya dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan.

Karena menjadi orang bertaqwa di sisi Allah merupakan kesuksesan tertinggi dari seorang hamba, maka layak jika berupaya menjadi orang yang paling bertaqwa di sisi Allah Ta’ala menjadi VISI hidup seorang muslim.

MISI DALAM MENCAPAI DERAJAT KETAQWAAN YANG TERTINGGI

Sebuah VISI (cita-cita) tidak akan pernah tercapai dengan sempurna jika tidak dibarengi dengan usaha atau tindakan-tindakan yang nyata untuk meraihnya. Boleh jadi sebuah VISI tanpa kekuatan MISI akan menjadi angan-angan kosong belaka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan bahwa MISI hidup seorang muslim untuk meraih derajat ketaqwaan yakni tergambar dalam firman-Nya Surah Al-Fatihah ayat 1 sampai dengan ayat 7. Ketujuh ayat tersebut jika terimplementasi dengan sempurna pada diri seorang muslim mudah-mudahan akan menjadi sebuah karakter seorang muslim yang rabbani.

Disinilah letak keistimewaan Surah Al-Fatihah yang diturunkan hanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam sebagai salah satu bentuk kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dan umat akhir zaman dan belum pernah diturunkan kepada Nabi dan Rasul sebelumnya, baik dalam Kitab Zabur, Taurat atau Injil. Bentuk kemuliaan lainnya yakni dijadikannya Surat Al-Fatihah menjadi bacaan yang wajib dibaca sebagai syarat sahnya sholat. Dan karena agungnya kandungan isi surat Al-Fatihah tersebut maka Allah Ta’ala menjadikan bacaan yang berulang-ulang pada setiap rekaat sholat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mentaqdirkan bahwa surat Al-Fatihah dibagi menjadi 2 bagian yakni bagian pertama untuk pujian bagi Allah dan bagian kedua untuk hamba-Nya.

Surat Al-Fatihah Ayat 1 sebagai MISI yang pertama :

BISMILLAHIRROHMAANIRROhIIM

Artinya : “Dengan Asma Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.”

Kandungan ayat:

- Perintah untuk beramal sholeh dengan niat ikhlas karena Alloh Ta’ala baik amalan wajib, sunnah maupun mubah

- Memulai semua pekerjaan yang baik dengan mengucapkan “BISMILLAH”

- Menjadikan semua amalan yang mubah agar bernilai di sisi Allah dengan selalu meniatkan untuk bertaqarub kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala

Surat Al-Fatihah Ayat 2-3 sebagai MISI yang kedua :

ALhAMDULILLAHIROBBIL ‘AALAMIIN

Artinya : “Segala Puji bagi Alloh Rabb semesta alam.”

ARROhMAANIRROhIIM

Artinya : “Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.”

Kandungan ayat :

- Pengkhabaran bahwa Dzat yang disembah oleh makhluk mempunyai nama yakni ALLOH, RABB, ROHMAT yang menjadi poros Asma Alloh yang lainnya

- Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memuji diri-Nya dalam Uluhiyyah-Nya, Rububiyyah-Nya dan Rohmat-Nya

- Dalam hal ini hamba-Nya juga diperintah untuk bersyukur kepada Alloh Ta’ala dengan beribadah kepada-Nya karena Alloh adalah satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah

- Hamba-Nya diperintah untuk bersyukur kepada Alloh Ta’ala dengan cara mengagungkan dan memuji nama-nama-Nya Yang Maha Agung baik dengan lisan maupun perbuatan

- Hamba-Nya diperintah untuk bersyukur kepada Alloh Ta’ala dengan cara menyambung silaturahim dan memperbaiki hubungan sesama manusia

- Hamba-Nya diperintah untuk bersyukur kepada Alloh Ta’ala dengan cara tunduk dan taat kepada-Nya, mencintai dan mengakui nikmat-Nya dan menggunakan nikmat-Nya kepada yang Alloh cintai dan ridhoi

- Hamba-Nya diperintah untuk bersyukur kepada Alloh Ta’ala agar selalu ingat kepada-Nya dan jangan melupakan-Nya

- Hamba-Nya diperintah untuk bersyukur kepada Alloh Ta’ala agar berdoa dan bertawakal kepada-Nya saja karena Alloh Ta’ala adalah Rabb yang telah menciptakan hamba dan yang memberi rezeki hamba-Nya

Surat Al-Fatihah Ayat 4 sebagai MISI yang ketiga :

MAALIKI YAUMIDDIN

Artinya : “Yang Menguasai Hari Pembalasan.”

Kandungan ayat:

- Pengkhabaran bahwa Alloh Ta’ala telah menetapkan ‘Hari Perhitungan/ Yaumul Hisab” itu pasti akan terjadi.

- Pengkhabaran bahwa tidak ada satu pun makhluk yang berkuasa di hari itu kecuali hanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala

- Keadilan yang hakiki akan ditegakkan karena sesungguhnya Alloh Ta’ala satu-satunya Dzat Yang Maha Adil

- Peringatan kepada makhluk-Nya bahwa segala nikmat yang telah diterimanya akan dimintai pertanggung-jawabannya

- Peringatan kepada manusia untuk bermuhasabah (introspeksi) terhadap dirinya sebelum hari penghisapan tiba

- Pengkhabaran bahwa setiap usaha makhluk-Nya akan diberi balasan, baik amalan yang buruk maupun amalan yang baik

- Peringatan kepada makhluk-Nya untuk segera mempersiapkan perbekalan di hari yang tidak ada pertolongan kecuali pertolongan dari Alloh ‘Azza wa Jalla

Surat Al-Fatihah Ayat 5 sebagai MISI yang keempat :

IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IIN

Artinya : “Hanya kepada Alloh kami beribadah, dan hanya kepada Alloh kami memohon pertolonganNya.”

Kandungan ayat:

- Pengkhabaran kepada orang beriman bahwa untuk mendapatkan keselamatan di hari penghisapan (perhitungan) yakni dengan melakukan peribadatan kepada-Nya dan memohon pertolongan-Nya

- Perintah kepada orang beriman untuk berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan

- Perintah kepada orang beriman untuk berlepas diri dari menyandarkan kepada usaha dan hanya dengan pertolongan Alloh saja semuanya dapat terwujud

- Perintah kepada orang beriman untuk melakukan ibadah kepada Alloh dengan penuh ketaatan dan ketundukan, mencintai-Nya, dengan rasa takut dan penuh harap kepada-Nya. Dan perintah ini merupakan tujuan awal diciptakan jin dan manusia

- Perintah kepada orang beriman untuk berdoa dan bertawakal hanya kepada Alloh semata

- Pengkhabaran kepada manusia bahwa Alloh mengutus para utusan-Nya ke dunia dari para Nabi dan Rasul untuk mengemban misi ini yakni memberi peringatan, dan menyeru manusia agar beribadah kepada Alloh semata dan bertawakal kepada-Nya

Surat Al-Fatihah Ayat 6 sebagai MISI yang kelima :

IHDINA ASH-SHIRATOL MUSTAQIIM

Artinya : “Berilah kepada kami petunjuk kepada jalan yang lurus”

Kandungan ayat:

- Pengkhabaran kepada makhluknya bahwa jalan lurus yang dapat menghantarkan dengan cepat dan sampai kepada tujuannya yakni ke kampung akherat, hanya ada satu

- Pengkhabaran kepada makhuk-Nya bahwa jalan yang akan menyimpangkan dari tempat tujuannya lebih dari satu yakni banyak jalan

- Pengkhabaran kepada makhluk-Nya bahwa yang mengetahui jalan yang lurus itu hanya Alloh saja

- Perintah kepada orang yang beriman untuk memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk menunjukkan jalan-Nya yang lurus

- Perintah kepada orang beriman untuk memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada hidayah dan kekuatan untuk tetap istiqomah di jalan-Nya yang lurus

Surat Al-Fatihah Ayat 7 sebagai MISI yang keenam :

ASH-SHIRATOL ALLADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM

Artinya : “Yakni jalan lurus yang telah dilalui oleh orang-orang yang telah Alloh anugerahi nikmat kepadanya”

GHAIRIL MAGHDLUB BI’ALAIHIM WAL ADHOLLIIIN

Artinya : “Dan bukan jalannya orang-orang yang telah dimurkai dan disesatkan oleh Alloh Tabaarokta wa Ta’ala”

Kandungan ayat:

- Pengkhabaran kepada makhluknya bahwa jalan lurus itu telah dilalui oleh banyak orang yang telah dianugerahi nikmat oleh Alloh Ta’ala

- Pengkhabaran kepada makhuk-Nya bahwa jalan lurus itu bukan jalannya orang-orang yang telah dilaknat oleh Alloh Ta’ala karena perbuatan mereka yang telah mengetahui kebenaran kemudian menolaknya

- Pengkhabaran kepada makhuk-Nya bahwa jalan lurus itu bukan jalannya orang-orang yang sesat karena kebodohan orang-orang yang memperturutkan hawa-nafsunya

- Perintah kepada orang beriman untuk meneladani dan mengikuti orang-orang yang telah diberi nikmat dan petunjuk oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala yakni para nabi dan rasul Alloh, para syuhada’ dan sholihin.

- Pengkhabaran kepada orang-orang beriman bahwa orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh Ta’ala itu, bukanlah orang-orang yang telah menguasai harta-benda, kerajaan dan kekuasaan. Akan tetapi orang-orang yang diberi nikmat oleh Alloh adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk dan kekuatan untuk beriman, berilmu dan beramal sholeh kemudian bersabar dalam meniti jalan yang Alloh telah tunjukan kepadanya untuk menuju kampung akheratnya yakni Sorga

- Perintah kepada orang beriman untuk membedakan diri dengan orang-orang yang telah dimurkai dan disesatkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala

- Pengkhabaran bahwa orang-orang yang telah dimurkai oleh Alloh Ta’ala yakni berkaitan dengan orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya setelah mereka mendapatkan petunjuk kebenaran. Sebab-sebab mereka dimurkai oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala karena rusaknya niat dan tujuan yakni hasad-dengki kepada orang yang telah Alloh beri nikmat kenabian yang bukan dari golongannya, menyembunyikan kebenaran setelah mereka mengetahuinya, merobah ayat-ayat Alloh agar mendapatkan keridhoan manusia, membunuh para Nabi dan Rasul karena menentang hawa-nafsunya, mempunyai pengetahuan namun tidak diamalkan, memerintahkan manusia berbuat kebaikan namun mereka sendiri tidak mengamalkannya. Mereka ini adalah orang-orang YAHUDI yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.

- Pengkhabaran bahwa orang-orang yang tersesat disebabkan karena kebodohan mereka terhadap kebenaran dan tidak berkeinginan untuk mencarinya. Mereka beramal berdasarkan perasaan dan dzon (duga-duga) dengan meninggalkan petunjuk dari Rabb-nya. Pada dasarnya mereka beramal hanya memperturutkan hawa-nafsunya. Mereka ini adalah orang-orang NASHARA yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.

- Perintah untuk mengikuti manhaj (metode) beragama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya serta berusaha untuk berlepas-diri dan menyelisihi cara beragamanya orang-orang yang dilaknat dan disesatkan oleh Alloh Ta’ala yakni dari kalangan Yahudi dan Nashrani baik dalam aqidah, ibadah dan muamalah.

Wallohu a’lam bishowab.

Di kirim oleh Suranto, Tafsir Surat Al FAtihah di terbitan oleh Pustaka At-Tibyan.

admin posted at 2008-10-24 Category: Info Umum

Leave a Reply

(Ctrl + Enter)